Tentang Universitas Indonesia
![]() |
| The Yellow Jacket |
It's not about the jacket :))
Sedari SMP, saya sudah pengen banget kuliah di sana, di UI. Awalnya saya pengen di HI. Tapi, setelah saya masuk SMA dan sudah sedikit tau apa yang bener-bener saya pengen, saya pindah haluan ke Ilmu Komunikasi. Maka dari itu, untuk menyambut SNMPTN Tulis tahun kemarin, saya belajar setengah hidup -menyusun jadwal, menempel lambang UI besar-besar di kamar untuk motivasi saya belajar, belajar dari pagi sampai larut, gitu terus selama sebulan- demi mendapatkan apa yang saya mau. Ya UI itu.
Ah, dulu UI rasanya memang benar-benar segalanya. Kampus itu, jaket kuning itu, semua tentangnya begitu ... Ah, more than words deh. Sama nggak bisa ngomong apa-apanya ketika kamu ditanya kenapa bisa menyukai seseorang segitunya. Bahkan sampai sekitar tiga bulan yang lalu, saya masih bersikukuh ingin mencoba lagi. Saya daftar SBMPTN, beli tiket keberangkatan ke Jakarta sebulan sebelum tes, dan kembali semangat menyusun jadwal. Tapi ternyata ketika hari H itu tiba, saya malah membatalkan tiket keberangkatan saya, menyisakan satu bangku peserta yang kosong di SMA 54 Jakarta.
Menyesalkah saya? Saya nggak tau. Sampai saat ini, keinginan saya untuk kuliah di sana masih belum hilang. UI masih menjadi universitas yang paling saya sukai. Hihi. Jangan tanya kenapa. Kan sudah saya jelaskan tadi. Meskipun begitu, bukan berarti saya nggak bahagia kuliah di Solo. Saya bahagia kok, sungguh. Kayak kata Rani, teman sekelas saya, waktu setahun memang sudah cukup untuk bisa membuat saya mencintai UNS, FISIP, dan anak-anak Ilmu Komunikasi 2012. Mungkin, belum waktunya aja saya kuliah di sana sekarang-sekarang ini. Belum waktunya jadi adik tingkatnya Gie. Bukankah kita nggak selalu harus mendapatkan apa yang kita mau sekarang juga? Kalem, siji-siji. Hihi.
Well, sampai detik ketika saya menulis sampai di sini, bagi saya, Universitas Indonesia masih sungguh memesona. Tapi ia bukan lagi segalanya. Kuliah di UI, UNS, bahkan 'kuliah' saja, sungguh bukan segalanya. Saya sempat punya pikiran bahwa saya yang mahasiswa ini sebenarnya takut menghadapi realita, dunia yang sesungguhnya. Saya berharap dengan kuliah empat tahun dan sudah punya bekal lebih banyak daripada teman-teman saya yang nggak atau belum kuliah, maka kerjaan akan lebih mudah pula saya dapat. Ah, kalaupun kuliah cuma buat cari kerja dan duit lebih banyak, rasanya percuma saja saya kuliah. Saya rasa, orang-orang yang ditempa oleh hidup paling banyaklah yang bisa memenangkan hidup ini sendiri. Bukan manusia-manusia yang dijejali oleh teori-teori dan tuntutan lebih dari 20 SKS tiap semester -itu kalau IP yang diperoleh lebih dari 3- seperti saya.
Baik, kembali ke topik. Seseorang pernah bilang sama saya kalau saya dan UI itu jodoh. Entah dia benar atau tidak, saya memilih untuk mempercayainya saja. Kalau sudah jodoh sih, mau kemana-mana dulu juga akhirnya pasti ketemu. Jadi, sekarang ini saya akan memanfaatkan waktu-waktu belajar saya di sini dengan baik, berproses sebaik-baiknya, lalu menemukan diri saya lagi.



kak, ada twitter ?
BalasHapusAda, nih: @naimaturr
BalasHapus