Pulang


Halo kamu. Apa kabar? Baikkah? Semoga selalu baik. Rasanya sudah lama sekali saya nggak menulis. Sudah 19 hari berlalu sejak 1 September dan seminggu lagi di akhir Agustus tanpa satupun curhat saya sama kamu. Sebenernya sejak beberapa hari yang lalu saya sudah mau berbagi banyak hal. Tapi, tulisan saya hanya menjadi draf, saya hapus dan saya tulis lagi berulang-ulang tanpa pernah selesai. Semoga tulisan kali ini bisa sampai pada tombol published di kanan atas netbook temen saya ini.
Baiklah. Jadi, minggu-minggu tanpa ada kabar ini saya habiskan dengan nguli di kampus. Berangkat pagi pulang malam mengurus ini itu -entah penting atau tidak, nggak tau deh. Saya sudah lupa ngapain aja-. Yang pasti, kuliah sudah mulai seperti biasa. Saya, tentu saja, nggak betah di kelas seperti selalu. Namun, sebisa mungkin saya merhatiin kuliah dengan baik dan nugas dengan baik pula -saya baru saja menyelesaikan tugas Sosiologi Komunikasi saya: resume delapan halaman. Baruuu saja selesai. Fyi, ini pukul 04.12 pagi-, meskipun sungguh terasa lebih nyesek dengan netbook kesayangan yang koit begitu saja tanpa aba-aba semalam. Ah, memang sungguh berat rasanya kehilangan gadget di zaman begini. Sudah kayak hilang separuh nyawa deh. Tetapi, hidup harus tetap berjalan bukan? Saya harus melanjutkan hidup saya tanpa netbook ungu unyu itu mulai sekarang ... Meskipun semuanya tak akan pernah sama tanpanya ... Yah ... #hening #mendadakhampa #kenapajadinggakjelasgini #kenapaharuspakehastagsegala #ahsudahlah #mblo #eh

Sayangnya banyaknya kegiatan yang saya jalani selama berminggu-minggu ini berbanding terbalik dengan progress upgrading diri yang telah saya bilang awal Agustus lalu. Ucapkan salam kenal pada penebar wacana satu ini -saya-. Rasanya saya jadi semakin melankolis, semau saya sendiri, PHP abis, apatis sama apa yang teman-teman saya lakukan dan telah berhasil mereka raih -Oyon bilang saya iri-, dan semakin jauh dengan penepatan janji-janji yang pernah saya ucapkan. Ah, saya sampah. Saya nyacat orang-orang yang sudah berusaha melakukan sesuatu buat menjadikan diri mereka dan orang lain lebih baik sedangkan pada akhirnya sayalah yang sudah jauh tertinggal. Saya nggak bisa melakukan sesuatu, bahkan untuk satu-satunya hal yang dulu saya pikir tak bisa saya kacaukan: menulis.

Dulu saya menulis dalam nada-nada yang sungguh bahagia. Baiklah, lebih spesifik: alay. Sekarang tampaknya saya jadi sedikit sok serius. Guyonan saya bahkan jadi nggak lucu -padahal dulu juga sama saja nggak lucunya-. Kok rasanya saya jadi menyedihkan begini. Ah, sebenarnya saya tahu apa yang saya inginkan. Saya hanya harus segera mulai! Tapi, sebelum mulai melakukan apapun, saya pengen bilang satu hal: senang bisa pulang.

Komentar

Postingan Populer