Dari Telinga ke Rasa

Seharusnya saat ini saya sedang menyelesaikan poster Creation Festival 2013 yang deadlinenya besok. Tapi, tiba-tiba saja Lost My Piece yang saya dengarkan melalui headset ini membuat saya merasa sepi begitu saja. Sepi yang membuat saya selalu ingin menulis. Mungkin benar kata seseorang pada saya dulu: penulis adalah seseorang yang kesepian. Aduh. Entah darimana dia -yang saya lupa siapa- dapat kata-kata seperti ini. Tapi, saya rasa ada benarnya juga kalimat itu: penulis adalah seseorang yang kesepian, meskipun, tentu, tak selalu begitu.

Saya seringkali merasa kesepian, apalagi saat mendengar lagu instrumental di atas. Saya jadi ingin menangis, tapi air mata ini tak bisa keluar. Ah, nyesek sekali rasanya. Kayak kentut yang ditahan, bikin perut sakit. Baiklah, sekarang ini saya hanya ingin menulis, entah akan bagaimana ujung tulisan ini. Saya selalu kesulitan membuat ending yang bagus, sama sulitnya dengan membuat judul tulisan yang klik.

Sekarang saya sedang mendengarkan Kitto Mata Itsuka-nya Depapepe, membuat saya jadi kangen banyak hal. Bapak, Ibuk, Idan, nenek, dan gunung. Untuk hal yang terakhir, sepanjang semester ini saya sudah merencanakan banyak pendakian bersama orang yang berbeda-beda ke Semeru lagi, Gedhe Pangrango, Merbabu, dan Lawu lagi. Tapi kesemuanya tertunda tanpa kecuali. Hal itu membuat Keling, temen seangkatan saya di Ganesha Pala memanggil saya dengan "tukang bohong" dan PHP. Bilangnya iya melulu di awal, tapi akhirnya nggak jadi ikut. Ah, rasanya saya nggak bisa menjelaskan kondisi fisik dan batin saya saat itu sampai lagi-lagi membatalkan janji yang sudah saya iya-in banget. Hahaha kalau soal naik gunung, kata Mbak Dika, "Pokoknya diiyain aja dulu. Masalah jadi berangkat atau enggak urusan belakangan." Begitulah. Saya ikuti nasehat itu sepenuh hati. Desember nanti rencananya saya mau ke Semeru. Entah ini akan menjadi wacana lagi atau enggak. Well, saya nggak mau menuliskan apa-apa soal ini. Nggak ada semoga-semoga juga. Biarlah Tuhan yang menjawab. Wahahaha apa deh ini.

Kitto Mata Itsuka berganti ke Start. Mendengarkan Start selalu membuat saya semangat kembali. Nada-nadanya menyenangkan -entah bagaimana harusnya saya mendeskripsikannya. Saya seringkali nggak bisa menggunakan kosakata yang tepat untuk sesuatu yang saya rasakan, seperti membedakan mules dan perut kembung-, membuat saya seolah-olah melihat hidup seperti petikan-petikan gitar yang lincah itu. Berganti-ganti dari satu nada ke nada lainnya, masing-masing punya rasa berbeda. Seperti hidup yang banyak liku-liku -hidup penuh liku-liiikuuuu, ada suka ada duuukaaaa #nyanyi-, seperti urip pancen atos kayak senar gitar itu tapi selalu saja bisa menghasilkan nada-nada yang enak didengar telinga kalau tangan kita bisa memetiknya dengan benar. Begitulah.

Sekarang kita sampai di Beethoven. Saya harus melanjutkan pekerjaan saya. Selamat malam kamu :)

Komentar

Postingan Populer