Pulang

Selamat pagi kamu! Kamis ini Solo sendu. Kemarin hujan turun lagi -akhirnya, setelah jeda dengan hujan pertama yang begitu lama-, menyisakan aroma segar menguar dari tanah, rerumputan, dan bunga-bunga pagi ini. Sepertinya, musim hujan sudah resmi dimulai nih. Senangnya! Udah lama nggak ngerasain terjebak hujan di kampus, mengkhawatirkan jemuran di kos, dan jogging sambil hujan-hujanan. Baiklah, saya jadi bahagia tiba-tiba.

Barangkali, kegembiraan saya hari ini nggak cuma karena hujan dan perasaan rindu itu, tapi juga kuliah yang kosong -aku sudah khawatir setengah mati soal presentasi tugas kedua Sosiologi Komunikasi tempo hari- karena dosennya pancen PHP -kayak akyuuu-. Tapi, yang saya rasa paling memengaruhi kegembiraan ini adalah liburan Idul Adha selama empat hari kemarin, dari Sabtu sampai Selasa. Ah, setelah hampir tiga minggu masa-masa krisis -tugas, sakit, tanggung jawab-, akhirnya saya bisa pulang ke rumah, keluar sejenak dari hiruk pikuk hidup di Solo. Saya pulang. Benar-benar-pulang, sampai-sampai saya bete setengah mati sewaktu teman saya nanyain hal yang harusnya saya urus di Solo saja, nggak di rumah. Pokoknya kalo di rumah itu super high quality time dengan bapak, ibu, dan Idan -adik saya-.

Saya menikmati waktu-waktu dengan keluarga sebaik yang saya bisa dari Sabtu sampai Selasa itu. Main dengan adik saya yang masih imut -sekarang dia udah pinter ngomong dan menggoda kakaknya. Dasar (calon) lelaki penggoda-, berbagi gelak tawa dengan ibu saya, dan jadi anak perempuan yang baik buat Bapak, mijitin beliau yang asmanya kambuh lagi (dan lagi). Kalau di rumah, kerjaan saya adalah tidur, main sama adik, dan makan. Hahaha. Ibu masak kolak enak banget kemarin. Saya jarang makan kolak sampai segitu banyaknya kecuali kemarin. Fix gendut lagi setelah berat badan tergerogoti batuk selama dua minggu. Hahaha.

Ah iya. Saya juga bisa ngumpul lagi sama Fida, Anggie, dan Evi di Senin sore. Aku, Anggie, dan Evi main ke rumah Fida di Jetis. Seperti yang sudah-sudah, kalau sudah ngumpul begini agenda kami adalah ngobrol ngalor ngidul tentang segala hal: kuliah, kehidupan di kos, kehidupan mahasiswa kebidanan -dua dari kami kuliah di kebidanan, dua yang lainnya di Komunikasi dan Konseling- konflik batin, dan sebagainya, dan sebagainya. Evi masih bersama dengan pacarnya yang dulu. Anggie juga. Fida, meskipun nggak pacaran, masih berkutat dengan orang yang sama semenjak kelas tiga SMA. Aku? Uhuk. Anggie habis menang kejurnas panahan lagi. Evi mengulang mata kuliah entahlah. Fida udah mau praktik sebulan aja di mana gitu. Dari kami berempat, sepertinya hanya Fida yang sudah kelihatan benar masa depannya. Huahaha. Begitulah. Kami memang jarang sekali SMS-an, apalagi teleponan. Tapi kalau sudah ketemu, begitulah. Jarak dan waktu yang memisahkan jadi tak berarti. Ah, dan mereka menertawakan potongan rambut saya yang baru -mirip batok kelapa tengkurap, tapi membuat saya ganteng-. Pokoknya, ngumpul sama mereka jadi penutup liburan singkat yang sangat menyenangkan bagi saya. Entah kapan, mungkin Desember, kami akan berbagi cerita lagi. Sewaktu pulang ke rumah dari nganterin Evi, sawah-sawah hijau yang membentang di kiri kanan jalan, pegunungan yang mengelilinginya, senja yang cantik, dan jalanan lengang yang semilir membuat kedua ujung bibir saya otomatis tertarik ke atas. Memang benar kata teman saya, ada jutaan alasan untuk bersyukur.

Saya kembali ke Solo hari Rabu pagi, naik bus Gunung Mulia pukul tujuh. Ibu yang mengantar saya ke perhentian bus, memberi saya uang saku untuk sebulan ke depan, lalu berpesan supaya saya berhati-hati. Saya jadi ingat pesan Bapak setiap kali beliau mengantar saya berangkat ke Solo. "Sinau sing tenanan lho ya," Belajar yang sungguh-sungguh, kata beliau sambil kucium tangannya. Perjalanan Purwantoro-Solo itu terasa panjang. Hati saya rusuh antara ingin segera balik ke Solo demi sinyal HSDPA setiap waktu dan masih ingin menghabiskan waktu dengan orang-orang tersayang itu. Yah, tapi apa hendak di kata. Setiap awal pasti menemui akhir. Saya nggak boleh berlama-lama dalam zona nyaman ini. 

Sampai di Solo, saya langsung menuju kampus, ngerjain tugas Metode Penelitian Sosial, lalu kuliah Teori Sosial dan Politik. Yeah, selamat datang kembali kenyataan. Saya kembali berjibaku dengan urusan -yang kata banyak orang- masa depan ini, seolah pikiran-pikiran yang saya tinggal di Solo sewaktu saya pulang dengan semangatnya menghinggapi saya begitu saya sudah di sini. Ah tapi nggak apa-apa. Kali ini saya jauh lebih siap daripada sebelumnya. Saya sudah kembali sehat! Hahahaha. Bekal energi yang saya bawa dari rumah akan cukup untuk menghadapi apapun sampai saya pulang lagi nanti.

Jadi, dari tiga minggu terakhir ini saya belajar satu hal: sediakan waktu untuk istirahat, meskipun hanya untuk bernafas sejenak menghirup udara dengan sepenuh hati :)


PS.
Jalan di depan rumah saya sedang dalam proses diaspal lho! Jadi, buat Faza, Arga, teman-teman Kece, dan siapapun yang pernah melalui jalan makadaman untuk sampai di rumah saya tempo hari, berbahagialah, kalau kalian main ke rumah saya lagi jalannya udah muluuuuuss~

Komentar

Postingan Populer