Tak Bisa Dibeli

Norma dan Mas Fauzi sedang ngobrol tentang wanita. Obrolan dengan penghuni tetap ruangan ini memang selalu panjang dan seru. Aku bisa mendengar tawa pria dengan kaos oblong yang khas dan suara Norma yang cempreng itu dengan jelas dari sampingku. Mas Adi baru saja selesai shalat. Di belakang tempat ia shalat tadi, Haekal dan Mas Danur sedang memetik gitar, menyanyikan sebuah lagu yang tak kukenal, tapi enak didengar. Any yang berada di antara mereka menjadi pendengar dan komentator setia. Di belakang mereka bertiga, tepat di pojok ruangan depan lemari tempat menyimpan inventaris, Saum terlihat sibuk mengurusi perlengkapan yang harus dibawa ke Tawangmangu besok. Ia bersama Puput, Mas Rohmad, Lia, dan Metta, juga Anya. Mas Akbar sedang fokus di depan laptop. Han muncul sebentar, lalu menghilang entah kemana. Mas Rafi datang beberapa saat kemudian dengan kacamata dan kemeja yang sama dengan yang ia pakai tadi siang. Sementara itu, seseorang dengan kemeja orange, rok hitam, dan jilbab senada yang hari ini dikomen, "Kamu kalo pake itu tampak lebih rapi" asyik menekan tuts-tuts keyboard, mengabadikan momen yang selalu membuatnya merasa pulang ketika bersama orang-orang ini.


Grha UKM UNS Lt.2
Sekre LPM Kentingan UNS
Oktober 2013

Komentar

  1. sebenarnya ini postingan lama sekali, dua tahun lalu tapi aku menjadi rindu. tulisan ini memutar sebuah memori dan rasa di kepalaku samar-samar.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer