Palsu
Masa lalu pelan-pelan menghampirinya.
Layar monitor laptop di lantai nyalanya meredup.
Buku-buku diktat kuliah yang berlabel perpustakaan pusat bertebaran di
sekitarnya. Di antara mereka, terselip buku Hujan Bulan Juni yang belum selesai
ia baca. Diraihnya buku itu dengan gerakan malas.
Di salah satu halamannya, Sapardi menulis
bait-bait yang sering dikutip oleh manusia-manusia melankolis yang sedang jatuh
cinta, atau, merasa cintanya begitu tulus:
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api
Yang
menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan
Yang
menjadikannya tiada
Tiba-tiba ia muak. Kamar kos berukuran tiga
kali dua meter itu menyempit setengahnya, bertransformasi menjadi sebuah bilik
dengan sebuah monitor, CPU, dan satu tetikus yang membisu di atas satu meja
kecil. Bilik itu ditempeli kertas berbentuk lingkaran dengan label angka satu
di atasnya.
Di dalam bilik itu ada sepasang manusia
dengan seragam SMA yang masih melekat di tubuh keduanya. Si monitor cemburu
karena sepasang kekasih itu asyik
sendiri, saling menempel, mencium, sampai-sampai kau tak tahu lagi tangan siapa
yang mana. Sambil memegangi kedua buah dada si gadis, lelaki ingusan itu
membisikkan sesuatu di telinganya, “I
love you ...”
Gadis itu berpandangan dengan monitor di hadapannya.
Dengan murka yang tiba-tiba ada, ia kembali ke kamar berukuran tiga kali
dua meter tempatnya semula. I love you?
Cih. Omong kosong. Omong kosong semua tentang cinta itu. Soe benar. Cinta itu
nafsu. Cinta itu tak ada. Yang ada hanyalah nafsu. Titik.
Ia pun merasa bodoh. Bodoh
sebodoh-bodohnya. Mengapa dulu ia begitu percaya pada lelaki bangsat itu?
“Brengsek ....” Umpatnya pada bantal. Ternyata semua itu hanya soal kebebasan
menikmati tubuhnya saja. Omong kosong soal janji-janji itu. Omong kosong
semuanya! Brengsek. Brengsek! Kalau
sudah begini, siapa yang rugi? Siapa yang masih menangis menyesali diri?
Sedangkan Si Brengsek itu bahkan tak pernah mau berkaca, dan kini ia (pura-pura)
jadi pemuja Tuhan. Dasar penjilat. Tak tahu malu.
Lalu hujan pun turun dari kedua bola mata
kaca itu. Kali ini ia tak kuasa menahannya. Tembok pertahanan yang susah payah
ia bangun melalui tawanya setiap waktu runtuh begitu saja. Hatinya pilu. Pilu
sepilu-pilunya.
Masa lalu tak pernah mau pergi. Sedangkan waktu yang terus berlalu seolah mengejeknya, sekali pun tak pernah mau bersimpati.

Komentar
Posting Komentar