Ruang Makan
Ruang makan itu menjadi bagian paling belakang rumahku. Jangan bayangkan satu set perabotan khusus untuk makan seperti di tipi-tipi itu ketika aku menyebutnya demikian. Yang kusebut ruang makan di rumahku itu hanyalah sebuah meja dengan bangku panjang di kedua sisinya, jadi satu ruangan dengan dapur dan kamar mandi, serta sebuah kardus berisi anak-anak ayam yang diterangi lampu berwarna kekuningan di pojokan.
Yang tak pernah alpa berada di atas meja makan itu adalah segelas besar teh dan secangkir kopi, serta biskuit atau cemilan apapun yang diletakkan pada sebuah baki kecil berwarna hijau. Tehnya untuk Bapak, kopinya untuk Ibu. Atau bisa juga fleksibel, tergantung suasana hati. Kadang adikku pun meminumnya sampai habis. Di bawah tudung saji berwarna merah muda di sampingnya, biasanya ada sambal, tempe, ikan asin, kadang ada juga yang lain. Kalau aku pulang, meja itu akan penuh dengan makanan apapun yang kumau. Dan aku bahagia, akhirnya perbaikan gizi juga. Hahaha.
Kami biasa makan bersama di ruang makan itu. Bahkan ketika aku sampai di rumah terlalu malam, makan bersama di ruang makan tetap saja tak terlewatkan. Aku bercerita tentang kehidupanku di Solo, Bapak dan Ibu tentang gosip yang lagi hot di rumah. Lalu ada tawa di sela-selanya, yang biasanya membuat adikku bangun dari tidur, lalu lari-lari ke dapur sambil bilang, "Kakak! Kakak!" dengan wajah imutnya itu. Sekarang, dia yang paling bahagia kalau aku pulang.
Kami tak pernah benar-benar lama bersama-sama di ruang makan itu. Tetapi, momen yang sebentar itulah yang paling mahal harganya. Ah, bapak, ibuk, anakmu ini ingin pulang ....
Yang tak pernah alpa berada di atas meja makan itu adalah segelas besar teh dan secangkir kopi, serta biskuit atau cemilan apapun yang diletakkan pada sebuah baki kecil berwarna hijau. Tehnya untuk Bapak, kopinya untuk Ibu. Atau bisa juga fleksibel, tergantung suasana hati. Kadang adikku pun meminumnya sampai habis. Di bawah tudung saji berwarna merah muda di sampingnya, biasanya ada sambal, tempe, ikan asin, kadang ada juga yang lain. Kalau aku pulang, meja itu akan penuh dengan makanan apapun yang kumau. Dan aku bahagia, akhirnya perbaikan gizi juga. Hahaha.
Kami biasa makan bersama di ruang makan itu. Bahkan ketika aku sampai di rumah terlalu malam, makan bersama di ruang makan tetap saja tak terlewatkan. Aku bercerita tentang kehidupanku di Solo, Bapak dan Ibu tentang gosip yang lagi hot di rumah. Lalu ada tawa di sela-selanya, yang biasanya membuat adikku bangun dari tidur, lalu lari-lari ke dapur sambil bilang, "Kakak! Kakak!" dengan wajah imutnya itu. Sekarang, dia yang paling bahagia kalau aku pulang.
Kami tak pernah benar-benar lama bersama-sama di ruang makan itu. Tetapi, momen yang sebentar itulah yang paling mahal harganya. Ah, bapak, ibuk, anakmu ini ingin pulang ....
Dan jika suatu saatBuah hatiku, buah hatimuUntuk sementara waktu pergiUsahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkahKita berdua tahu, dia pastiPulang ke rumah

Hai naim, aku sering baca tulisanmu loh :D
BalasHapusHeheheh makasiih, jangan bosan-bosan membaca yaa :D
Hapustiap liat judul blogmu mesti keinget lagu 93 million miles :D coba deh denger :D
BalasHapusOh, man ... This' ... "Just know, that wherever you go, you can always come home"
BalasHapusAaaak lagunyaaa <3