Anak "Durhaka"
Suatu hari, aku terlibat dalam satu percakapan mengenai penentuan langkah dalam hidup. Sebelumnya, kuberi tahu kau. Ini memang klise, mengobrolkan soal bagaimana bisa kami memilih kuliah di sini dan berada di jurusan ini, menurut kata orang tua ataukah murni pilihan sendiri, atau bahkan sekadar daripada nggak kuliah. Sebenarnya tidak hanya sekali aku membicarakan persoalan ini. Dari beberapa obrolan dengan teman di tempat yang berlainan, yang menjadi titik akhir obrolan kami hampir selalu adalah ini: menuruti orang tua karena percaya bahwa ridho orang tua selalu membawa akhir yang baik buat kita. Memang sih, nggak semua orang begitu. Tetapi, kebanyakan dari yang ngobrol denganku menyimpulkan begitu ketika mereka mendapatkan dua pilihan yang sama-sama berat, memang nggak tahu mau melangkah ke mana, atau memang karena memiliki orang tua yang sudah merencanakan masa depan anaknya sedemikian sempurna.
Aku pun percaya sepenuhnya bahwa ridho orang tua pada apapun langkah yang kita ambil dalam hidup akan berakhir bahagia, meskipun bisa jadi prosesnya tidak akan mudah. Tetapi, jika menilik pada sejarah hidupku selama 19 tahun lebih tujuh bulan ini, aku nggak pernah langsung bilang, "ya,"pada kehendak orang tuaku atas hidupku, atau bahkan langsung menolak mentah-mentah kalau itu sama sekali bukan keinginanku -tentu saja aku menjelaskan alasannya pada mereka-. Apa yang hampir selalu terjadi adalah aku yang memohon-mohon pada mereka supaya merestui pilihanku dengan embel-embel,"Ma, please Ma. Nek Mae ngizinke aku, tes CPNS-e mesti lolos." Itu terjadi kemarin sewaktu aku minta izin mau naik ke Semeru. Beruntungnya, meskipun orang tuaku kadang sudah memutuskan lebih dulu untuk memberiku izin atau tidak, mereka berdua hampir selalu mau mendengarkan alasanku, mengapa aku menolak mematuhi mereka. Kalau alasanku cukup meyakinkan, atau sama sekali tidak meyakinkan tetapi wajahku menampakkan ekspresi aku-benar-benar-menginginkannya, maka lampu hijau pun menyala bersama dengan lampu kuning sekaligus, "Yo, tapi ati-ati lho ya. Kesehatane dijogo ..." Dan sebagainya, dan sebagainya, yang langsung kusambut dengan,"Siaaap!" dan cengiran selebar mungkin pada mereka.
Akhirnya, baru aku sadari, aku hampir selalu melakukan apapun yang aku mau, sak merdekaku, yang penting orang tuaku tahu apa yang aku lakukan. Seperti kata Mocca,"Do what you wanna do." Yah, meskipun ada di antaranya kulakukan dengan ridho yang terlambat datang sih, hehehe. Mungkin bisa dibilang aku ini anak yang durhaka, jarang menjadi anak manis yang langsung menurut apa kata orang tuaku. Meskipun kadang-kadang aku juga bertanya-tanya pada diriku, kenapa aku nggak bilang iya aja dan hidupku bakal aman, damai, sentosa, lalu ber-ending bahagia, aku selalu berusaha bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihan-pilihan yang kuambil.
Setidaknya, untuk saat ini, orang tuaku mungkin telah berhasil kuyakinkan bahwa meskipun aku mengambil jalan yang barangkali tidak berkenan di hati mereka, aku akan tetap menjadi anak yang berbakti dan bisa membahagiakan mereka dengan caraku. Aku selalu bisa merasakan bahwa ridho mereka selalu bersamaku. Aku tahu, aku pasti menorehkan sejumput kecewa pada setiap tidak yang aku berikan atas beberapa permintaan mereka. Namun, di sisi lain aku pun sadar sepenuhnya bahwa selain sebagai anak yang harus berbakti pada orang tua, hamba yang harus senantiasa mengabdi, aku pun adalah aku yang berdiri di atas kakiku sendiri. Kalau aku nggak bisa, atau nggak cukup berani untuk melangkah atas pilihanku sendiri, maka aku akan menjadi penumpang selamanya atas hidupku sendiri, mengikuti arus yang tidak selamanya bisa memanjakan dan membawaku ke tujuan. I'm a driver, not a passanger in my own life.
Aku pun percaya sepenuhnya bahwa ridho orang tua pada apapun langkah yang kita ambil dalam hidup akan berakhir bahagia, meskipun bisa jadi prosesnya tidak akan mudah. Tetapi, jika menilik pada sejarah hidupku selama 19 tahun lebih tujuh bulan ini, aku nggak pernah langsung bilang, "ya,"pada kehendak orang tuaku atas hidupku, atau bahkan langsung menolak mentah-mentah kalau itu sama sekali bukan keinginanku -tentu saja aku menjelaskan alasannya pada mereka-. Apa yang hampir selalu terjadi adalah aku yang memohon-mohon pada mereka supaya merestui pilihanku dengan embel-embel,"Ma, please Ma. Nek Mae ngizinke aku, tes CPNS-e mesti lolos." Itu terjadi kemarin sewaktu aku minta izin mau naik ke Semeru. Beruntungnya, meskipun orang tuaku kadang sudah memutuskan lebih dulu untuk memberiku izin atau tidak, mereka berdua hampir selalu mau mendengarkan alasanku, mengapa aku menolak mematuhi mereka. Kalau alasanku cukup meyakinkan, atau sama sekali tidak meyakinkan tetapi wajahku menampakkan ekspresi aku-benar-benar-menginginkannya, maka lampu hijau pun menyala bersama dengan lampu kuning sekaligus, "Yo, tapi ati-ati lho ya. Kesehatane dijogo ..." Dan sebagainya, dan sebagainya, yang langsung kusambut dengan,"Siaaap!" dan cengiran selebar mungkin pada mereka.
Akhirnya, baru aku sadari, aku hampir selalu melakukan apapun yang aku mau, sak merdekaku, yang penting orang tuaku tahu apa yang aku lakukan. Seperti kata Mocca,"Do what you wanna do." Yah, meskipun ada di antaranya kulakukan dengan ridho yang terlambat datang sih, hehehe. Mungkin bisa dibilang aku ini anak yang durhaka, jarang menjadi anak manis yang langsung menurut apa kata orang tuaku. Meskipun kadang-kadang aku juga bertanya-tanya pada diriku, kenapa aku nggak bilang iya aja dan hidupku bakal aman, damai, sentosa, lalu ber-ending bahagia, aku selalu berusaha bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihan-pilihan yang kuambil.
Setidaknya, untuk saat ini, orang tuaku mungkin telah berhasil kuyakinkan bahwa meskipun aku mengambil jalan yang barangkali tidak berkenan di hati mereka, aku akan tetap menjadi anak yang berbakti dan bisa membahagiakan mereka dengan caraku. Aku selalu bisa merasakan bahwa ridho mereka selalu bersamaku. Aku tahu, aku pasti menorehkan sejumput kecewa pada setiap tidak yang aku berikan atas beberapa permintaan mereka. Namun, di sisi lain aku pun sadar sepenuhnya bahwa selain sebagai anak yang harus berbakti pada orang tua, hamba yang harus senantiasa mengabdi, aku pun adalah aku yang berdiri di atas kakiku sendiri. Kalau aku nggak bisa, atau nggak cukup berani untuk melangkah atas pilihanku sendiri, maka aku akan menjadi penumpang selamanya atas hidupku sendiri, mengikuti arus yang tidak selamanya bisa memanjakan dan membawaku ke tujuan. I'm a driver, not a passanger in my own life.

so damn kampret hahahahahah but yeah you're amizingly right :")
BalasHapusBuahaha sori lho Lin :p Kowe kudu tetep semangat gek ayo munggah gunung~
BalasHapus