Di Penghujung Jalan

Sudah berkali-kali aku sampai di depan pintu, lalu masuk ketika kau membukakannya -kau selalu membukakan pintu bila ku pulang-. Tapi, tak ada sesuatu pun yang kutinggalkan untukmu seperti biasa, meski sungguh banyak yang ingin kuberi. Kali ini, aku pulang kembali. Dan kali ini pula, aku akan meninggalkan sesuatu untukmu. Tak banyak, tapi semoga berguna. Sebelum aku pergi (lagi), aku ingin kau tahu sesuatu.

Aku ingin kau tahu bahwa guguran bunga angsana di sepanjang trotoar yang mengitari kampusku itu indah sekali. Kata Oyon yang mengutip kamus, baunya seperti buah jeruk. Bunga angsana itu berwarna kuning, membuat UNS seperti bermusim gugur kalau kau kebetulan melihatnya berjatuhan dari tangkainya. Aku pernah melihat beberapa mahasiswa yang sengaja memilih salah satu sudut trotoar yang dipenuhi guguran bunga angsana untuk menghabiskan sore mereka sambil mengobrol. Gadis berjilbab merah jambu itu menyaruk segenggam bunga angsana, lalu menjatuhkannya sehingga bunga-bunga itu sekali lagi terbang, lalu jatuh menyentuh bumi dengan gemulainya. Itu terjadi sekitar satu setengah bulan yang lalu, awal November.

Angsana dalam Genggaman. Foto: Heart & Love
Sekarang hujan turun begitu sering. Kau tahu? Itu membuatku seringkali mendadak sendu. Bisa kau bayangkan seseorang yang kata teman-teman (agak) alay ini tiba-tiba melihat dunia sebagai untaian bait-bait puisi? Tidak, tidak, kalimatku tak akan menjadi U cePerTy Pagiy, hanya saja jadi melankoli seperti ini. Mungkin karena suasana yang sedang sendu inilah aku jadi lebih banyak menikmatinya daripada mengabadikannya melalui kata-kata, ribut dalam syahdu suasana dengan pikiranku sendiri.

Bersama hujan, bunga angsana yang tak lagi kelihatan, hati yang berbunga namun berusaha kutekan-tekan agar mekarnya tak mengucing buta, bau petrichor yang menyeruak dari setiap sudut sehabis hujan, tugas-tugas akhir kuliah yang berjejer indah, juga bersama 2 dekade LPM Kentingan UNS, aku menemui Desember 2013 yang sedang meregang nyawa.

Mau tak mau, melihat Desember yang sudah menyampaikan pesan-pesan terakhirnya melalui hari-hari yang panjang dan sendu ini, aku terpaksa mengajakmu menyaksikan 2013 beranjak pergi. Bukan karena tak bisa move on, hanya sedikit merefleksi diri. Satu tahun lagi akan lewat. Waktu lagi-lagi tak peduli pada perempuan yang kadang masih dibayangi oleh masa lalu ini. Haha, bukankah ia memang tak pernah mempunyai simpati? Ah, sekali lagi, satu tahun lagi akan lewat, sementara waktu merubah kita.

Aku seperti kembali melihat gadis berantakan yang hanya memakai satu celana jins selama tahun pertama kuliahnya. Saat itu, isi kepalanya penuh dengan cita-cita tinggi nan mulia untuk membangun negeri, juga obsesi mempunyai sebuah buku hasil karyanya sendiri ... dan waktu pun berlalu. Kemudian ia kecewa. Sekali, dua kali, tiga ... Ada yang salah. Ia sungguh tahu apa yang dia mau. Tapi kenapa masih saja ia merasa ada yang salah?

Sang kekasih yang tak mengerti apa-apa -si Gadis lupa kalau Sang Kekasih bukan peramal- pun akhirnya menjadi korban. Lalu ia meninggalkan sang kekasih untuk cari Tuhan. Katanya Ia bisa menyembuhkan. Seharusnya begitu. Bukankah Ia Maha Menyembuhkan? Lalu ia pun memutuskan untuk bermetamorfosis, mengepung dirinya dengan serat-serat, menjadi kepompong, lalu berharap pada suatu saat yang tepat ia akan menjadi kupu-kupu yang cantik. Tetapi dalam balutan serat-serat itu ia tak juga menemukan apa yang ia cari.

Sampai pada suatu hari, ia bertemu dengan sebuah pagi. Pagi yang entah bagaimana datangnya, mengacaukan segalanya. Ditariknya ia keluar dari serat-serat itu, diajaknya ia menikmati sinarnya yang hangat. "Kubawakan padamu Tuhan." Katanya. Sejak itu, ia melihat Tuhan di mana-mana: pada subuhnya di pagi hari, pada segelas susu coklat hangat dan satu gambar sebelum berangkat kuliah, pada lalu lalang kendaraan yang melintasi jalan raya di depan kampusnya, pada jejeran pohon angsana yang memagari jalan dalam kampusnya, pada sapaan ke pak satpam yang dibalas anggukan di lobby FISIP, pada senyum dan candaan kawan-kawan sekelasnya, pada dhuhur yang ia lakukan segera setelah adzan berkumandang meski jarang dengan dzikir-dzikir yang panjang, pada oksigen yang mengisi paru-parunya sampai detik ini ...

Aku tersenyum sendiri mengingat semua itu. Sampai sekarang, aku masih saja terkesima oleh kejutan-kejutan yang diberikan oleh waktu. Di penghujung jalan ini, aku seolah mendapatinya tersenyum padaku sambil mengatakan, "Kau suka kejutanku kali ini?"

Komentar

Postingan Populer