Catatan Awal Tahun

Aku tak tahu apakah akhirnya sekarang aku sudah menemukan waktu yang tepat untuk menulis padamu atau belum. Karena mataku sudah sangat ingin terpejam namun hatiku memaksa untuk menulis, kurasa ini memang sudah waktunya aku menulis padamu. Yah, meski ternyata badai masih belum berlalu dan tak sesuai ekspektasiku bahwa aku akan menulis ini dalam keadaan lega dan siap dengan segala cerita, sih.

Jadi begini. Kau tentu juga merasakan bahwa Januari sudah sampai pada pertengahan. Suasana tahun baru pun sudah hilang ditelan kesibukan. Namun, tetap saja 2014 masih berada pada awalan. Oleh karena itulah, catatan awal tahun yang kuputuskan menjadi tema tulisan malam hari ini tidak menyalahi aturan. Begitu kan?

Bukannya cari sensasi aku menulis catatan awal tahun pada pertengahan Januari begini. Hanya saja, aku memang sengaja mengumpulkan materi terlebih dahulu supaya aku punya sesuatu untuk kutuliskan padamu di catatan awal tahun ini. Ternyata, aku mendapat terlalu banyak materi sampai terjadi badai materi (?) yang seperti kutulis pada paragraf pertama belum selesai sampai saat ini. Tetapi, kondisinya sudah cukup memungkinkan bagiku sekarang untuk akhirnya menuliskan catatan awal tahun (yang terlambat) ini.

Pertama, karena ini adalah catatan awal tahun, maka tidak enak rasanya kalau aku tak mengucapkan selamat tahun baru terlebih dahulu. Nah, selamat tahun baru kamu. Semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik bagiku, bagimu, dan kita. Aamiin.

Selanjutnya, catatan awal tahun ini bermula dengan tugas-tugas yang menumpuk seperti biasanya ketika akhir semester sekaligus akhir tahun tiba. Meskipun tumpukan tugas semester ini masih kalah tinggi daripada semester pertama, tetap saja, yang namanya tugas pasti membuat otak penat ingin segera istirahat. Begitu pulalah yang terjadi denganku. Saat aku mempunyai tiga tugas yang harus kukumpulkan pada minggu terakhir sebelum liburan, aku terlibat dalam suatu percakapan dengan seorang alumni LPM Kentingan bernama Mas Blek dan membuatku harus ngebut nugas demi satu tujuan yang dia tawarkan tidak sengaja kutahu: semeru.

Yang Selalu Bikin Rindu, Semeru
Begitulah. Pada tanggal 28 Desember 2013, setelah menyelesaikan makalah 3000 kata mengenai etika nyetatus di media sosial, sekali lagi aku mengepak beberapa pasang baju hangat, sebuah sleeping bag (pinjaman), raincoat (pinjaman), logistik, sepasang sandal gunung, dan perlengkapan lainnya ke dalam carrier hitam (pinjaman juga). Bersama Mas Blek, Mas Hendy (alumni LPM Kentingan), Mas Dimas (tetangganya Mas Hendy), Mas Sugeng (tetangganya Mas Hendy), Mas Ari (tetangganya Mas Hendy), Mbak Ocha (teman mendaki ke Lawu pada November 2013, kalau nggak salah), Mas Jadid (tetangganya Mas Hendy), Mbak Ade (teman mendaki ke Lawu pada November 2013, kalau nggak salah), Mas Tajul (teman lamanya Mas Hendy), Lik Bambang (tetangganya Mas Hendy), Mas Sugeng (tetangganya Mas Hendy), dan Mas Supri (tetangganya Mas Hendy), sekali lagi aku menuju  ke Malang, lalu Tumpang, Ranu Pani, Ranu Kumbolo, dan Kalimati. Kali ini, aku tak sampai puncak karena cuaca sedang tidak mendukung. Meski nggak sampai puncak, setidaknya kali ini aku tahu letak Sumber Mani, tempat para pendaki mencari air kalau di Kalimati. Ah, semeru masih tetap memesona seperti selalu. Meski ada beberapa perubahan dari pertama kali aku ke sana tahun 2010 lalu, seperti penjual gorengan di pos 1 menuju Ranu Kumbolo, penjaja gorengan pagi-pagi di Ranu Kumbolo, penjual nasi bungkus seharga Rp12.500,00 yang ada di Cemoro Kandang (jalur setelah Tanjakan Cinta dan Oro-Oro Ombo), tetap saja puncak para dewa itu bikin rindu. Aku tak akan menceritakan detail perjalananku padamu. Aku berasumsi kau juga termasuk mereka yang sempat terkena demam film 5 cm beberapa waktu yang lalu. Jadi, kurang lebih seperti itulah perjalananku. Hanya saja, kau perlu menambahkan langit mendung, kabut tebal, dan gerimis padanya.
 
Dari kiri ke kanan: Mas Tajul, Mbak Ade, Mbak Ocha, Mas Ari, Mas Dimas,
Mas Hendy, Mas Blek, Mas Bambang, Mas Sugeng, Mas Supri, Mas Jadid
Di belakang sana ada nasi seharga Rp12.500,00 per bungkus ...

Aku tak banyak berpikir ketika mendaki kali ini. Aku memang tak pernah bisa memikirkan apapun di setiap pendakianku kecuali cepat sampai pos berikutnya atau puncak dan rindu gunung akut yang akhirnya terobati. Bahkan ketika aku dibangunkan oleh Mbak Ocha pada tengah malam untuk menyaksikan kembang api di langit Ranu Kumbolo, aku hanya melihat cahaya-cahaya kembang api cantik yang terlihat blur di mataku itu sambil bertopang dagu. Aku tahu saat itu tahun berganti. Tapi sudahlah. Lalu, memangnya aku harus apa kalau tahun sudah jadi baru? Dengan pikiran itu, aku pun kembali bergelung dalam sleeping bag, dan terlelap dengan cepat. Mungkin itu karena dipengaruhi oleh hujan yang tak kunjung berhenti dari sore. Jadi, tahun baruan di Ranu Kumbolo itu agak terasa menyedihkan. Sebelum turun ke Ranu Pani keesokan paginya, sambil berbincang-bincang ringan, berusaha memancing ikan-ikan Ranu Kumbolo, dan menyemangati Mbak Ocha dan Mbak Ade yang sedang memasak, aku malah ribut dengan diriku sendiri. Keributan yang untungnya kali ini berakhir bahagia. Rasa-rasanya, aku siap menyongsong tahun yang baru ini dengan aku yang baru pula. Aku merasa sembuh, dan masa lalu benar-benar telah tutup buku. Halo, hidup baru!

Kapten Baru Kentingan
Sepulang dari Semeru, aku masih belum bisa mengistirahatkan tubuhku. Esoknya, 3 Januari 2014, aku harus ke Tawangmangu untuk menghadiri Musang XVIII LPM Kentingan UNS. Aku juga tak akan menceritakan detail acara ini padamu. Soalnya, acaranya sama seperti tahun lalu saat Mas Rochmad menjadikan Kentingan Sehad pada Musang XVII. Meski begitu, tentu saja ada hal-hal yang juga berbeda tahun ini, seperti villanya, jumlah peserta, dan konsumsi. Konsumsi tahun ini lebih enak daripada tahun lalu. Sekian.

Tahun ini, tampuk kepemimpinan LPM Kentingan jatuh ke tangan mahasiswa Sastra Indonesia  gondrong yang selalu dikira angkatan 90-an padahal dia masih seangkatan denganku, Hanputro Widyono alias Han alias Motrok alias Top alias Oyon. Sekian.
 
Musang XVIII LPM Kentingan UNS

Hal-hal yang (Ternyata) Belum Selesai
Kalau mengacu pada rundown acaraku tahun lalu, sehabis Musang aku akan pulang ke rumah besoknya, pagi-pagi sekali, lalu menikmati libur panjang layaknya teman-temanku yang lain. Namun, tahun ini rundown tersebut tak bisa kuikuti karena satu dan lain hal sebagai berikut:

  • ·    Pertama, aku harus membuat beberapa ilustrasi untuk antologi cerpen LPM Kentingan. Karena kalau di rumah aku nggak mungkin bisa menyelesaikannya karena adikku yang manis akan lebih banyak menyita waktuku, aku memutuskan untuk tetap di Solo sampai kerjaanku ini selesai. Selambat-lambatnya, (seharunya) aku akan pulang besok, Minggu, 19 Januari 2014.
  • ·   Kedua, SIAKAD alias Yang Mulia Rapor Anak Kuliahan. Ada apa dengan SIAKAD? Begini. Biasanya, nilai yang keluar pada KHS di SIAKAD akan langsung A, B, C, D, atau E tanpa ada detail nilai tiap Uji Kompetensi (UK). Namun, karena tahun ini FISIP sudah memakai ISO, maka nilai tiap uji kompetensi pun ditampilkan. Di sinilah masalah yang kusebut sebagai badai yang belum berakhir ini timbul. Nilai UK 1 mata kuliah Sosiologi Komunikasiku masih kosong. Padahal aku ingat dengan jelas bahwa aku sudah mengikuti UK 1, meski tidak dengan usaha yang cukup berarti. Tetapi, tetap saja tidak seharusnya kolom untuk nilai UK 1 itu kosong. Dengan demikian, aku terpaksa menunda lagi kepulanganku sampai (semoga) hari Senin atau Selasa, 20 atau 21 Januari 2014, tergantung kecepatan penyelesaian masalah nilai ini. Hhh, sebenarnya, aku bisa saja mengabaikan masalah ini dan membiarkan nilai Sosiologi Komunikasiku tetap D. Siapa yang peduli sih? Ini kan cuma IP. Tapi, yah, karena aku malas mengulang tahun depan, aku merelakan penundaan kepulangan ini separuh sepenuh hati. Semoga hasilnya bikin hepi. Semoga.

Sepotong ilustrasi untuk cerpen berjudul "Terlambat Pulang"

Begitulah. Sampai ketika tulisan ini diketik sampai di sini, aku masih berada di kamar kosku yang terletak di lantai tiga. Tinggal sendirian, karena teman sekamarku, Rizki (dia cewek), dan yang lain sudah pada pulang.

Seseorang pernah berkata padaku,“Jangan pernah kehilangan kegembiraan dalam keadaan apapun.” Maka, meski sedih belum bisa pulang ke rumah, rencana ke pantai dan toko buku hari ini bersama Oyon masih bisa terlaksana dalam keadaan aman-tenang-damai-ceria. Kami sampai di Parangtritis pada pukul 16.00. Langit mendung, namun ombak tak terlalu besar. Kami berjalan menyusuri pantai agak jauh ke kanan dari arah kami datang, penasaran di mana letak Parangkusumo. Akhirnya, kami pun duduk di hamparan pasir sambil memandang ke laut lepas.

        “Enaknya kita mendengarkan lagu apa, ya?” Kataku sambil mencari-cari lagu yang tepat untuk diputar dari playlist-ku. Aku hampir (lagi-lagi) memutar Dialog Dini Hari ketika entah kenapa aku berujar,“Ah, nggak deh. Kita mendengarkan deburan ombak saja.”
         “Yoyoi.” Lelaki gondrong yang ribet dengan rambutnya karena angin bertiup begitu kencang itu berujar tanpa memandangku. Untuk waktu yang agak lama, kami saling berdiam diri, sibuk dengan pikiran masing-masing.
       “Apa yang sedang kau pikirkan?” aku penasaran karena sedari tadi wajahnya tampak tidak sepenuhnya gembira.
       “Siapa kamu?”  matanya masih menatap lekat ke laut. Sayup-sayup, aku mendengar suara Eross & Okta menyanyikan lagu itu. Berbagi waktu dengan alam. Kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Hakikat manusia.
 
Go somewhere
Kami meninggalkan Parangtritis ketika hujan mulai turun pada pukul 17.26. Dari Parangtritis, seperti yang telah kami rencanakan tanpa sengaja ketika melewatinya, kami menuju Gramedia Yogyakarta. Buku-buku di Gramedia Yogyakarta terletak di lantai tiga. Seperti biasa, Oyon mencari rak buku sastra dan menujunya. Tampaknya, ia sama sekali tak tertarik pada buku-buku yang diletakkan di sana (yang ternyata kebanyakan novel terjemahan). Meskipun begitu, ia akan mengunjungi semua rak terlebih dahulu, barangkali ada yang menarik hatinya. Dan itulah yang dia lakukan. Aku sendiri setelah mencari 9 Dari Nadira yang kuidamkan dan ternyata tidak ada, berkeliling dari rak ke rak tanpa tujuan. Pada satu tumpukan buku dari Gagasmedia dan Gramedia, aku kembali tertarik pada novel berjudul "Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya" yang sempat kuabaikan saat di Solo. Kali ini, aku membaca blurb yang tertulis di cover belakang novel tersebut, lalu ke sedikit tulisan tentang penulisnya, Dewi Kharisma Michellia, lalu ke tahun lahir penulisnya. 1991. Tiga tahun lebih tua dariku, dan dia sudah memiliki novel karyanya sendiri yang menjadi kandidat pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 di samping banyak cerpen yang telah dipublikasikan di banyak media ...

         “Apa yang kau dapat hari ini?” Aku melihat senyumnya dari kaca spion kiri yang sengaja dia hadapkan sedemikian rupa sehingga spion itu hanya memantulkan wajahku.
               “Mmm ... Aku mendapat semangat untuk menulis kembali.” Jawabku mantap.



Yang masih di Solo pada hampir pertengahan liburan semester 3,
Na'im

Komentar

Postingan Populer