Perjalanan Menemukan
Siddartha berkata,"Apa yang dapat saya katakan kepada Anda dan akan berharga, kecuali barangkali Anda mencari terlalu banyak, dan sebagai hasilnya, Anda tidak menemukan."
"Bagaimana itu?" tanya Govinda.
"Bila seseorang sedang mencari," kata Siddartha,"terjadi dengan sangat mudahnya bahwa dia hanya melihat hal yang sedang dia cari, bahwa dia tidak dapat memperoleh sesuatu, tidak dapat menyerap sesuatu, karena dia hanya memikirkan hal yang sedang dia cari, karena dia mempunyai tujuan, karena dia dihantui oleh tujuannya. Mencari berarti memiliki tujuan, tetapi menemukan berarti menjadi bebas, menjadi mau menerima, tidak mempunyai tujuan. Anda, o, orang yang terhormat. Barangkali benar anda seorang pencari, karena dalam bekerja keras mencapai tujuan Anda, Anda tidak melihat banyak hal yang ada di bawah hidung anda." (dikutip dari novel Siddartha oleh Herman Hesse, halaman 100)
Siddartha bisa mengatakan hal itu karena dia telah melakukan pencarian yang tak tanggung-tanggung selama 40 tahun: meninggalkan keluarga brahmananya bersama Govinda -kawan baiknya- ketika dia masih muda, menjadi samana (pengembara dan pertapa), bertemu Sang Buddha hanya untuk mengucapkan selamat tinggal sedangkan Govinda tetap tinggal, kemudian bertemu Kamala -gurunya yang berikutnya-, menjadi pemain perempuan, penjudi, saudagar kaya raya yang licik sampai dia muak lalu kembali meninggalkan semua hartanya, bertemu Vasudeva (lagi), dan pada akhirnya menjadi seorang penambang yang menemukan kedamaian. Dia berjalan terus, menoleh ke belakang hanya untuk menyadari bahwa ia harus melanjutkan perjalanannya tanpa merisaukan masa lalu.
Baik sekali untuk mengalami segala sesuatu sendiri, pikirnya. Ketika masih kecil, aku mengetahui bahwa kesenangan-kesenangan dunia dan kekayaan tidak baik. Aku telah lama mengetahuinya, tetapi aku baru saja mengalaminya. Kini aku tidak hanya mengetahuinya dengan kecerdasanku, tetapi dengan mataku, dengan hatiku, dengan dadaku. (halaman 71)
Siddartha terus belajar. Dalam setiap fase perjalanan yang dilaluinya, ia selalu mendapatkan gagasan-gagasan baru, kesadaran-kesadaran baru yang membawanya terus berjalan, menemui nirwana dan samsara yang datang silih berganti. Ia tenggelam dalam lautan luka dalam; ia terjatuh, namun selalu bisa bangkit lagi tanpa keragu-raguan dalam dirinya, tanpa penyesalan setitikpun atas segala yang telah berlalu; ia tersesat namun selalu tahu arah jalan pulang, menemukan kembali jalannya; karena ia bisa dan mau mendengar suara dalam dirinya, hatinya, hatinya yang paling dalam. Hati nurani selalu menyuarakan kebaikan.
Akhirnya, setelah melalui Kawah Candradimuka-nya, kehilangan satu-satunya anak lelaki yang sangat ia cintai, ia pun menemui kedamaian terakhirnya. Kedamaian kekal yang tak bisa dirusak oleh samsara seberat apapun.
Senyum Vasudeva berseri-seri. Senyuman itu bermain dengan ceria di dalam semua kerut-merut wajahnya yang tua, ketika Om bermain di atas semua suara sungai. Senyumnya, berseri-seri ketika dia memandang kawannya, dan kini senyum yang sama muncul pada wajah Siddartha. Lukanya terobati, kesakitannya lenyap; Diri-nya telah melebur ke dalam kesatuan.
Sejak saat itu Siddartha menghentikan perlawanannya kepada nasib. Memancarlah pada wajahnya ketenangan pengetahuan, pengetahuan yang tidak lagi berhadapan dengan pertikaian keinginannya, yang telah memperoleh keselamatan, yang berada dalam keharmonian dengan arus peristiwa-peristiwa, dengan arus kehidupan, penuh dengan simpati dan keharuan, mengalahkan dirinya ke dalam arus, menjadi milik kesatuan semua benda. (halaman 98)
Ia telah menemukan.
Aku tak pernah melihat seorang melihat dan tersenyum, duduk dan berjalan seperti itu, pikirnya. Aku juga ingin memandang dan tersenyum, duduk dan berjalan seperti itu, begitu bebas, begitu anggun, begitu terkendalikan, begitu apa adanya, begitu tampak seperti kanak-kanak dan misterius. Seorang pria hanya berjalan dan berpandangan seperti itu bila dia telah mengalahkan dirinya. Aku juga akan mengalahkan Diri-ku. (halaman 27)

Komentar
Posting Komentar