Bumiku Buruk Rupa
Andai
penyesalan itu datangnya lebih dulu. Andai. Tetapi waktu adalah sesuatu (aku
ragu akan menyebutnya sebagai benda, karena ia tak pernah kita lihat wujudnya)
yang tak pernah menoleh ke belakang seperempat detik pun. Ia jalan terus, terus,
terus... dan manusia selalu baru merasa sesuatu itu begitu berharga ketika ia
telah kehilangannya.
They paved paradise and put up a parking lot
With a pink hotel, a boutique, and a swingin; hot
spot
Aku
mengalihkan pandanganku keluar, mengamati lalu lalang kendaraan yang memadati
jalan raya. Setiap tujuh menit 34 detik suara berisik klakson terdengar memekakkan
telinga, mengumpat agar kendaraan di depannya segera melaju. Mereka tak mau
menghabiskan waktu lebih lama lagi dari waktu yang ditetapkan oleh lampu merah.
Debu beterbangan. Polusi tak terelakkan. Matahari panas membakar. Tapi semua
itu tak sedikitpun memengaruhi kesibukan orang-orang di bawah sana. Kehidupan
terus berjalan. Yang terpenting adalah cari uang untuk bisa terus hidup sampai
besok, besok, dan besoknya lagi... panas biarlah panas. Toh setiap hari juga
begini keadaannya. Panas, panas, panas... semakin panas dari hari ke hari. Ke
mana musim hujan? Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali kurasai
titik-titik air itu membasahi halaman rumahku. Ah, aku ingin sekali menyebutnya
demikian, halaman rumah yang dipenuhi rumput-rumput hijau dan bunga berwarna-warni,
tapi kenyataannya hanya hamparan aspal yang kupunya sekarang.
Don’t it always seem to go
That you don’t know what you got ‘til it’s gone
Dari
atas sini semua terlihat jelas. Rimba gedung-gedung pencakar langit,
corong-corong pabrik yang mengepulkan asap, jalan layang yang dipenuhi
kendaraan-kendaraan seperti semut-semut berwarna-warni yang tengah berbaris,
gubuk-gubuk kumuh di pinggiran sungai dan di bawah jembatan, bahkan
sampah-sampah yang memenuhi hamparan sungai itu. Ah, ya, dulu di bawah sana itu
adalah sungai. Ralat, sungai yang indah. Jernih airnya, banyak ikannya. Lama-lama
pemandangan ini memuakkan. Semua warna yang kulihat ini seolah mengejekku. Bahkan
hijau yang kurindukan, yang kini entah di mana. Untunglah biru langit di atas
sana itu masih sama seperti dahulu. Tak berkurang sedikit pun meski tahun-tahun
telah berlalu. Untunglah ...
They paved paradise and put up a parking lot
Adam
Duritz yang menyanyikan Big Yellow Taxi itu
terus memenuhi pendengaranku sembari mengantarkan senja yang mulai turun. Biru
perlahan memudar menjadi oranye. Matahari mulai menghilang di balik gedung
berlantai 75 di depan sana. Senja oranye itu sudah mainstream. Makanya
hanya sedikit manusia yang berhenti sejenak dari aktivitas untuk menikmatinya.
Bagiku sendiri, bukannya indah juga senja yang tengah ditelan cakrawala itu.
Seperti kataku tadi, senja itu mainstream, karena dari dulu juga
begitu-begitu saja. Tapi, kurasa, senja yang dulu kulihat dari sebuah taman di
masa kanak-kanakku memang lebih indah daripada senja yang ini.
Ooooh, bop bop bop
Ooooh, bop bop bopOoooh, bop bop bop
“Selamat malam
pemirsa. Anda bersama saya kembali dalam lintas berita pukul 21.00. Wabah
kekeringan dan kelaparan terus memburuk di berbagai belahan dunia. Diduga,
keadaan ini disebabkan oleh semakin sedikitnya luas hutan hujan tropis yang
menjadi salah satu faktor penting penjaga kestabilan iklim global.”
Kotak
persegi empat itu memunculkan setitik lahan yang tertutupi warna hijau
sedangkan sebagian lainnya hampir seluruhnya abu-abu. Samar-samar kulihat
kontur tanah itu berubah menjadi tampilan pola iklim dalam warna yang sama
sekali tidak menarik. Lalu aku tak mendengar apa-apa lagi selain suara
samar-samar kaleng minumanku yang terjatuh ke bawah sofa. Aku tertidur.
Lalu
aku bermimpi.
“Ah, persediaan
kita tinggal sedikit. Kau belilah segera sebelum kita mati kehabisan oksigen.
Uangnya di tempat biasa.” Kataku pada seorang gadis dengan pakaian ketat
berwarna biru, sama persis dengan yang kupunya, juga semua orang di tempat ini.
“Aku sedang
malas keluar. Cuaca sedang sangat menyebalkan hari ini.” Jawabnya malas. Ia
masih asyik dengan game yang tengah ia mainkan.
“Kalau kau mau
mati dalam 18 jam 23 menit 5 detik lagi, terserah. Aku sudah tua. Jadi, mati
kapan saja bagiku tak apa.” Aku memperbaiki kacamata yang melorot hingga ujung
hidungku, terus membaca buku yang tengah kupegang.
“Tidaaak! Aku
tidak mau mati dalam 18 jam 23 menit 5 detik lagi.” Dia mengulang dengan
sempurna angka-angka yang baru saja kusebutkan. “Aku masih belum lulus kuliah,
belum menikah, bekerja, punya anak....” Gadis 20 tahun itu gerubak gerubuk
mencari helm, lalu berjalan ke luar setelah membawa uang yang kuletakkan
bersama kunci mobil. Aku masih bisa mendengar gerutuannya sebelum ia menghilang
di balik pintu. “Menikah? Punya anak? Yang benar saja. Aku nggak yakin mau
membesarkan anakku dalam situasi seperti ini.”
Kesunyian yang
tercipta malah membuatku tak bisa melanjutkan bacaanku. Aku berjalan mendekati
jendela, menatap kesibukan yang ada di luar sana. Manusia-manusia dengan
pakaian yang sama, memakai helm yang menyuplai oksigen ke paru-paru mereka agar
tetap hidup, kendaraan-kendaraan tanpa roda yang memenuhi atmosfer,
gedung-gedung tinggi dengan reklame yang menyala-nyala, dan langit yang tak
lagi dapat kutemui birunya.
Aku tak
percaya masa-masa seperti ini benar-benar akan kualami. Maksudku, akan terjadi
pada bumi. Masa ketika bumi sama persis seperti yang terjadi dalam film Wall-E
yang kutonton berkali-kali sewaktu masih kecil. Bumi dipenuhi sampah, polusi,
sampai tak bisa ditinggali dan hanya sedikit penduduknya yang bisa meninggalkan
bumi untuk hidup dalam sebuah pesawat luar angkasa beratus-ratus tahun
kemudian, sampai generasinya tak lagi mengenal asalnya.
“Hhh...,” aku
menjauhi jendela, merasa buku yang kutinggalkan di atas meja benar-benar lebih
menarik sekarang. “Yang benar saja. Dunia macam apa ini? Kau harus membayar
untuk oksigen yang dulu bisa kau hirup sebebas-bebasnya sampai kau lupa bahwa
tanpa oksigen kau bisa mati?” gerutuku. Aku teringat berita tadi malam yang
menyebutkan bahwa jumlah mereka yang mati karena kehabisan oksigen dan memaksa
diri menghirup udara beracun di luar sana semakin meningkat.
“Aku pulang....”
“Selamat
datang.”
“Aku sudah
menambah umur kita selama sebulan.” Katanya. Aku tak bisa menahan senyumku mendengar
kalimat itu.
“Kek, ceritai
aku masa kecilmu!”
“Sudah pernah.
Aku bosan menceritakannya padamu.”
“Ayolaaah, aku
ingin mendengarnya lagi!” gadis 20 tahun ini berkurang umurnya 15 tahun dalam
sekejap.
“Kau kan sudah
hafal ceritanya.”
“Pokoknya aku
ingin mendengarnya! Kalau tidak, aku akan lari keluar rumah tanpa helm sialan
itu!”
Aku menghela
napas dalam. Mudah sekali anak zaman sekarang mengancam orang tuanya. Tinggal
lepas helm, yang artinya mengancam bunuh diri, ia akan mendapatkan apapun yang
ia inginkan. Mungkin itu adalah salah satu dampak positif bencana
kerusakan bumi ini.
“Baiklah.
Dengarkan baik-baik.” Aku menutup buku yang sedang kubaca, sedangkan gadis
dengan mata berbinar persis ibunya itu duduk di sampingku.
“Sewaktu kecil...,”
aku menceritakan dominasi warna hijau yang memenuhi sekitarku. Bagaimana aku
masih bisa bermain di sungai-sungai yang jernih, mengejar layang-layang
melewati berpetak-petak sawah yang menghampar, juga menikmati matahari
tenggelam di kaki bukit tempatku biasa bermain dengan kawan-kawan, menikmati
hujan sambil bermain bola di lapangan bekas sawah yang tak lagi ditanami. Ah,
dan tentu saja tentang oksigen dan air yang bisa diperoleh sepuas hati tanpa
perlu bayar sepeser pun (dia sama sekali tidak memercayainya)...
“Kalau memang
benar demikian, bahwa oksigen dan air dulu dapat diperoleh secara gratis, Kakek
pasti punya bukti akuratnya.”
“Bukti akurat?
Semacam apa?” aku mendongakkan kepala. Bukankah aku ini adalah saksi nyata yang
jelas-jelas masih hidup? Apakah baginya aku ini adalah bukti yang kurang
akurat?
“Tunjukkan padaku
foto sewaktu Kakek masih kecil!” pintanya. “Meski aku sudah mendapatkan banyak
sekali informasi dari internet bahwa yang Kakek ceritakan itu benar, aku tak
bisa begitu saja memercayainya. Kan media sekarang sama saja halnya dengan
pembual bermulut besar!”
“Baiklah.
Tunggu sebentar.” Aku mencoba mengingat-ingat apakah aku mempunyai bukti
semacam itu. Aku menghilang ke dalam salah satu ruangan tempatku menyimpan
barang-barang dari masa mudaku.
“Wow. Kek, kau
yakin ini bumi?” Tangannya semacam takjub menelusuri tiap detail pohon-pohon,
sawah, pegunungan, dan langit biru menyejukkan yang menjadi latar belakang foto
itu. Foto ketika aku masih berumur belasan tahun.
“Tentu saja.
Masa kau percaya waktu itu sudah ada teknologi yang memungkinkan untuk Kakek
pergi ke tempat seperti itu, atau planet seperti itu, hanya untuk berfoto, lalu
kembali lagi dalam sekejap?”
“Ini seperti
dunia fantasi!”
“Haha.” Aku
tertawa datar untuk sesuatu yang sama sekali tidak lucu. Bagaimana bisa bumi
bisa berubah sedemikian drastis hanya dalam kurun waktu 70 tahun? Kuambil
kembali buku yang tadi kuletakkan, lalu mulai membacanya.
Gadis itu
kembali mendapatkan umurnya yang 20 tahun. Ia tampak memandangi foto yang
kuberikan dan membandingkannya dengan kenyataan yang ada di hadapannya. Ada
sesuatu yang mengganjal... entah apa yang membuatku merasa tidak lagi senyaman
tadi mendapatkan bukuku kembali.
“Hah, kalau
saja generasi Kakek dulu bisa sedikit saja tidak egois, mungkin aku sekarang
masih bisa merasakan hujan air sungguhan dan tak perlu merasa khawatir akan merasa
perih asam.” Dia berkata demikian seolah tak peduli sambil menghadapi game yang tadi
ditinggalkannya.
“Ayah,
bangun!”
Seseorang
mengguncangkan tubuhku. Aku membuka mata perlahan, menemukan seorang gadis
berumur 24 tahun yang mirip denganku mulai membereskan ruang tamu yang
berantakan.
“Kau
kerja hari ini?”
“Tentu
saja.” Jawabnya. “ Sebaiknya Ayah jangan keluar rumah dulu. Ingat pesan
dokter.”
“Sampai
kapan kau akan terus memperlakukan Ayah seperti anak kecil?” aku sudah duduk di
sofa, menghirup teh yang telah tersedia di meja.
“Hahaha.
Bukan begitu, Yah. Aku berangkat dulu, ya!” dia mencium pipiku lalu menghilang
di balik pintu. Aku kembali menyesap tehku, seteguk demi seteguk entah mengapa rasanya
jadi semakin pahit.
They paved paradise and put up a parking lot
With a pink hotel, a boutique, and a swingin; hot
spot
Big Yellow
Taxi masih
terngiang di telingaku, berulang-ulang tanpa aku bisa menghentikannya. Kepalaku
pening. Dalam keadaan seperti ini, tak mungkin aku bisa berdiam diri saja di
rumah. Udara segar (sesegar yang bisa kau bayangkan di sebuah kota yang
superpadat dengan pepohonan yang minim) selalu menyembuhkanku lebih cepat daripada
hanya mendekam di tempat tidur.
Don’t it always seem to go
That you don’t know what you got ‘til it’s gone
Sepagi
ini, jalanan sudah macet. Ternyata udara di luar memang tak ada segar-segarnya
sama sekali. Jendela tak kubiarkan terbuka dan kupencet klakson keras-keras
ketika lampu telah menunjukkan warna hijau. Aku telah menjadi bagian dari
mereka yang selalu merutuki jalan tanpa pernah melihat kelakuannya sendiri.
Setelah
meninggalkan lampu lalu lintas, aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan
sedang, memilih jalan yang lebih lengang daripada jalan protokol yang padat merayap.
Di salah satu sudut, aku melihat sekelompok masa melakukan demonstrasi. Dari
pamflet-pamflet yang mereka acung-acungkan, aku bisa membaca tulisan tentang
iklim, pemanasan global, air, ... ah, mengapa aku begitu menaruh perhatian pada
mereka?
They paved paradise and put up a parking lot
Counting
Crows tak mau berhenti menyanyikan lagu itu untukku meski aku memutar Bob
Marley di dashboard mobil. Astaga, tiba-tiba aku merasa seperti remaja
belasan tahun yang sedang ditolak cintanya. Suasana melankolis ini masih saja
kurasakan sampai ke tempat tujuanku: Museum Pohon, tempat anak gadisku yang 24
tahun itu bekerja sebagai pemandu wisata.
Aku masuk melalui sebuah pintu besar berukiran rumit yang
dibiarkan terbuka. Museum ini tidak begitu berubah sejak terakhir kali aku
kemari merencanakan pembuatannya bersama empat kawanku yang lain. Di berbagai
sudut, terdapat gambar-gambar berbagai jenis pohon yang sungguh memesona. Di
tengah-tengah museum itu terdapat diorama mega biodiversitas yang seharusnya
ada di dalam sebuah hutan hujan tropis yang masih asli.
“Ayah!”
Aku melambaikan tangan pada perempuan anggun, sama persis seperti ibunya, yang
segera saja berjalan menujuku. “Kenapa Ayah kemari?”
“Kenapa?
Memangnya kenapa? Tak boleh? Ayah ingin melihat bagaimana putri kesayangan Ayah
ini bekerja.” Aku tersenyum, lebih untuk merayunya agar dia tidak merajuk
menyuruhku kembali ke rumah. Sama seperti ibunya, ia juga selalu
mengkhawatirkanku.
“Baiklah.
Terserah Ayah saja. Aku harus kembali. Banyak pengunjung yang datang hari ini.
Sudah, ya!” Dia mengelus lenganku lalu berjalan menuju satu rombongan anak-anak
yang kelihatan bersemangat memasuki museum.
Ooooh, bop bop bop
Astaga,
bahkan di bagian yang tak penting itu pun lagu ini masih terngiang-ngiang. Aku
tak tahu berapa lama aku berdiam diri di sudut ini, memperhatikan orang-orang yang
datang dan pergi. Semuanya berwajah bahagia. Hanya sebagian yang tidak: beberapa
anak kecil yang merajuk karena tak dituruti keinginannya oleh orang tua mereka,
seperti minta es krim sedangkan di dalam sini kau tak boleh membawa makanan.
“Nah,
kemari adik-adik!” Aku memerhatikan putriku mendekati sebuah gambar yang berada
di dekat tempatku berdiri. Serombongan anak-anak mengikutinya dengan antusias.
“Ini namanya Pohon Meranti. Jenisnya ada bermacam-macam. Ini pohon tertinggi di
hutan, lho!”
“Wooow....”
Anak-anak itu memerhatikan dengan seksama gambar sebuah pohon yang menjulang
dengan dahan dan dedaunan yang berlapis-lapis. Di sekelilingnya terdapat gambar
biji buahnya yang menyerupai baling-baling bambu, tampak jatuh manja menuju naungan
induknya. “Tingginya berapa meter, Kak?” tanya seorang anak.
“Hayo,
ada yang tahu berapa meter tinggi Pohon Meranti?”
“10
meter!”
“15!”
“30!”
“Benar
semua. Tapi, tinggi pohon ini bisa sampai 60 meter! Keren, kan?”
“Wooow....”
bibir bocah-bocah itu kembali membulat.
“Di
mana kita bisa lihat pohon aslinya, Kak?” Seorang gadis cilik dengan rambut
yang dikuncir kuda bertanya.
“Sayang
sekali, sekarang pohon ini hanya bisa dilihat di sini. Pohon aslinya sudah
punah sejak satu tahun yang lalu.” Putriku memaksakan senyum yang pahit pada
akhir penjelasannya itu. “Nah, makanya, sebelum semua pohon di bumi ini habis,
kalian harus menjaga lingkungan dengan baik, ya!”
“Iyaa,
Kaaak!” anak-anak itu menjawab serempak. Kemudian, dengan kegembiraan yang tak
berkurang sedikitpun, mereka melanjutkan perjalanan.
They took all the trees, and put ‘em in a tree museum.
And they charged the people a dollar and a half to see them.
Andai
penyesalan itu datang lebih dulu. Andai. Tetapi bukan penyesalan namanya kalau
datangnya tak terlambat. Andai aku, atau generasiku, tak begitu memikirkan
perut sehingga menebangi setiap pohon yang ada sebagai dalih untuk pembangunan,
kelangsungan hidup. Andai aku, atau generasiku masa itu tak terlalu serakah,
seolah-olah hanya kami yang hidup dan berhak hidup di bumi ini. Andai aku, atau
generasiku masa itu mampu menjaga alam ini sedikit lebih baik, tentu rupa bumi
tak akan jadi seburuk ini.
They took all the trees, and put ‘em in a tree museum.
And they charged the people a dollar and a half to see them.
No, no, no
Don’t it always seem to go
That you don’t know what you got ‘til it’s gone
They paved paradise, and put up a parking lot
(Counting Crows, Big Yellow Taxi)
Dan
kami manusia sesungguhnya sedang membunuh diri sendiri pelan-pelan.
Surakarta, Februari 2014
Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Menulis Cerpen Lingkungan Hidup 2014, tapi nggak lolos :p

Komentar
Posting Komentar