Pulang
Sudah lama tak kuceritakan padamu tentang rumah. Bangunan yang berbatas dinding-dinding bata yang dicat hijau itu, yang di sampingnya ada sepetak sawah menyempil, dan kandang kambing, dan senar jemuran, juga langit yang masih bisa kau lihat birunya begitu saja kalau kau keluar dari pintu belakang melalui dapur. Ah, dan jangan kau lupakan setiap ruangan yang mengisinya. Dua buah kamar tidur, satu milikku yang diklaim adikku -yang cat dinding birunya hanya seragam dengan cat biru kamar mandi-, dan milik bapak dan ibu yang kalau aku kembali menjadi milikku sementara, juga tempat salat di antara keduanya, dan dapur di mana kami seringkali melepaskan segala di sela-sela pesta bumbu. Oh iya, satu lagi. Ini prasasti: televisi 15 inch (kalau aku tak salah ingat dan sebut) yang sejak zaman aku tergila-gila pada Saras 008 sampai sekarang adikku tak pernah alpa melihat video klip Raihan dan orangtuaku melihat Raden Kian Santang setiap malam. Ia masih ada di sana, meski tahun-tahun berlalu, layarnya tak sejernih dulu, juga channelnya makin sedikit saja.
Sudah lama tak kuceritakan padamu tentang rumah. Bangunan bercat hijau, berhalaman mungil di mana aku selalu disambut tawa renyah dan pelukan hangat Idan adik kecilku ketika kembali. "Kakaaak, Kakaak! Dan kangen!" katanya sambil berlari-lari padaku. Tempat di mana kutemukan kehangatan yang tiada dua meski tak selalu melalui canda dan tawa.
Sudah lama tak kuceritakan padamu tentang rumah. Tentang tempat di mana aku dan juga seharusnya kau, selalu bisa pulang. Tempat di mana orang-orang yang selalu ada buat kita sering terlupa oleh merah jambu asmara, sahabat-sahabat yang kadang membuat lena. Tempat di mana kulihat pelangi melengkung indah sore itu.
![]() |
| Pelangi warna-warni |


Komentar
Posting Komentar