Biru yang Setengah Kelabu
Malam ini kami ngobrol tentang langit biru yang dibilang setengah kelabu.
Katanya dalam pesan singkat yang cukup panjang,"Aku suka kalimat Camus yang ini: siapa saja yang menyatakan langit biru padahal sebenarnya setengah kelabu, berarti ia telah melacurkan kata-kata dan mempersiapkan diri untuk menjadi tiran." Rasanya aku bisa melihat wajahnya yang serius tengah membaca salah satu bukunya Albert Camus atau bacaan apa pun yang terdapat kalimat-kalimat itu di dalamnya. Tetapi, besar kemungkinan dia memang sedang membaca Albert Camus
Aku memperhatikan barisan kalimat dalam layar dua kali tiga sentimeter itu. Melacurkan kata-kata. Tiran. "Apakah itu sama dengan ketika kau tanya aku kenapa dan kujawab aku tak apa padahal ada sesuatu yang terjadi?" Tanyaku.
"Bisa jadi. Maka dari itu, aku sering memintamu untuk terus jujur padaku." Begitu katanya kemudian.
"Sebenarnya, apa sih maksud pelacuran kata-kata ini?" Bagaimana kata-kata dapat dilacurkan?
"Kau harus tahu dulu bagaimana pelacur dalam arti sebenarnya."
"Wanita yang menjajakan dirinya."
"Ya, mereka bersolek, menghias dirinya seindah mungkin untuk menarik pelanggan. Padahal di dalam tubuhnya ia sudah rusak, terkena penyakit HIV dan sebagainya."
"Tapi kan aku mengatakan aku tidak apa-apa karena tahu saat itu kau sedang banyak pikiran. Masa aku mau menambah beban pikiranmu dengan segala keluhanku?"
"Yah, terserah kau saja. Itu hakmu, aku hanya meminta tanpa perlu intervensi. Yang jelas, pembenaran di atas ketidakjujuran itu minus, kalau tak mau dibilang omong kosong." Kali ini aku seperti melihat wajah serius cueknya menghadapku.
Ah, ya. Kejujuran memang seringkali pahit. Sayangnya, hanya sedikit yang bisa menghadapinya dengan berani. Sebagian yang lainnya memilih untuk mengatakan kebohongan yang begitu manis, atau bertingkah seolah kejujuran itu tak ada sama sekali, dan kebohongan itulah kejujuran paling jujur yang dianggap(atau dipilih)nya. Ia pura-pura tak tahu, pura-pura bodoh, pura-pura tak terjadi apa-apa, tetap mengatakan langit di atas sana biru padahal jelas terlihat ia setengah kelabu yang bikin pilu. Sedih, deh.
"Bisa jadi. Maka dari itu, aku sering memintamu untuk terus jujur padaku." Begitu katanya kemudian.
"Sebenarnya, apa sih maksud pelacuran kata-kata ini?" Bagaimana kata-kata dapat dilacurkan?
"Kau harus tahu dulu bagaimana pelacur dalam arti sebenarnya."
"Wanita yang menjajakan dirinya."
"Ya, mereka bersolek, menghias dirinya seindah mungkin untuk menarik pelanggan. Padahal di dalam tubuhnya ia sudah rusak, terkena penyakit HIV dan sebagainya."
"Tapi kan aku mengatakan aku tidak apa-apa karena tahu saat itu kau sedang banyak pikiran. Masa aku mau menambah beban pikiranmu dengan segala keluhanku?"
"Yah, terserah kau saja. Itu hakmu, aku hanya meminta tanpa perlu intervensi. Yang jelas, pembenaran di atas ketidakjujuran itu minus, kalau tak mau dibilang omong kosong." Kali ini aku seperti melihat wajah serius cueknya menghadapku.
Ah, ya. Kejujuran memang seringkali pahit. Sayangnya, hanya sedikit yang bisa menghadapinya dengan berani. Sebagian yang lainnya memilih untuk mengatakan kebohongan yang begitu manis, atau bertingkah seolah kejujuran itu tak ada sama sekali, dan kebohongan itulah kejujuran paling jujur yang dianggap(atau dipilih)nya. Ia pura-pura tak tahu, pura-pura bodoh, pura-pura tak terjadi apa-apa, tetap mengatakan langit di atas sana biru padahal jelas terlihat ia setengah kelabu yang bikin pilu. Sedih, deh.

ini membuatku berfikir
BalasHapusBaguslah kalau begitu ._.
BalasHapusaaaaa ini :'))
BalasHapus#kowekudukuat
BalasHapus