Kelas Malam
Hanya empat orang yang masih tinggal di sekre malam tadi. Satu tak dihitung karena dia (sudah dianggap) menjadi satu kesatuan dengan sekre itu sendiri. Seperti biasa, obrolan jadi terasa agak menyenangkan (dan bisa berkembang menjadi menyenangkan) kalau jumlah penghuni sekre berkurang cukup banyak dan suasana sudah menjadi agak tenang. Mulanya kami semua akan pulang ketika Mas Fauzi mulai bertanya soal diskusi film yang akan kami lakukan besok. Dia meminta kami untuk bercerita tentang film yang pernah kami tonton.
![]() |
| Perhatikan pedangnya. |
"Ayo, ceritalah yang banyak!" katanya dengan mata yang berbinar-binar, jelas berharap kami bisa ngomong hal lain selain moral value, alur, tokoh, dan hal-hal seperti biasa yang biasa ada di pikiran orang-orang sehabis nonton sebuah film. Tapi kami tak bisa mengatakan lebih banyak lagi. Pun apa yang bisa kami ceritakan tentang Rurouni Kenshin tak melebihi sepertiga (kukira malah jauh lebih sedikit dari itu) dari apa yang dia ceritakan pada kami tentangnya selama kurang lebih tiga puluh menit kemudian. Kelas malam yang tak sengaja kudapatkan itu mengingatkanku pada suatu pagi minggu kemarin.
Aku bertemu Mega ketika berangkat kuliah. Kami membunuh waktu di dalam bus kampus dengan mengobrol. Dia bilang padaku bahwa dia sedang malas kuliah. Haha. Ternyata tak hanya aku yang merasakannya.
"Males, tahu. Rasanya kuliahku ini hanya membuang-buang waktu saja. Apa yang disampaikan dosen dalam kelas pun nggak penting. UKD kemarin juga sama nggak pentingnya." Wajahnya yang selalu terlihat jenuh itu bertambah banyak lipatannya pagi itu.
"Hahaha! Kowe bener, Meg!" Aku mengingat UKD terakhir kami yang konyol itu -menjawab empat soal uraian teoritis dalam waktu 30 menit, menjawab soal yang sama berdasarkan buku catatan dalam waktu 10 menit, menilai sendiri hasil pekerjaan kami dengan nilai maksimal 70 yang nanti akan dikompilasikan dengan nilai dari dosen.
"Daripada cuma wasting time di kelas, mending kita melakukan hal-hal lain yang lebih berguna buat kita, quality time sama diri sendiri." Timpalku, atau dia, entah siapa aku lupa. Yang pasti, kami memikirkan hal yang sama. Kalau aku tak mendapat apa-apa ketika menghadiri kuliah selama setidaknya lebih dari satu jam setiap Senin sampai Jumat (kadang pun kosong karena dosen tak datang untuk mengajar karena alasan pusing atau tidak enak badan) dan masuk kelas hanya untuk satu tanda tangan agar absen terlihat penuh, aku sungguh lebih memilih membolos (meski tetap berusaha TA) dan melakukan hal lain yang kadang pun sama tak bergunanya dengan menghadiri kuliahku, tapi setidaknya lebih menyenangkan daripada bengong-bosan-ngantuk mendengarkan ceramah dosen yang selalu gagal menerjemahkan komunikasi nonverbal mahasiswanya.
Aku dan Mega memasuki kelas fotografi dengan wajah yang sama lesunya. Ya, pagi itu, dan barangkali pagi-pagi sebelumnya dan sesudah pagi itu, aku menghina-dinakan diriku dengan memasuki kelas, menginjak-injak sendiri apa yang baru saja aku katakan. Sial. Tapi aku tak tahan untuk membolos mata kuliah kedua. Dan sekali lagi, naluri untuk menjadi mahasiswa yang baik di mata dosen menghantui.
"Kalau mau bolos jangan setengah-setengah. Bolos ya bolos aja." Itu Mega lagi. Kalimatnya tepat mengenai ulu hatiku.
"Tapi kalau aku bolos, berarti aku nggak berbakti sama orang tua, Meg." Jawabku sok.
"Iyo, sih."
Setengah jam kemudian, alih-alih bersama dengan anak-anak Komunikasi A 2012 di kelas, atau menunggu dosen di depan kelas, aku sudah duduk manis menunggu temanku di gerbang FISIP. Bukannya aku tak berbakti pada ayah dan bunda, hanya saja, beliau berdua membayar 2,4 juta tiap semester supaya aku mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. Jika aku tak mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan di kelas dari dosen-dosen itu, bukankah aku berhak belajar dengan caraku sendiri? Aku malah merasa lebih berdosa memikirkan bahwa kepulanganku dari Solo ini tak akan membuatku menjadi siapa pun selain pengemis uang, kehormatan, dan kekuasaan. Barangkali ini bukanlah tindakan yang cukup terpuji untuk ditiru, membolos, maksudku. Tapi, aku tak mau menjadi komoditas kapitalisme pendidikan -meski aku sudah dengan menjadi mahasiswa kampus ini dua tahun lalu- yang bisa mereka jejali dengan apa pun yang mereka mau untuk kemudian menjadi sekrup kapitalisme-sekrup kapitalisme penerus mereka.
"Apa yang terjadi ketika Kenshin meletakkan samurainya ke tanah?" Mas Fauzi memandangi kami satu per satu. Tak ada satu pun suara yang menjawabnya. "Mereka mengarahkan pandangannya ke barat, ke eropa. Bagaimana bisa samurai yang tangguh dikalahkan oleh peluru sekecil ini?" Lelaki yang malam itu mengenakan kaus hijau Festival Sastra Solo menyatukan telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran seukuran selongsong peluru. Lalu mengalirlah cerita tentang Jepang, samurai, restorasi Meiji, Indonesia yang tak akan mungkin merdeka bila Nagasaki dan Hiroshima tak kena bom atom, Indonesia yang jauh tertinggal 100 sampai 200 tahun dari Jepang... "... itulah kenapa pedang Kenshin tajam ke dalam (yang tajam adalah bagian yang seharusnya nggak tajam). Mereka tidak lagi berperang dengan pedang, melainkan dengan semangat (samurai di dalam dirinya). Ketika mereka meletakkan pedang samurai mereka ke tanah, mereka berkata pada diri mereka sendiri, 'aku harus bisa mencipatakan teknologi yang lebih maju daripada orang-orang eropa itu.' ...orang Indonesia nggak bisa melakukan ini. Mbuh ngopo, ket mbiyen aku ra ngerti."
"Mas, aku lebih ikhlas kalau uang 2,4 juta tiap semesterku kubayarkan padamu daripada ke dosen-dosen itu." Kukatakan begitu padanya, yang disambut oleh tawa teman-temanku, ketika kami pamit pulang.


cie pedang-pedangan
BalasHapus((jatuhin bom)) hahaha
BalasHapus