Mencari Buku


Setelah hampir satu tahun sejak terakhir kali meminjam buku di perpustakaan kampus saya, hari ini saya tidak bisa menolak kehendak hati untuk kembali menyambangi rak-rak hijau yang berjajar di ruangan yang tidak begitu besar itu dan menemukan dua buku yang cukup menarik untuk saya baca. Tentu saja saya tidak berharap banyak pada rak sastra. Oleh karena itu, saya mencari-cari buku di rak paling utara, bernomor 302 dan 070. Setahu saya, buku-buku di situ memang teruntuk mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS sekalian.

Sengaja saya langsung menuju rak dan tidak ke meja katalog online terlebih dahulu. Saya sudah tahu bahwa buku-buku di sini, meski telah dinomori untuk mempermudah pencarian, tidak diletakkan secara alfabetis pada raknya sehingga tetap saja saya harus mencari buku yang saya inginkan seperti tak ada petunjuk apapun di sampulnya. Saya menduga saya akan agak kesulitan menemukan buku Komunikasi Politik dan Komunikasi Sosial dan Pembangunan. Ternyata, dugaan saya benar adanya. Setelah sekitar 15 menit mencari, saya tidak menemukan apa pun. Saya jadi ragu apakah perpustakaan saya tidak memiliki buku yang ingin saya pinjam tersebut. Ah, tidak mungkin. Batin saya. Karena saya juga berlomba dengan waktu—saat itu pukul 11.30 lebih, setengah jam sebelum jam istirahat perpustakaan dimulai sampai jam 13.00, dan selama istirahat mahasiswa harus meninggalkan perpustakaanmaka saya memutuskan untuk memastikan ke meja katalog online apakah buku yang saya maksud benar-benar tidak ada.


Ternyata ada. Tentu saja ada. Harus ada! Saya menemukan kode 302.2 McN i untuk salah satu buku Komunikasi Politik yang ingin saya pinjam, terbitan tahun 1999, sudah terbit cukup lama juga, tapi tak apa. Buku tentang Komunikasi Sosial dan Pembangunan pun ada, tetapi saya ragu akan meminjamnya karena terbitan paling baru yang tertera di katalog online adalah tahun 2000-an.

Saya pun kembali ke rak satu, mencari-cari 302.2 McN i di antara buku-buku yang ada. Saya menemukan judul yang sama beberapa kali di kolom rak yang berbeda-beda, judul bukunya Komunikasi Internasional, sayang sekali bukan buku yang sedang saya cari. Saat itu saya benar-benar sadar bahwa penyusunan alfabetis pada buku-buku di perpustakaan memang sangat membantu. Setidaknya, buku-buku di perpustakaan pusat sudah tidak seberantakan di sini.

Karena tak juga menemukan buku yang ingin saya pinjam, saya menuju meja operator (?) untuk meminta seorang dari dua penjaga perpustakaan (saya ragu akan menyebut mereka pustakawan) itu membantu saya menemukan buku yang saya cari.

“Mbak, saya kesulitan mencari buku ini. Bisa bantu nyari nggak, Mbak?” Tanya saya sambil menunjukkan catatan kode buku pada memo telepon genggam saya.

Saya berekspektasi bahwa Mbak yang siang tadi memakai jilbab berwarna krem itu akan langsung melihat kode buku yang saya tunjukkan, menuju rak di mana temoat buku itu berada, lalu mencarikannya untuk saya. Saya pikir, itulah yang normalnya terjadi bila seseorang di perpustakaan kesulitan mencari buku yang ingin ia pinjam. Namun, kenyataan seringkali jauh dari ekspektasi.

“Judul bukunya apa, Mbak?” Tanya Mbak jilbab krem (kenapa saya belum tahu namanya ya, padahal saya sudah kuliah di sini hampir dua tahun lamanya), menoleh sepersekian detik pada saya.

Political Communication.” Jawab saya. Sepertinya dia mengetik apa yang saya katakan di monitornya.

“Nggak ada itu, Mbak.”

“Bentar Mbak, saya lihat dulu.” Saya kembali ke meja catalog online yang berada tak jauh dari situ, lalu kembali ke meja operator dengan judul yang benar. “An Introduction to Political Communication, Mbak.”

Mbak jilbab krem mengetik apa yang saya katakana di monitornya. Saya tidak tahu mengapa Mbak jilbab krem tidak segera menuju rak dan membantu saya menemukan buku yang saya cari. Seharusnya dia tak perlu mencarinya lagi di katalog melalui komputer yang ada di hadapannya, karena jelas-jelas saya telah datang padanya membawa kode di mana seharusnya buku itu berada.

“Kodenya, 302.2 McN i. Itu di rak yang sebelah sana.” Kata Mbak jilbab krem sambil menunjuk ke rak yang 15 menit yang lalu telah saya ubek-ubek.

“Iya, Mbak. Saya tadi udah nyari bukunya di katalog online, terus saya cari ke rak di sana juga tapi saya kesulitan menemukan bukunya.” Jelas saya pada Mbak jilbab krem.

“Yang Bahasa Inggris di sebelah sana, yang paling ujung.” Sekali lagi dia menunjuk ke rak yang sama. Jadi bantuan seperti inilah yang saya dapat ketika saya kesulitan mencari buku di perpustakaan ini.

“Oke, Mbak. Makasih.” Aku memberikan satu senyuman manis padanya, kemudian berlalu dari situ.

Sekali lagi saya menghadapi buku-buku tak beraturan ini. Kali ini dengan hati yang agak jengkel.

“Nggagasooo. Terus gaweanmu neng perpus ki ngopo wae?” gerutu saya dengan suara pelan sembari kembali mencari di tempat yang Mbak jilbab krem tunjukkan. Saya pikir dia pasti tidak akan menuju kemari untuk membantu saya. Ternyata, sebelum saya menyadarinya dia telah berada di samping saya untuk membantu saya mencari buku itu. Untunglah saat itu gerutuan saya sudah berakhir.

Buku yang ingin saya pinjam saya temukan tak ada dua menit kedatangannya pada saya. Saya bilang padanya bukunya sudah ketemu, dan dia meninggalkan saya kembali ke meja operator. 15 menit menjelang jam istirahat, saya berhasil meminjam dua buku: An Introduction to Political Communication dan Membongkar Kuasa Media.

PS.
Tampaknya mahasiswa FISIP UNS nyaman-nyaman saja dengan penataan buku perpustakaan yang semacam ini. Oh iya, pinjam buku saja hanya ketika ada tugas dan diwajibkan ada referensi dari buku dan waktu semester akhir menjelang skripsi saja, kok. Jadi, ya sudahlah.
(Ngetik sambil ngaca)

Komentar

Postingan Populer