Bahagia Itu (Tidak) Sederhana

Kata Levinas, sejak kali pertama aku bertemu denganmu, maka pada saat itu pulalah aku bertanggung jawab atasmu: keselamatanmu, apa yang mungkin menyakitimu... Aku bertanggung jawab dalam kesadaran intuitif bahwa kamu itu mudah terluka, amat peka, seluruh yang ada di kamu terserahkan kepadaku. Tanggung jawab itulah yang mula-mula menjadi pedoman segala sikap yang kuambil dengan sengaja kepada kamu kemudian. Dan kesadaran penuh atas tanggung jawab itulah-tanpa memikirkan pertanggungjawaban yang sama kamu rasakan kepadaku-yang menentukan segala tindakanku padamu selanjutnya. Titik tolak paling pertama atas segala kesadaranku itu adalah bahwa aku harus mengakui dan melindungimu dalam segala kelainanmu denganku.


Dengan kata lain, Levinas ingin menunjukkan bahwa segenap sesama, tanpa kecuali menjadi tanggung jawab kita, yang mengikat kita untuk menghormati dan menyelamatkannya,[1] karena pada dasarnya setiap manusia memiliki keluhuran yang barangkali tak bisa kita lihat, dan tanggung jawab ini bersifat keharusan. Secara normatif, kita harus bersedia memerhatikan orang lain, menghormatinya dalam segala perbedaan, dan tentu bersedia bertanggung jawab atasnya. Nah, ini juga merupakan salah satu pengamalan dari sila kedua pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab.

Ketahuanku tentang etika penebusan Levinas ini pun menuntut tanggung jawab lebih besar dariku daripada mereka yang belum tahu: bahwa aku memang harus berusaha berbuat demikian. Menjadi lebih peka terhadap sekitarku, mau peduli, mampu melakukan sesuatu untuknya. Aku bertanggung jawab atas apa yang kuketahui.

Maka maafkanlah jikalau judul tulisanku ini agak menyedihkan, serasa aku menjelma manusia yang sulit untuk berbahagia. Tentu saja bukan begitu maksudnya. Tetapi, betapa semakin tua aku semakin merasa bahwa bahagia itu tidak lagi sederhana. Bukannya aku berubah kedap rasa, bukan. Bukan pula menikmati secangkir susu cokelat hangat sambil menggambar, salat subuh di pagi hari yang sangat jarang terjadi, juga pekokan bersama anak-anak Kentingan bukanlah salah satu definisi dari bahagia, bukan. Barangkali menjadi dewasa memang tak pernah sederhana.

Bahagia bukan lagi berbentuk Idan, adik kecilku yang Juli nanti genap empat tahun: bangun tidur, menangis jika tak ada seorang pun yang menemaninya, dimandikan, mengajak aku atau ibuku atau bapakku untuk bermain, meminta kami mengisi bak truk mainannya dengan pasir, merengek minta jajan, naik odong-odong... Bahagia adalah ayah dan ibuku yang selalu ada di samping Idan ketika ia bangun tidur, memandikannya tiap pagi dan sore, mengisikan bak truk mainannya dengan pasir, memberinya uang untuk jajan dan naik odong-odong, dan kadang kala memarahi lelaki kecil itu agar tak kebacut... Bahagia bukan hanya soal aku.

Referensi:

Santoso, T. B. (2009, Februari 20). Refleksi Metafisis Atas Makna Substantif Carok Dalam Budaya Madura. Dipetik Mei 26, 2014, dari Ilmu Pengetahuan Sosial: http://tulusbudisantoso.wordpress.com/category/uncategorized/

Komentar

Postingan Populer