Kepadaku Satu Tahun yang Lalu

Kenapa manusia selalu merasa begitu penting menandai bergantinya usia?

OhLife TimeCapsule  mengirimkan surat yang kutulis untukku pada 4 Februari 2013 lalu. Dia cerewet sekali. Katanya dalam surat yang cukup panjang dan kekanak-kanakan dan penuh mimpi dan penuh harapan:

Dear aku di masa depan,
Selamat ulang tahuuuuun! Selamat tambah tua yaa gembeell!! Hahahahha umurmu 20 tahun ya sekarang? Ya ampun. Tua banget? Gimana rasanya 20 tahun? Eh, eh! Kamu lagi baca ini dimana nih? Di Solo atau di Depok? Ya ampun, semoga di Depok yaaa! Kalau di Depok, kamu jadi ikut MAPALA UI nggak? Jadi ikut SUMA? Eh, jangan-jangan kamu masih di Solo aja? -_- Well, ya nggak papa sih kalo kamu masih di Solo. Aduh, tapi gimana ya? Waktu aku nulis ini aku bener-bener pengen kamu di Depok, sih. Hahahha baiklah, abaikan, abaikan. Di manapun kamu membaca ini, kamu harus yakin memang di sinilah tempatmu.
Ehm. Oke lanjut lagi. 
Sekarang ini aku lagi ada di ruang tamu rumah. Adik baru aja bikin aku emosi karena menghamburkan biji-biji jambu biji yang nggak bisa dikunyahnya. Apa sekarang dia masih saja menyebalkan? Ah aku tahu. Jawabannya pasti iya. Oh iya, ayah sama ibu gimana keadaannya? Semoga semuanya baik-baik aja ya. Aduh, jadi kemana-mana nih ceritanya. Eh tapi nggak papa dong ya? Jarang-jarang kamu dapet surat spesial semacam dariku alias kamu di masa lalu seperti ini. Hehehehe.
Baiklah, cewek 20 tahun. Waktu aku nulis ini, ada banyak sekali hal yang ada di otakku. Pertama, aku ingin bertanya padamu. Apa otakmu sudah baikkan? Apa frekuensi ngadatnya udah berkurang? Lebih bagus kalo sekarang enggak ngadat lagi. Eh, eh! Novelmu gimana? Udah terbit beluuuum? Ah, pasti udah kaaan? Terbitnya di mana? Tembus gagas nggaaakk? Hahaha ciyeee jadi penulis beneran ya sekarang? Ciyeee selamat yaaa kebacuuut! Jadi penulis juga kamu akhirnyaaa!! :DD
Teruuus ... Kamu masih sama *tit* nggak? Huahahahha. Oh iya. Kamu udah berpakaian selayaknya muslimah belum? Hah, kamu tuhh masa dari dulu-dulu pengen doang, nggak diwujud-wujudin. Malu kek sama diri sendiri -_-
Eh, kamu udah 20 tahun ya sekarang? Beneran? Ya ampun aku sampai lupa menanyakan yang ini. Kamu masih hidup nggak? Huahahahahha. Kali aja yang baca ini adalah orang lain dan kamu (aku di masa depan) udah mati gara-gara membela tanah air ini *halah*.
Baiklaaahh ....Aku pengen nulis romantis nih sekarang.
Hey kamu, atau aku di masa depan. Apa yang sudah kamu lakukan pada hidupmu 20 tahun ini? Kamu udah jadi seseorang yang lebih baik belum? Udah nggak bolong-bolong lagi sholat 5 waktunya? Udah nggak suka nunda-nunda pekerjaan lagi? Udah makin sayang belum sama Allah? Kamu tuh udah tua taauuuukk. Sadar umur dong.
Ah, waktu aku nulis ini ke kamu, aku pengen banget berbuat lebih banyak untuk orang-orang di sekitarku, untuk negeriku. Well, belum tau spesifiknya gimana sih. Yang jelas, aku bener-bener pengen berbuat, nggak cuma pinter ngomong sama nulis doang. Pokoknya gitu deh. Kalo kamu masih inget mimpi kamu yang ini, kamu pasti ngerti sendiri kok.
Oke, cewek tua. Sekali lagi, selamat ulang tahun kuucapkan untukmu. Sori ya kalo suratku ini gaje. Habis waktu nulis ini aku lagi laper banget dan nggak terlalu pengen makan sih *aku masak oseng terong tadi*.
Terakhir, baik-baik ya di mana pun kamu berada :)
Senin, 4 Februari 2013
Dengan cinta,
Aku

Ada semacam geli ketika kubaca surat ini pada 5 Mei lalu. Betapa satu tahun lalu aku masih remaja (akhir) yang benar-benar memandang seluruh aku dengan harapan yang begitu besar. Rasa-rasanya, aku masih bisa merasai perasaanku ketika aku mengetik surat di atas pada suatu sore. Akan bagaimana aku di masa depan ketika membaca surat ini? Bagaimana aku sekarang ketika membaca surat ini? Sejujurnya, tidak mudah merasanya.

Di mana aku sekarang? Kuamati kedua pojok berseberangan dengan pintu yang penuh stiker itu: bertumpuk-tumpuk buku. Dan pojok lainnya di kiri pintu: loker, lemari inventaris, rak yang berisi majalah-majalah dan buletin-buletin, lantai keramik putih yang penuh kertas-kertas entah berguna atau tidak, dan tas-tas penghuninya yang belum pulang, dan majalah XX yang belum didistribusikan. Juga obrolan-obrolan di balkon yang dapat kudengar dari sini, dan seseorang yang tengah serius menghadapi laptop bersandar buku-buku. Aku masih di Solo, di sebuah sudut Universitas Sebelas Maret. Sampai sekarang tanya itu memang belum menemukan jawabnya: mengapa Tuhan begitu yakin tempatku memang di sini? Tetapi, kata seseorang, jawaban itu pasti akan datang, tak perlu dirisaukan.

Apa kabar rumah? Aku pulang hari Selasa yang lalu, dan langsung kembali ke Solo paginya. Hanya semalam, dan meski semalam, pulang, akhir-akhir ini selalu menyisakan berbagai perasaan. Adikku, Idan, lebih menyebalkan daripada yang dulu, namun dengan cara yang membuatku lebih sering rindu. Bapak dan Ibu... Setiap melihat mereka, aku menemukan harapan-harapan besar di mata mereka, bahwa setelah kuliah aku akan bekerja, "Syukur-syukur bisa nyekolahin Adik," kata Bapak, dan menikah... dan lain-lain sejenisnya. Ibu tahu apa yang sebenarnya kupikirkan.

Apakah novelku sudah terbit? Aku tak lagi memikirkannya. Bagaimana perempuan yang masih bodoh dan belum tahu apa-apa ini akan begitu tega membuat pembaca menyesali diri telah membaca tulisan-tulisan yang hanya akan menjadi sampah? Tak diperhitungkan? Sekarang, aku hanya berpikir bagaimana caranya dua tahun yang tersisa di kampus ini mampu kugunakan sebaik-baiknya untuk menjadikan diriku ada.

Apakah aku masih mempunyai status pacar dengan pacarku yang dulu? Apakah aku sudah berpakaian layaknya muslimah? Tidak. Belum. Bagaimana aku harus mendeskripsikannya dalam kalimat yang lebih panjang sekaligus tak rumit? Ada keterkaitan yang erat antara alasan jawaban pertanyaan pertama dan jawaban pertanyaan kedua. Tidak karena aku ingin menjawab ya pada pertanyaan kedua (singkatnya demikian), belum karena kupikir jawaban tidak atas pertanyaan pertama akan serta merta bisa mengubahku, membuatku teguh akan pendirianku sebelumnya. Tetapi waktu begitu kejam dan baik hati dalam cara-cara yang sampai saat ini tak sepenuhnya kumengerti, dan manusia senantiasa bertumbuh-luar dan dalam-bersamanya, tanpa pernah ia sadar sebelum waktu yang panjang menyadarkannya: telah berapa lama ia-waktu- membawanya hingga sampai ke titik ini. Telah setahun berlalu sejak dua pertanyaan di atas keluar dari pikiran seorang perempuan berusia 19 tahun yang penuh optimisme. Dan yang dia hadapi detik ini adalah... kusadari sepenuhnya, perempuan yang benar-benar berbeda. Apakah ini hanya soal angka? 20 dan 19? Tidak. Tapi segala yang mengisi jeda di antaranya. Pernah aku bertanya pada Mas Fauzi, kuharap aku tak perlu menjelaskannya lagi siapa dia, "Mas, bagimu perempuan yang shalihah itu yang bagaimana?" dan jawabnya, "Shalihah?" dia mengulang kosakata itu. "Bagiku perempuan yang shalihah itu adalah yang tidak berhenti belajar."

Perempuan 20 tahun ini kembali bertanya pada ia yang masih berusia 19 tahun: apakah jawaban itulah yang membuatnya khianat atas kalimat-kalimat yang pernah ia yakini sebelumnya, yang padahal terdapat kebenaran yang mutlak di dalamnya? Kulihat diriku sekali lagi, dan aku tak bisa membujuk diriku sendiri untuk merasa yakin atas semua itu. Lalu, jika aku memutuskan untuk belajar dengan caraku sendiri, menemukan dengan cara yang akan membuatku benar-benar tak akan goyah pada apa pun suatu hari nanti, boleh-boleh saja bukan? Bukankah manusia tak pernah diperintahkan untuk berhenti belajar sampai ia dijemput ajal?

Telah kukatakan padamu sedari awal, bahwa tidak mudah merasakan semua ini, meresapinya dalam-dalam. Tetapi kusadari sepenuhnya bahwa ada satu jawaban yang pasti: aku hidup! Dan apa yang sudah kulakukan pada hidupku 20 tahun ini? Bersenang-senang. Dan aku begitu mencintai Tuhanku dalam cara yang hanya Dia dan aku yang tahu.


Surakarta, 9 s.d. 10 Mei 2014
Na'im

Komentar

Postingan Populer