Terkutuklah Aku!

Terkutuklah aku yang tidak tahu menahu soal teori-teori komunikasi serta literatur tentang media dan politik sehingga menyulitkanku memulai kalimat di tugas Komunikasi Politik ini. Terkutuklah aku, mahasiswa yang telah dua tahun kuliah (?) di jurusan Ilmu Komunikasi tetapi tidak paham soal apa yang dikatakan oleh McQuail, McLuhan, Tubb and Moss, Fagen, Liliweri, dan tokoh-tokoh berhaluan sama lainnya tentang media dan komunikasi. Terkutuklah aku, mahasiswa hina-dina yang dengan tega memenjarakan dirinya sendiri dalam jurang kebodohan yang berkepanjangan! Dua tahun! Dua tahun kuliah (?) dan masih tak tahu harus bagaimana mendefinisikan teori sosial! Terkutuklah aku yang telah mencoreng muka profesor handal jebolan The University of Newcastle Australia itu, Prof. Drs. H. Pawito, Ph. D yang telah mengajarku dari semester satu! Terkutuklah aku yang masih berkualitas kawe seribu entahlah sebagai mahasiswa! Hah, rasanya tak enak kalau hanya menyalahkan diri sendiri. Maka, terkutuklah kampusku yang tega-teganya membiarkanku menjadi mahasiswa seperti ini!


"Kamu tak perlu menyesalinya terus-terusan."
"Kenapa tak perlu?"
"Karena setelah lulus ini, kamu tetap tidak kehilangan pengetahuanmu."
"Bagaimana maksudmu?"
"Begini. Yang lulus karena menghafal soal-soal ujian terdahulu bernasib sama. Naik ke tingkat dua, pengetahuan tingkat satu hilang. Naik ke tingkat tiga, pengetahuan tingkat dua hilang. Naik ke tingkat empat, pengetahuan tingkat tiga hilang. Lulus sarjana, seluruh pengetahuan hilang."
"Begitukah mutu universitas kita?" Cucu perempuan Wisnusarman hampir berteriak dengan mata melotot nanar.
"Begitulah."
Mendengar itu cucu perempuan Wisnusarman menangis makin keras. Sedu-sedannya memenuhi ruang perpustakaan.
(Dikutip dari Cucu Wisnusarman, halaman 44 s.d. 45)



Surakarta, 15 Juni 2014
Di sela-sela mengerjakan tugas
dalam suasana tidak kondusif,

Na'im

Komentar

Postingan Populer