Bertemu Tuhan


“Apakah orang yang jarang menyebut nama Tuhan selalu berarti ia tak ber-Tuhan? Tak beriman?” Saya bertanya dengan wajah jemu di depan monitor. Buku-buku yang saya harap berserakan di sekitar saya saat ini di antaranya: Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai, The (blablabla) of Gods, Pergolakan Pemikiran Islam, dan sejenisnya. Bukan semacam Di Negeri Penjajah dan Catatan Pinggir Edisi 6 ini.
“Ah, seperti para pecinta manusia, cintamu pada Dia yang sekarang lebih sering kamu sebut Maha Asyik dan Keren, mengikuti serba-serbi cinta masa kini, pun sah-sah saja bila kamu ucapkan dengan gamblang seperti satu tambah satu sama dengan dua. Seperti setiap kekasih merindukan “aku mencintaimu” setiap waktu. Ibumu pun pasti diam-diam bahagia kalau tiap hari kamu bilang sayang padanya.” Jawabnya.
 Saya, yang masih berwajah jemu, memandangnya sekilas,” Sayangnya, saya bukan tipe pecinta yang rajin upload foto bersama dan status tanda dia segalanya di berbagai social media. Saya mengharapkan sesuatu yang sekali saja terjadinya, lalu ngena di hati saya, dan bertahan selama-lamanya. Barangkali seperti Danarto yang tiba-tiba saja bertemu Tuhan dalam di mana-mana, dalam apa-apa: supir yang Tuhan, ayam yang Tuhan, kucing yang Tuhan, padi yang Tuhan… yang dengan akrabnya menyapa Tuhan dengan bahasanya sendiri, Jawa, ketika berbincang dengannya. Begini katanya.” Saya mengambil jeda untuk tertawa terlebih dahulu sebelum melanjutkan, “Saya kan buta huruf Arab dan tidak bisa mengaji sampai sekarang. Bahasa asing tidak ada yang nyanthol pada saya. … nah, waktu saya pakai bahasa Jawa, rasanya enak sekali. Luar biasa, karena saya menghayati rasa bahasa itu. Tapi lama-lama, kok salat saya kayak pertunjukan wayang orang atau wayang kulit…[1] Sebelum saya menyelesaikan cerita pada bagian Danarto yang akhirnya memakai bahasa Arab juga dalam salatnya, saya sudah terlanjur tertawa terbahak-bahak. Huahahahahahaha! Bayangkan, betapa dekat lelaki berwajah teduh itu pada Tuhan sampai-sampai  ia bisa begitu leluasa bercanda dengan-Nya. Duhdek!
“Kamu sehat?” tanyanya dengan dahi berkerut-kerut melihat saya yang tadi layaknya mayat hidup, kini ketawa-ketawa seperti badut.
“Hahahahaha! Yah, beruntung sekali saya kalau bisa seperti dia. Ia tak susah-susah berkenalan dengan Tuhan, eh, Tuhan sendiri yang dengan senang hati berkenalan dengan makhluk Danarto itu. Jadilah cerpen-cerpen dengan gayanya yang khas, kata teman spesial saya beraliran sufistik. Dia sendiri mengaku cocok dengan konsep wahdatul wujud itu.”
“Nah, itu artinya, sebenarnya Tuhan tak perlu dicari bukan? Dia lebih dekat padamu daripada urat lehermu sendiri. Tuhan datang pada lelaki penulis itu karena ia tak tahu tentang hal ini. Kamu yang sudah tahu, tinggal meyakininya saja, to? Bersyukurlah kamu karena sedari awal sudah diajari untuk salat, zakat, puasa, membaca Al Quran, mandi besar sehabis menstruasi, dan segala bentuk keyakinan terhadap ketentuan-Nya itu. Laksanakan saja itu baik-baik, tak perlu kamu pertanyakan lagi.” Komentarnya itu semacam, meminjam istilah Wahib biar keren karena bawa-bawa nama beken, apologia yang (bagiku) tidak elit sama sekali. Hihi. Itu membunuh pikiran, sama seperti yang coba saya lakukan belakangan. Dan itu sungguh tidak baik bagi kesehatan dan masa depan.
“Saya pengennya juga begitu. Barangkali saya akan bahagia kalau saya tak mengalami perubahan dari saya yang dua tahun lalu, ya?” Pandangan saya sudah tak fokus pada monitor yang menampilkan website dengan tema warna kesukaan saya: biru. “Yakin dengan apa yang telah saya yakini saat itu benar, bahwa saya tak perlu merisaukan segalanya: ada Tuhan. Bahwa kalau saya rajin salat, mengaji, dan sebagainya maka saya akan dimudahkan dalam segala urusan, termasuk banget jodoh, lalu saya akan bahagia dunia akhirat… Ah, hidup sesuai dengan apa yang telah Tuhan gariskan seperti yang selalu dikatakan oleh dogma agama.”
“Nah, itu kamu…” Saya lihat wajah itu berusaha menahan senyum.
“Tapi ogah ah. Barangkali saja jalan yang digariskan Tuhan untuk saya memang tidak begitu. Barangkali saja saya memang akan menjadi hamba yang istimewa seperti Danarto. Huahahaha!” Bagi saya, Danarto memang begitu sih.
“Dengan salat yang tidak khusyuk, subuh yang bolong-bolong, pengetahuan agama yang—akui saja, minim,…”
“Danarto belum salat sampai usianya 27 tahun.” Saya memotong perkataannya, bete. Eh, atau 28 tahun ya?
“Apa kamu mau berhenti salat?” tanyanya, tampak iseng.
“Sebenarnya ada niatan begitu, sih.”
Aku tidak menunggu cinta untuk sebuah salat.” Dia mengutip Wahib. Tuh kan, sekarang dia yang jadi sok keren. “Kenapa kamu mau kembali menjadi anak TK kalau sekarang sudah sampai SMP?” wajahnya mengeras ketika mengucapkan kalimat yang berbau sinisme itu.
“Entah. Memangnya kenapa sih, kalau saya berhenti salat dulu?” Tanya saja asal.
“Astaghfirullahal’adziim….”
"Huahahahaha"
Adzan subuh yang terdengar nyaring membangunkan saya. Monitor yang menampilkan website dengan tema warna kesukaan saya itu telah lama padam. Mimpi saya tadi kayaknya seru. Lho, tadi saya mimpi apa to? Sepanjang dua rakaat kilat tanpa qunut, saya tidak bisa berhenti memikirkan mimpi itu.





[1] Munir dkk, Pergulatan Iman, Jakarta: Nalar, 2008. 

Komentar

Postingan Populer