Melihat Manusia

Tuhan, aku ingin berbicara dengan Engkau dalam suasana bebas.
Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya benci pada pikiran-pikiran
munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang tidak berani
memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran-pikiran yang
pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.

9 Juni 1969
(Pergolakan Pemikiran Islam, halaman 31)

Aku harus berhenti untuk memikirkan segala hal seperti bagaimana sesuatu itu seharusnya terjadi (dengan indah), atau mengatakan kalimat-kalimat yang memang seharusnya dikatakan: penuh harapan, kebijaksanaan, dan barangkali, kemunafikan. Baiklah orang-orang yang dapat melihat hikmah dalam setiap udara yang mereka hirup, alam yang mereka jelajahi, peristiwa sehari-hari, orang-orang baik yang memberkahi di sekeliling mereka. Baik pula mereka yang dapat menuliskannya dengan kalimat-kalimat indah dan menginspirasi. Namun, aku sendiri merasa bahwa aku harus berhenti percaya pada hal-hal yang demikian: lega karena telah merasa mengatakan hal yang benar, bahagia karena merasa telah berbagi sesuatu yang bijaksana, seperti bagaimana manusia itu hidup seharusnya. Karena dunia sesungguhnya memang tak sebaik dan seindah yang dikira dan diangankan para manusia (meski memang bagian indah dunia itu pasti ada). Karena ada hal-hal yang memang harus kita hadapi tidak dengan hanya kalimat-kalimat indah, seratus persen optimisme yang bisa berubah menjadi ekspektasi tanpa disadari, dan hal-hal indah lainnya yang diajarkan oleh dogma. Karena ada hal-hal yang tidak akan pernah selesai hanya dengan kata-kata bijak yang keluar dari mulut kita, obrolan yang telah kita anggap sebagai obrolan manusia dewasa. Karena, beberapa hal hanya akan selesai (dalam taraf pikiran) jika kita berani bertelanjang dan benar-benar melihat, sebagai manusia. Dan bagaimanakah itu? Aku masih belum tahu.

Komentar

Postingan Populer