Pagi Kedua
Akhirnya semua akan
tiba
Pada suatu hari
yang biasa
Pada suatu ketika
yang telah lama kita ketahui
Kalau dengan sangat tidak beruntung kita akan kembali
menjadi aku dan kau, aku tidak akan membiarkan apa pun menyemai bibit kebencian
padamu di hatiku. Karena segala yang kau beri padaku dalam waktu-waktu kita
bersama akan terus berada di sana, mengalir, terus, selama-lamanya, dan tak
akan bisa digantikan oleh siapa pun juga. Aku tak bisa percaya tak ada yang
orisinal pada penciptaan tiap-tiap manusia.
Ya, kalau dengan dalih Tuhan lebih tahu apa yang kita
butuhkan lalu kita dipisahkan-Nya di persimpangan jalan, aku tak akan
membiarkan apa pun mengurangi kebahagiaanku ketika kembali lagi ke kota ini.
Kota bayi-bayi sejarah, katamu, yang mungkin saja sempat sangat ingin
kutinggalkan karena kau tak lagi ada di sana, seperti sejarah bangsa kita yang
dengan sengaja dihilangkan.
Akan kudatangi lagi tempat itu dengan senyum yang sama
ketika kulihat kau yang selalu seperti jatuh cinta ketika melihat tumpukan
buku-buku lawas itu. Akan kususuri kios-kios di mana kau sering terpaku
lama-lama, mengamati setiap judul buku dan nama. Akan kusapa ibu paruh baya
berkaca mata yang telah akrab denganmu itu, “Halo, Buk.” Kataku. Dan ia akan
menawariku buah apa saja yang tersimpan di salah satu sudut kios lusuhnya, sama
seperti yang selalu ia lakukan ketika kau yang datang. Meski aku tak akan bisa
berlama-lama sepertimu, mempunyai begitu banyak stok kesabaran demi sebuah buku
yang membikinmu ingin membawanya pulang, kurasa aku akan sudah cukup puas dengan
kembali merasakan hadirmu di sana… bersamaku.
Aku tak mau kalah dengan Tuhan yang menginginkan aku
melupakanmu dan menganggap dia berjuta lebih baik daripadamu. Tuhan memang
penciptaku, pemilik segala yang ada padaku, bahkan pikiran-pikiran yang tengah
berkecamuk di kepalaku, dan kalimat-kalimat yang sedang kutujukan padamu. Tapi,
Tuhan, sebagaimana yang akhir-akhir ini kuanggap begitu egois—mengapa Ia tak
membiarkan ciptaan-Nya ini mencari takdirnya sendiri?—kuanggap tak benar-benar
tahu apa yang terbaik untukku. Tidak.
Apakah kau masih
bicara selembut dahulu
Memintaku minum
susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan
letak leher kemejaku
(Aku berhenti membaca, lalu memejamkan mata)
Hidup dengan segala kenangan tentangmu tentu tak akan
mudah. Aku seolah-olah telah mati ketika Tuhan berkata kita tak semestinya
bersama. Tetapi siapalah aku sehingga bisa menentang Tuhan yang tak sedikitpun
mau kita membagi-Nya dengan sesama ciptaan-Nya?
Maka, sebagaimana seorang hamba sahaya kepada
penguasanya, saat ini aku sangat meminta kepada Tuhan untuk selalu melimpahkan
kepada kita kepercayaan yang tidak membutakan.

Koreksi: Aku akan membunuh Tuhan kalau Dia tega memisahkan kita! Tega banget sih, Han, astagaaa! Hahaha. Lagipula, aku tidak mungkin bertindak sebijak itu. Perempuan bernalar bagaimana sih, yang menulis kalimat-kalimat di atas itu. Oh, itu aku. -_-
BalasHapus