Selama Menghilang
Hanya satu tulisan yang dapat
kuhasilkan di sini sepanjang bulan Juni dan Juli. 61 hari berturut-turut dan
satu alasan pun tak akan pantas kutuliskan sebagai pembenaran atas karir
kepenulisan blog terburuk sepanjang sejarah keberadaan blog ini. Ah, maafkanlah
aku!
Aku tak dapat mengatakan bahwa
aku terlalu sibuk selama dua bulan yang lalu sampai-sampai tak dapat menulis
satu kalimat pun di sini, karena sebenarnya aku memang tak pernah sesibuk itu.
Hahaha. Namun, krisis kehidupan nyata mengenai perkuliahan dan sebagainya
memang tak dapat membuat otak ini mampu menuliskan sesuatu. Maka, aku sangat
bersyukur karena hari ini aku dapat kembali menyusun 26 huruf dan sembilan
angka ini menjadi bentuk yang benar-benar kuinginkan. Alhamdulillah. Sebelum
menulis tentang macam-macam lagi, kalau-kalau kau mau tahu ke mana saja aku
selama menghilang, kutuliskan sedikit ringkasannya:
Juni
Dua hal yang dapat dijadikan
sebagai penanda akhir semester empat ini adalah Workshop Pers Kampus di Bandung yang kuikuti pada tanggal 5 s.d. 7
disusul study visit ke Jakarta
bersama teman-teman Komunikasi 2012 selama lima hari mulai tanggal 9. Setelah
itu, kehidupan kampus menjadi agak terseok-seok dan berakhir pada
ketidaklulusanku pada salah satu mata kuliah. Namun demikian, kuyakinkan bahwa
hal itu hanya sedikit mengurangi kesyahduan semester ini. Karena, di samping
alasan ketidaklulusanku itu kunilai tak sepenuhnya atas kesalahanku, semester
ini benar-benar hanya akan menjadi semester kosong bila beberapa hal dijalankan
semestinya sesuai kehendak kampus dan dosen.
Juli
Setelah mengawali puasa di rumah,
aku kembali ke Solo pada tanggal sembilan. Tanggal istimewa, karena itu adalah
Hari Buku-ku dan Oyon. Hari itu kami mengobrolkan Emansipasi selama satu setengah jam. Sayang kami tak dapat ngobrol
banyak karena kekurangan referensi. Pada Hari Buku selanjutnya, seharusnya kami
dapat ngobrol lebih banyak tentang Wahib.
Sisa Juli kuhabiskan seluruhnya di
rumah dengan menikmati ramadhan bersama ayah, ibu, dan Idan: sahur, bermain
dengan Idan, tidur siang, masak, buka puasa, tarawih, tadarus, tidur, sahur,
bermain dengan Idan, nyuci, tidur, … terlihat sibuk, tapi sebenarnya aku nggak ngapa-ngapain selama di rumah. Aku
meminta maaf pada ayah dan ibu tanggal 28, sebelum kami sekeluarga berangkat
keliling kampung untuk bersilaturahmi. Meski tidak terlalu bisa merasakan
suasananya, aku pantas untuk berbahagia lebaran tahun ini karena aku telah
lebih menang daripada tahun lalu.
Oh iya, pertemuan dengan Drian,
sahabat paling awet semenjak SD pada tanggal 30 setelah setahun penuh tak
bertemu muka dan dengan bebek (Anggie,
Fida, dan Evi) kemarin pun pantas dijadikan catatan menyenangkan sebagai
penutup Juli. Setelah satu tahun penuh juga tak ketemu, kami menghabiskan waktu
bersama kembali. “Padahal dulu kita bertanya-tanya ya, Bek. Bisa nggak kalau
udah kelas 11 sama 12 kayak gini. Pasti nggak. Kan udah beda kelas, jarang
ketemu…” Kata Fida. Nyatanya, dua tahun kemudian kami tetap menghabiskan setiap
Jumat siang bersama. Hahaha.
Demikianlah cerita dua bulan yang
telah berlalu itu. Selamat Idul Fitri, maafkan aku ya.

Komentar
Posting Komentar