Generasi yang Lahir Setelah Reformasi

Setelah membaca buku Emansipasi, Catatan Seorang Demonstran, dan Pergolakan Pemikiran Islam, akhirnya aku mengerti mengapa tulisan atau catatan harian (setidaknya jika dibandingkan dengan catatan harianku) pemuda sekarang tak bisa dibandingkan dengan Kartini, Gie, atau pun Wahib pada usia 20-an. Barangkali seharusnya memang tak pantas bila aku mengungkapkan hal-hal berikut sebagai alasan, karena zamanku telah lebih baik dari segi manapun dibandingkan kawan-kawanku pada usia yang sama itu—tetapi bukankah penderitaan memang jauh lebih lebih memudahkan seseorang untuk mengungkapkan segala rasa di hatinya?
Tapi tentu beberapa hal ini bisa menjadi catatan yang kuharapkan dapat pula menjadikan periksa bagi teman-temanku seangkatan. Barangkali saja penting dan bisa menjawab pertanyaan mengapa generasi sekarang menjelma menjadi angkatan galau. Ada enam karakter yang bisa aku sebutkan untuk generasi angkatan galau ini: 1) Krisis minat baca. Tak perlu kujelaskan, ini jelas menjadi tolak ukur yang paling penting; 2) Kualitas bacaan. Perbedaan kualitas bacaan jelas berpengaruh besar terhadap pandangan dan cara pengungkapan pikiran mereka: penulis Indonesia tiga dekade yang lalu jelas lebih ampuh daripada penulis-penulis sekarang; 3) Tak banyak pemuda-pemuda masa kini yang mau bersusah payah mencari buku-buku lawas yang lebih bagus; 4) Generasiku bukanlah generasi yang gemar berpikir; 5) Generasi masa kini adalah pemuda-pemuda yang lebih senang dengan segala sesuatu yang bersifat instan; 6) Kepekaan. Buku-buku yang dibaca oleh Kartini, Gie, dan dan Wahib masuk benar ke dalam benak mereka: Multatuli, Natsir, Hatta, Ibu Khaldun, Arnold Toynbee, dan seterusnya. Tak hanya merasuki lubuk hati, bacaan-bacaan itu kemudian juga membuat mereka melihat kenyataan di sekitar, merenungkannya, dan akhirnya mereka tahu apa yang sedang dibutuhkan oleh bangsanya pada masa itu.

Buku bagi generasi masa kini merupakan kumpulan tulisan-tulisan yang memberatkan, hanya sarana memperoleh nilai A. Karya-karya besar dibaca tidak untuk direnungkan maknanya, namun dikutip kalimatnya untuk diunggah dalam social media. Sementara buku-buku bagi pemuda zaman dahulu semakin membuat mereka merasa tak tahu, bagi pemuda masa kini membuat mereka semakin belagu. Mereka bangga kalau telah mengutip kata-kata indah orang-orang besar, menuliskan nama yang tidak semua orang tahu itu siapa.

Dari enam alasan yang sangat mungkin tidak dapat menjelaskan sepenuhnya mengapa generasi pascareformasi masa kini tampak begitu menyedihkan, aku merasa bahwa alasan pertama menjadi hal yang paling krusial. Aku tak dapat menjelaskannya dengan kalimat yang tepat. Tetapi barangkali Wahib (2013, 337) bisa: “Banyak sekali buku-buku dokumentasi yang antik yang belum saya baca. Dan aku baru menemui buku-buku itu pada umur yang sudah lanjut, 29 tahun, pada umur mana daya hafalku sudah jauh berkurang dan saingan dari buku-buku lain abad modern sangat berat. Lintasan Sejarah Dunia karya Nehru, Cerita-Cerita Panji, Hikayat Abdullah, buku-buku Tan Malaka, Sejarah Melayu untuk menyebut beberapa, mestinya sudah kubaca sewaktu masih belajar di SD atau SMP. Inilah kerugiannya kurang tahu macam-macamnya bacaan baik sewaktu muda.”

Dalam catatan yang lain, Wahib semacam memberikan saran pada generasi zamannya bahkan generasi kita (2013: 280): “Banyak membaca harus diimbangi dengan banyak observasi langsung. Harus ada keseimbangan antara membaca, merenung, dan mengamati. Dengan demikian kita akan mampu membentuk pendapat sendiri dan tidak sekedar mengikut pendapat orang atau memilih salah satu di antara pendapat yang berbeda-beda.”

Buku-buku (bagus) telah menjelmakan Kartini sebagai tokoh emansipasi seperti yang telah disandangkan oleh semua orang padanya, Soe Hok Gie sebagai salah satu aktor intelektual di belakang layar penumbangan kekuasan Sukarno, dan Wahib sebagai salah satu tonggak pemikiran pembaharuan Islam di Indonesia, dan pasti manusia-manusia lain sebagai sesuatu yang lain. Dan ketiga kawan-kawanku itu telah mengikhtiarkan sesuatu dalam hidup mereka pada panggilan jiwa mereka dalam usia yang sama denganku!

Ketika generasi masa kini tengah kepergok oleh teknologi gadget dan dimabuk oleh cinta, Wahib seperti telah memperoleh pencerahan menulis pada 20 Maret 1969: “Ilmuku terasa bertambah dengan cepat akhir-akhir ini sejak membebaskan diri dari “hubungan-hubungan” nuisance dengan beberapa teman putri.”

Kartini, Gie, dan Wahib menjadi mitos yang dijadikan titik penentu zaman. Mitos heroik mahasiswa angkatan 45 dan 66 terus menghantui idealisme mahasiswa zaman sekarang. Mereka menyerukan perubahan, aksi nyata laiknya generasi pascareformasi tetapi otaknya melompong karena tak pernah membaca berbuku-buku. Kalimat-kalimatnya terkesan raksasa tetapi sejatinya hampa. Maka, pada akhirnya, ketika mereka menulis, yang mereka hasilkan kebanyakan merupakan hal-hal utopis belaka: semangatnya besar, tapi tak berakar.

Dan, alih-alih memberikan nasihat untuk rajin membaca buku-buku (bagus), rektor UNS dalam sidang senat terbuka pelantikan mahasiswa baru pada 20 Agustus 2014 lalu, malah tak ingin mahasiswanya lama-lama menuntut ilmu di kampus itu. Aku pun bertanya-tanya, mahasiswa kualitas macam apa yang diharapkan oleh Pak Rektor saat keluar dari kampus hijau ini, jika mereka tak mengenal buku-buku bagus dan otak mereka hanya diisi oleh omong kosong yang dijanjikan oleh nilai A dan predikat cum laude

Komentar

Postingan Populer