Perempuan itu melucuti bajunya satu-satu: kemeja, kaus, dan celana jeans lusuh yang tampaknya telah berhari-hari tak ia ganti. Kemudian celana dalam ungu dan bra berwarna biru. Terakhir, sepatu butut dan kaos kaki bau. Beneran lho, buau. Selanjutnya, ia buka topeng yang menutupi wajahnya dengan susah payah. "Aku ingin menjadi manusia." Katanya. Lalu ia kuliti tubuhnya sendiri hingga kelihatan apa yang selama ini tersembunyi dibalik kulit putih mulusnya itu. Aku seperti menyaksikan adegan awal film Faust (aku tak tahu tahun berapa rilisnya. Itu film tua. Temanku yang punya) yang belum jadi kutonton tempo hari. Aku tak tahan. Hoek! Bikin muntah menyaksikan seseorang menyayat-nyayat tubuh manusia (mending kalau sudah mati seperti dalam film ini), merogoh perut lalu mengeluarkan isinya dengan tangan seperti mengentaskan jeroan ayam. Hih! Dan perempuan di hadapanku ini sedang mempraktikkannya. "Aku ingin menjadi manusia," katanya lagi. Lalu ia copoti organ-organ tubuh itu satu-satu, usus, ginjal, hati, pankreas... dibakarnya rambut berwarna merah yang menutupi kepalanya sampai habis tak bersisa. "Aku ingin menjadi manusia." Ia mandi darah. Sekarang aku seperti menyaksikan sebuah rangka manusia yang dulu senantiasa berdiri, tergantung pada sebuah tiang penyangga di pojok kelas. Di tiap bagiannya, ada nomor-nomor yang menunjukkan nama: 1) tulang kering; 2) tulang betis; 3) tulang paha; 4) tulang selangka ... "Aku ingin menjadi manusia." Tengkorak di hadapanku itu terus saja berkata. O mon dieu. Jadi manusia tak semudah itu, lof.

Komentar

Postingan Populer