Selepas Norwegian Wood

Aku menyelesaikan Norwegian Wood Haruki Murakami beberapa hari yang lalu. Buku pertama yang kuselesaikan pada awal tahun ini. 550 halaman yang nyaris penuh dengan gejolak remaja Jepang pada tahun 60-an. Memasuki lembar-lembar terakhir buku ini, sedikit demi sedikit aku mulai memahami mengapa ada begitu banyak orang yang menyukai karya Murakami dan mengapa karya-karya dia pun sangat cukup diperhitungkan. 

Ada semacam kejujuran dan keapaadaan yang dapat kurasakan dalam setiap diksi yang ia pilih (atau penerjemah buku ini pilih demi usaha mewujudkan Murakami yang sesungguhnya dalam alam Bahasa Indonesia). Melalui karakter tokoh bernama Watanabe, mahasiswa jurusan drama salah satu universitas di Tokyo yang kutu buku dan sangat menyukai The Great Gatsby Fitzgerald, Murakami menunjukkan bagaimana pemberontakan mahasiswa, seks bebas, minuman keras, lagu-lagu pop yang ngetren (dan sebagian besar tak kukenal), dan pola pikir tertentu melingkupi kehidupan sehari-hari remaja pada kurun waktu itu. Dan bagaimana semua hal itu pada akhirnya membawa seorang manusia pada pilihan kematian yang diputuskannya sendiri, atau melanjutkan hidup dengan berani.

Satu hal yang tertinggal dalam benakku setelah membaca Norwegian Wood: buku yang diselesaikan Murakami pada 1992 itu mengingatkanku kembali pada waktu, dan bagaimana setiap hari kita "memutar sekrup kehidupan", bahkan lebih sering tanpa kesadaran menemui pagi, setiap hari, 365 hari dalam setahun. Begitulah kita, namun tidak Watanabe.

Murakami membuat sosok Watanabe sebagai pria yang kalem, cerdas, apa adanya, jujur, tak peduli pada hal-hal yang tidak benar-benar menarik hatinya, penuh gairah seksual sebagaimana remaja Jepang pada masa itu, namun juga tak pernah mempertanyakan kehidupan. Ia menjalaninya begitu saja, dan dalam waktu yang sama, menerjemahkannya dalam kata-kata dengan diksi yang (bagiku) nyaris tepat seperti apa yang sedang dia rasakan. Segala gerak-gerik tubuh dan pikirannya seolah menjelma makna,  begitu saja. Aku semacam merasa dia betul-betul tahu apa yang sedang dia rasakan dan lakukan, bahkan ketika dalam kekalutan ia memutuskan untuk pergi berkelana selama satu bulan setelah Naoko menggantung diri di dalam hutan yang gelap. Melalui sosok inilah hari ini aku berpikir kembali tentang waktu.

"Aku memasuki usia ke-20, ... namun dalam kehidupanku tidak ada perubahan yang betul-betul bisa disebut perubahan" (hlm 447). Sekali ini, aku kembali mengingat pikiran-pikiran yang hinggap di kepalaku soal usia dan 20 tahun. Itu terjadi di hari-hari menjelang usiaku tepat 20 tahun, dan beberapa hari setelahnya, kurang lebih delapan bulan yang lalu. Dalam catatan harian yang kemarin sempat kubaca ulang, ada kata bodoh yang kutulis berkali-kali di sana. Bodoh karena belum membaca buku begitu banyak, bodoh karena masih begini-begini saja, dan bodoh karena berbagai hal yang kuanggap seharusnya sudah kulakukan dalam usia seperlima abad itu. Samar-samar, aku pun masih bisa mengingat kalimat, "Oh, begini to, 20 tahun itu." Waktu itu aku mencoba benar-benar merasainya, tetapi gagal. Lalu, "Terus, kenapa?"

Ternyata, bagaimanapun selama ini aku mencoba bertindak dan berpikir otentik dalam rangka mencari-cari sesuatu yang hakiki, nyatanya hidupku tak ubahnya seperti manusia-manusia lain yang membatasi dirinya dengan berbagai tenggat waktu. Minggu demi minggu, semester demi semester, lalu akhirnya tahun demi tahun kulalui dengan perhitungan waktu dan kadang angan-angan aku seharusnya telah melakukan apa. Dan otakku seolah-olah berkata, "Memang begitulah semestinya menunaikan cara hidup." Bahkan naik gunung minimal setahun sekali kini menampakkan dirinya seolah sebagai sesuatu yang memang selazimnya kulakukan mengikuti cara pikir orang banyak yang sedang senang dengan kata travelling. 

Semua yang kulakukan selama ini seolah-olah hanya euforia terhadap masa depan yang bahagia, cerah, apalah, terserah. Semua jadi serba pamrih. Dan akhirnya, pada titik kesadaran tertentu, aku jadi merasa tak ada bedanya dengan manusia penjilat yang rendah. Sampai di sini, rasanya aku tak berharap apa-apa lagi. Aku tak mau hidup hanya untuk memenuhi sejumlah harapan yang ternyata tak benar-benar aku harapkan. Yang ternyata adalah harapan orang-orang lain atas diriku dalam waktu tertentu yang harus aku capai. Aku tidak mau seperti itu. Saat ini, pokoknya aku ingin hidup saja.

Ah, dan hidupku sebentar lagi mencapai 21. Aku tak bisa membayangkan bagaimana dan kemana tubuh ini akan bergerak dan atau digerakkan. Sementara pikiran-pikiran seperti ini datang, mengendap, dan tumbuh lagi dalam kepalaku, waktu terus saja berjalan, dan aku pun ternyata harus kalah demi sebuah tulisan lain yang tenggatnya sudah lewat.

Sementara aku memikirkan penutup yang kupikir harus cukup bagus untuk mengakhiri tulisan tentang Norwegian Wood dan waktu (yang wagu) ini, aku teringat pada satu kalimat yang menarik pada halaman 512. Begini kalimat itu dituliskan: kehidupan kita ini secara bersamaan menumbuhkan kematian.

Komentar

Postingan Populer