Simbah

Simbahku pada tahun 2009.


Tadi siang aku dan Idan sowan ke rumah Simbah dari Bapak di desa sebelah. Tak butuh waktu 10 menit naik motor, aku dan adikku telah sampai di rumah sederhana itu: satu rumah induk sudah dibangun dari tembok, tetapi bagian dapurnya masih berupa gedhek; di samping rumah ada kandang sapi dan kambing; satu sapi yang ditambat pada sebuah tiang pendek di halaman tampak duduk tenang-tenang sambil mulutnya terus mengunyah, tak acuh dengan kehadiran kami. Begitu turun dari motor, Idan kuminta membukakan pintu gerbang tak kokoh yang terbuat dari bambu setinggi dirinya sehingga aku bisa memarkir kendaraanku di halaman.

Perempuan tua itu menyambut kami dengan kerut wajah yang begitu banyak ketika ia membentuk sebuah senyuman. Aku sungkem pada Simbahku yang tak kuketahui umurnya telah berapa. Adikku sendiri malu-malu seolah menghadapi orang lain ketika mencium tangan yang juga dipenuhi oleh begitu banyak kerutan itu. Lalu Simbah mengajak kami masuk ke dalam rumah, ke ruang tamu, jogan remang-remang yang di tengah-tengahnya terhampar sehelai tikar pandan. Lalu kami mengobrol. Tentang kakak keponakanku yang akan menikah akhir Januari ini, Pak Dhe-ku yang tinggal bersama Simbah yang sakit tetapi masih juga pergi bekerja, sekolahku kurang berapa tahun lagi sampai lulus, lalu, sebagaimana orang-orang tua: beberapa wejangan. 30 menit yang didominasi oleh tawa. Meski perempuan tua itu tak ingat siapa nama dua cucu yang tengah datang menemuinya.


Aku tak ingat kapan terakhir kali aku ke rumah Simbah. Ketika kuamati ruangan ini sekali lagi, aku baru benar-benar menyadari bahwa televisi 14 inch di belakang kami duduk itu diletakkan di atas meja yang terlalu lebar dan tinggi, membuat sakit leher siapa saja yang terlalu lama menonton di depannya. Juga potret beberapa cucu yang dijadikan satu pigura di dinding di belakangnya itu, nampak sudah begitu tua. Juga lemari dan jam dinding yang seperti diletakkan asal di sudut ruangan. 

Lalu Simbah menawariku makan. Hari ini ia memasak sayur terong yang Han sama sekali tidak akan doyan. Aku menolak, mengaku baru saja makan. Sambil membayangkan sayur terong buatan Simbah, aku bertanya dalam hati, cucu ke berapa Simbah aku, yang sowan kepadanya sampai hari ini? Lalu Idan merengek minta pulang. Aku pun pamit. Padahal Simbah sudah mengajak kami tidur siang di rumahnya saja. Tapi Idan tetap merengek minta pulang, "Pulang ke rumah Dan," katanya. Maka sekali lagi aku pamit. Dan Simbah bilang, "Yo, Ngger..." lirih, dengan mata tua yang telah sayu, antara berbinar atau akan jatuh air mata darinya ketika memandang kami. Perempuan tua itu pun melepas kepergian kami tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Samar-samar, aku mendengar permintaannya saat aku sowan ke rumah Simbah entah kapan lalu. Simbah minta didoakan supaya senantiasa diberi kesehatan. 

Dalam perjalanan pulang yang tak akan butuh waktu lebih dari 10 menit untuk sampai ke rumah, aku teringat Gie dan sebaris kalimat yang dia tuliskan di buku hariannya: “Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua."

Komentar

Postingan Populer