Buku Adalah Teman Terbaik

Benarkah buku adalah teman yang paling baik dibanding manusia?

Bibbi Bokken, pemilik perpustakaan ajaib di bawah tanah sebuah rumah kuning di pedalaman Norwegia; bibliografer tua yang mengoleksi buku-buku, dari yang paling mula-mula dicetak setelah tahun 1500—incunabula—sampai buku-buku yang paling baru; dan yang bukunya berjuta-juta dalam arti yang sesungguhnya (aku penasaran, apakah dia membeli semua buku begitu saja, atau memilih hanya yang dia anggap pantas untuk dikoleksi?), mengatakan kepada Nils dan Berit,


Buku adalah teman terbaik.... Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan karakter paling pintar, paling intelek, dan paling luhur; di sana kebanggaan serta keluhuran manusia bersemayam.[i]

Sebagai kutu buku yang akhir-akhir ini lebih banyak membeli daripada membacanya, aku mengalami sendiri betapa sebuah buku dapat menjadi teman yang sungguh baik. Kalau kata Fauzi Sukri, setidaknya hampir (jadi bukannya tidak ada sama sekali) tak banyak buku yang melukai perasaan daripada manusia. Ia menghilangkan kedukaan dengan cara-cara yang kadang manusia sendiri tak sanggup melakukannya. Pun dalam hal membuka mata dan cakrawala berpikir. Dan saat bertemu dengan buku yang bagus, kita seolah-olah bertemu dengan manusia sesungguhnya.

Tetapi bukankah itu benar-benar sangat tergantung pada si pembaca, si penemu buku, termasuk dalam kasus sampai di tengah-tengah teman terbaik yang diungkapkan oleh Bibbi? Ia menemukan, bukan keduanya saling menemukan, menjalani hari-hari bersama bertahun-tahun terlebih dahulu sebelum menjadi karib (ini dalam kasus hubungan antarmanusia).

Buku-buku tidak menulisi dirinya sendiri. Ia mewujud karena ada manusia; manusia yang bisa melukai perasaan seluruh makhluk di dunia ini; manusia yang semenjak sebelum lahir telah bersentuhan dengan manusia yang lain. Kita memang tidak dapat mengharapkan manusia selalu membahagiakan sesamanya bukan?

Buku hanyalah buku, dan bisa menjelma (seolah-olah) manusia hanya ketika ditemukan oleh manusia yang tepat. Dan yang menjadikan buku itu lebih manusia dari manusia itu sendiri ya, makhluk yang namanya manusia. Manusia yang bisa disentuh, dirasa halus-kasar kulitnya, diusap air matanya ketika menangis, didengar perkataannya ketika ia menceracau dan hanya butuh telinga; manusia yang bisa kaupeluk tubuhnya untuk berbagi bahagia, kausandarkan kepalamu pada bahunya bila merana; manusia yang bisa menyuapimu makan ketika otakmu tak sanggup menyuruh tangan-tanganmu bergerak.

Hubungan antarmanusia memang lebih sering melampaui kata-kata. Seringkali kita lebih dapat mengerti kejujuran lewat bicaranya sepasang mata. Dan karena tak rela perasaan seperti itu hilang ditelan masa ketika si manusia binasa, maka semenjak mengenal kata-kata, manusia mengabadikan diri di dalamnya. Manusia pun menulis berbuku-buku, dulu, kini, nanti.

Buku ditulis oleh manusia supaya manusia lebih dapat menjadi manusia, lalu bisa memperlakukan manusia yang lain dengan lebih manusiawi. Jika kita bertemu buku yang tepat, kita dipersiapkan untuk lebih dapat menerima pertemuan dengan manusia beserta segala kompleksitas rasa, pikiran, imajinasi, iman, ketaksadarannya, dan lain-lain lagi. Ya, kita membaca untuk bertemu manusia. Bukan untuk menghindar darinya.





[i] Jostein Gaarder, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, Bandung: Mizan, 2011

Komentar

Postingan Populer