Liburan
Sejak lulus SMA dan meneruskan sekolah di tempat yang cukup jauh dari rumah, liburan adalah sebentuk jeda yang selalu saya tunggu-tunggu setiap akhir semester. Selama hampir tiga tahun ini, ada semacam ritual yang selalu berulang menjelang dan ketika liburan: bertanya dan ditanya oleh teman-teman lama kapan libur, kapan bisa ketemu; lalu menghabiskan waktu setidaknya beberapa jam bersama beberapa hari setelahnya, pada suatu siang, di rumah salah satu atau di sebuah keramaian, dengan banyak obrolan.
Siang hari awal Januari lalu, kami hanya bertiga (seharusnya empat) menuju ke sebuah rumah teh berjudul Tong Tji di pusat perbelanjaan yang baru saja dibangun di kota kami. Setelah memilih tempat duduk di tengah ruang dengan latar hiasan-hiasan dinding yang bergaya vintage dan memesan minuman serta kudapan, dimulailah reuni itu. Sebagaimana yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, kami menautkan kembali benang waktu yang telah empat bulan terputus. Ya, tidak satu pun dari kami hobi mencurahkan hati di hari-hari yang sibuk di kampus masing-masing. Semuanya, selalu ditumpahkan saat pertemuan di setiap liburan. Sore itu, kami menuntaskan rindu sambil menyeruput cokelat dingin, memakan bakwan hangat, menanti hujan reda dan mengabadikan diri lewat berbagai gaya selfie anak muda masa kini. Juga tidak lupa pamer kebersamaan kami pada dia yang tidak bisa hadir sore itu karena sudah jadi mahasiswa tingkat akhir duluan, via telepon. Setelah hujan reda, saya, Anggie, dan Evi pun pulang. Berjanji bertemu di liburan yang akan datang. Semoga kali yang akan datang itu Fida tidak hilang.
Setelah siang hari awal Januari lalu, pertemuan lain pun diadakan. Kali ini dengan teman-teman SMP yang usia perkawanannya telah lebih dari enam tahun. Kali ini pun personelnya tidak lengkap. Hanya ada empat orang: saya, Niken, Nia, dan Ikanov. Tiga yang lainnya sok sibuk. Hahaha. Kami janjian pukul satu siang. Tetapi yang mewanti-wanti datang lebih awal (Nia) malah datang paling belakangan. Rumah Ikanov mendadak riuh siang itu. Karena capek, saya pesan es teh sama mie ayam. Tapi saya malah ditonyoin sama Niken. Dikira sedang di warung. Begitulah. Hahaha.
![]() |
| Sumber: Meme & Rage Comic Indonesia |
Setelah ngobrol-ngobrol, di antaranya mengenai sedikit sejarah asmara Nia, tambah gendutnya Niken, dan mau lulusnya Ikanov, kami pun menuju rumah teh berjudul Tong Tji di pusat perbelanjaan yang baru saja dibangun di kota kami. Mengapa ke sini lagi? Karena di rombongan ini, hanya Nia yang belum ke sini. Maka, demi kepentingan kelompok, sampailah kami. Setelah memilih tempat duduk di tengah ruang dengan latar hiasan-hiasan dinding yang bergaya vintage dan memesan minuman serta kudapan, dimulailah reuni kedua itu.
Suasana kali ini agak berbeda dari sebelumnya karena kami ribut menyoal sofa yang terlalu besar untuk duduk, mejanya yang terlalu rendah, dan jarak antar keduanya yang terlalu jauh. Dan minuman yang rasanya aneh di lidah kami. Kami ribut. Menggeser sofa ke depan sedikit, lalu akhirnya berdesakan di salah satu sofa buat selfie. Niken lebih gendut sekali di antara kami. Hahaha.
Kami semacam jadi wong-wong ndeso yang gagal menjadi jajaran sosialita Ponorogo. Buat selfie pun kami gagal. Tak ada dari kami yang punya kamera mumpuni. Peteng kabeh Nde, poto-potone! Tapi untunglah jadi beberapa berkat datangnya kekasih Nia bersama adiknya, terutama karena dia bawa kamera bagus. Kami ngobrol tidak terlalu lama. Cuma guyon dan pamer foto pada mereka yang tidak datang lewat social media. Lalu kami ketawa-ketawa, bercanda bersuka ria. Hahaha! Rombongan yang ini memang nggak ada elegan-elegannya nongkrong di tempat yang gaul abiizzz itu. Tong Tji bukan dunia rombongan ini. Maka, sebagai penutup, kami makan mie ayam di pojokan Pasar Legi. Kami berpisah pada sore hari, berjanji suatu saat nanti bikin bisnis cafe yang cozy, asik buat foto-foto selfie.
Pertemuan ketiga adalah dengan Encil (bukan nama sebenarnya) dan Agus (bukan nama sebenarnya). Ini kawan-kawan yang sulit dicari deskripsinya. Kami bingung mau ke mana sore itu. Saya sudah bilang ke mereka, saya nggak mau ke Tong Tji. Hahaha. Maka kami makan di sebuah depot setik. Duh dek, saya pasti akan berpikir entah berapa kali terlebih dahulu kalau mau makan kayak beginian di Solo. Hihi. Tetapi yang lebih penting dari semua itu tentu kebersamaannya. Ceilah. Saya dapat banyak cerita tentang dunia keperawatan dari duo calon perawat itu. Sebagai orang awam, saya hanya bisa mengangkat tangan, lalu bertanya perihal apa yang tidak saya paham setelah diperkenankan, juga bayarin makan. Huehehehehe. Kami berpisah dalam waktu yang relatif singkat karena ibu saya sudah menjemput. Tidak perlu menunggu liburan untuk bertemu lagi, bukan? Mereka sangat lebih mudah ditemui daripada yang lain-lain.
Sehabis bertemu dengan kawan-kawan, saya balik ke Solo tanggal enam. Lalu diantar Han ke Pesta Buku Murah di Goro As-Salam dan membeli lima buku nyaris tanpa sadar. Esoknya ngobrol layout majalah dengan Nana dan Hap. Lalu nonton Wolves. Esoknya lagi membaca-baca Cerita di Balik Dapur Tempo (KPG, 2011), menulis untuk buletin LPM sebelah, lalu tidur seharian. Lalu, pada suatu malam yang berhujan yang katanya berarti kebahagiaan, kami nonton Di Balik '98. Film yang tidak terlalu bagus. Sampai di kos, langsung tidur, lalu esoknya pulang ke rumah.
Idan adik kecil saya, meski tingkat kenakalannya semakin bertambah menjelang usia empat tahun, masih memanggil-manggil saya dengan tawa ketika melihat saya turun dari bus. "Kakak! Kakak!" katanya. Lalu, di sepanjang perjalanan, ia akan bercerita banyak hal. Yang selalu diulang-ulang: adikku tidak sekolah karena sedang libur. Hahaha. Di rumah, rak buku yang dibuatkan Bapak sudah hampir selesai. Rak itu memenuhi hampir seluruh dinding kamar paling belakang di rumah kami. Di deretan paling atas, telah ditata buku-buku saya yang tidak seberapa. Di dinding di atasnya, digantunglah foto-foto wisuda ibu: foto sendirian (tidak selfie), foto bersama Bapak, dan foto bersama saya. Idan mencari-cari gambar dirinya yang tidak ada. Sayang saya cuma sehari di rumah. Besoknya saya sudah kembali lagi ke Solo untuk mengajukan permohonan beasiswa.
![]() |
| Idan dengan sepeda roda tiganya. |
![]() |
| Rumah yang hanya kelihatan bagian belakangnya itu milik kami. |
![]() | |||
| Pada suatu malam, Ibu bilang ingin merenovasi rumah. |
![]() |
| Ini antena televisi buatan Bapak. Lelaki 60-an memang serba bisa! |
Begitu sampai di Solo lagi, saya langsung kangen rumah. Padahal, kalau di rumah serasa ingin segera balik ke Solo. Di rumah saya tidak bisa mikir. Tetapi di rumah saya lebih bisa banyak merasa. Saya khawatir tidak dapat memenuhi rak buku baru saya itu dengan buku-buku. Karena sepertinya saya tidak akan pernah benar-benar tinggal di rumah.
Saya juga khawatir ritual pertemuan dengan teman-teman ketika liburan juga akan lebih sulit dilakukan. Liburan semester depan saya sudah magang. Liburan semester berikutnya lagi saya KKN. Lalu liburan berikutnya, entah saya akan berada di mana. Yah, bagaimanapun, liburan semester lima telah berakhir. Ada banyak hal yang mesti dilakukan setelah ini. Barangkali, akan sulit mencari waktu liburan di waktu-waktu ke depan. Tetapi saya akan tetap berusaha liburan, meskipun sendirian, dan cuma di perpustakaan, untuk menjaga kewarasan. Sekian.
Saya juga khawatir ritual pertemuan dengan teman-teman ketika liburan juga akan lebih sulit dilakukan. Liburan semester depan saya sudah magang. Liburan semester berikutnya lagi saya KKN. Lalu liburan berikutnya, entah saya akan berada di mana. Yah, bagaimanapun, liburan semester lima telah berakhir. Ada banyak hal yang mesti dilakukan setelah ini. Barangkali, akan sulit mencari waktu liburan di waktu-waktu ke depan. Tetapi saya akan tetap berusaha liburan, meskipun sendirian, dan cuma di perpustakaan, untuk menjaga kewarasan. Sekian.






wey. . . gak sok sibuk lo. .
BalasHapusemang sibuk ko e
Kuwi gojek -_-
Hapus