Warisan Kata
Warisan
kata: karena tak semua orang berani mewarisi sesuatu dan sungguh sedikit yang
berani.
-Fauzi
Sukri
|
A
|
da
banyak warisan penutup riwayat hidup. Dan ada satu yang hampir selalu
berulang: warisan cita-cita pada generasi muda, dalam bentuk kata-kata. Dua
kalimat itu ditulis oleh Fauzi Sukri, kita semua warga LPM Kentingan tahu siapa
dia, dalam sela-sela waktunya di Sei Rokan, Riau, pada 2010 saat mengikuti
workshop jurnalisme narasi Yayasan Pantau. Tulisan itu dimuat di laman salah
satu instrukturnya, Andreas Harsono.
Sekarang kita akan mengedit dua
kalimat itu sedikit, menjadi seperti ini: ada banyak warisan penutup riwayat kepengurusan.
Dan ada satu yang hampir selalu berulang: warisan cita-cita pada kepengurusan
selanjutnya, dalam bentuk kata-kata.
Setiap tahun, dalam forum
tertinggi organisasi yang bernama Musyawarah Anggota, warisan kata-kata ini
senantiasa dipersiapkan untuk kepengurusan selanjutnya. Setelah hampir tidak
tidur tiga hari dua malam, maka warisan kata-kata itu jadilah: Anggaran Dasar
(AD), Anggaran Rumah Tangga (ART), Rekomendasi Organisasi, Garis Besar Program
Kerja. Lalu ada lebih banyak lagi
warisan kata-kata dari setiap bidang mewujud dalam bernomor-nomor kalimat di
bawah judul hambatan, solusi, dan rekomendasi dalam laporan pertanggungjawaban
pengurus. Semuanya dibikin untuk harapan yang lebih baik bagi kepengurusan
selanjutnya.
Tetapi, kapankah warisan
kata-kata itu benar-benar punya penerima, ahli waris? Setelah turun dari
Tawangmangu, tempat kita biasa mengadakan Musyawarah Anggota, warisan kata-kata itu disimpan entah di mana hanya untuk dibuka
tahun berikutnya. Kata-kata tinggal kata-kata. Dan bidang Redaksi si peracik
kata bahkan hampir selalu mewariskan kata-kata dalam bentuk yang sesungguhnya.
Semenjak tiga tahun yang lalu, majalah Kentingan
tidak pernah terbit tepat waktu (salah satu alumni mengatakan sudah lebih
dari tiga tahun yang lalu). Buletin yang mulanya tidak molor pun ikut-ikutan
setahun setelahnya. Ini membuktikan bahwa selain kata-kata, rupanya LPM
Kentingan juga mewariskan budaya. Budaya terlambat yang, amit-amit jabang bayi, semoga banget bisa enyah tahun ini.
|
“
|
... aku yakin siapapun orang yang berani mengambil warisan
kata itu, dia adalah orang yang sangat berbakti pada guru, orang yang sangat
mengerti tentang arti perjuangan.
Semoga di atas tentu tidak akan
pernah menjadi tanpa satu kepengurusan berani mengambil warisan kata-kata itu,
tanpa segenap usaha sampai (mungkin) berdarah-darah setengah mati. Dan
seandainya ada yang berani mengambilnya, perubahan-perubahan harus segera dilakukan.
Perubahan-perubahan yang tidak kecil.
Teman-teman seperjuangan mungkin terpaksa
harus dibikin nangis oleh karena kata-kata. Tubuh harus dipaksa pergi ke tempat
yang sama berkali-kali demi rapat redaksi. Liputan yang lama-lama menjemukan.
Penulisan yang serasa tidak memiliki akhir. Ini tidak berlebihan. Pengorbanan
harus dilakukan habis-habisan jika ingin satu majalah dan tiga buletin terbit
tepat waktu. Pun harus ada yang mau mengorbankan tenaga dan pikirannya demi
menulisi website butut lpmkentingan.com biar visi “menjadi
portal berita utama mahasiswa UNS” terlaksana. Ini memang tidak akan mudah. Ini
akan sangat melelahkan. Ini akan membuat banyak orang ingin keluar dari LPM
Kentingan.
Kepengurusan manakah yang
berani mengambil warisan kata-kata ini? Apakah kita berani? Karena menerima
warisan kata bukan hanya sekadar menyimpannya dalam kepala, melainkan berusaha
dalam tindak terutama, untuk mewujudkannya. Kata Fauzi Sukri, “warisan kata
selalu lebih merepotkan, lebih rumit, dan lebih merugikan, secara psikis,
dibandingkan warisan harta.”
“Tapi, aku yakin siapapun orang yang berani mengambil warisan kata itu, dia adalah orang yang sangat berbakti pada guru, orang yang sangat mengerti tentang arti perjuangan.
Beranikah aku? Kamu? Siapa yang berani mewarisi kata?”
“Tapi, aku yakin siapapun orang yang berani mengambil warisan kata itu, dia adalah orang yang sangat berbakti pada guru, orang yang sangat mengerti tentang arti perjuangan.
Beranikah aku? Kamu? Siapa yang berani mewarisi kata?”
Beranikah kita?
Surakarta, 20 Februari 2015

Komentar
Posting Komentar