Anak-Anak Kambing yang Ditinggal Mati Ibunya

Suatu waktu, sejumlah anak kambing yang belum berumur satu bulan ditinggal mati oleh ibunya karena sakit. Pilek, perut kembung, dan masuk angin, kabarnya. Mungkin masuk angin duduk yang tidak diketahui oleh pemiliknya. Jika si pemilik tahu si ibu kambing ini masuk angin, tentulah segera dikerokin biar sehat-sehat. Tetapi tidak ada yang tahu bahwa si ibu kambing sedang masuk angin. Maka, anak-anak kambing yang belum berumur satu bulan itu pun piatulah. Jasad ibu kambing yang besar dan sungguh disayangkan mengapa harus mati padahal kalau dijual harganya bisa mahal itu belum dikeluarkan dari kandangnya sampai sore hari, dan belum juga dikeluarkan sampai malam tiba.

Maka sejumlah anak kambing yang belum teteh berlari itu pun semalaman bersama jasad sang ibu. Tidak satu pun dari anak-anak kambing itu tahu apa yang telah terjadi kepadanya. "Embek, embek, embeeeeekk!" Begitu teriak mereka berulang-ulang. "Embek, embek, embek!" Berulang-ulang. Bergantian. Mereka berharap si pemilik datang dan membantu sang ibu yang telah terkulai dan tak bernapas. Kalau mereka bisa melakukan sesuatu, teriakan mereka pasti tidak sekeras itu. "Embek, embek, embek, embek!"

Andai anak-anak kambing itu kucing, Han bersedia menampung mereka di kamarnya. Menidurkan mereka di atas kasur empuk, di bawah selimut hangat. Apalagi malam ini dingin begitu menusuk. Sejumlah anak-anak kambing itu pasti sangat kesepian. Tetapi mereka bahkan tidak paham apa itu kesepian. Bagaimana mereka membahasakan rasa itu selain dengan embek? Adakah embek untuk semua jenis ekspresi kebahagiaan bahkan kesedihan dapat dimengerti oleh selain sesama kambing?

Akhir cerita sebelum Han tidur: kalau biasanya mereka menempel pada tubuh ibunya agar hangat, malam ini seluruh tubuh anak-anak kambing itu beku hingga ke tulang. Sempurna.

Komentar

Postingan Populer