Niken yang Ke-21
Pada suatu malam, aku mengirim sebaris kalimat pada Niken: “Kamu boleh menjadi orang baik. Tetapi bukan baik yang menjadikan dirimu bukan kamu. Bukan baik seperti itu.” Kata-kata, sudah entah berapa lama menjadi pengganti kehadiran kami satu sama lain. Ia meleburkan jarak Surabaya-Surakarta, pelega hati yang sedang duka, penanda bahwa masih ada teman yang mengerti diri. Kata-kata juga menjadi penanda telah berapa lama waktu meninggalkan kami.
Berkata-kata hari ini, aku pun teringat Gandhi: “Malam ketika tidur, aku mati. Pagi ketika aku bangun, aku terlahir kembali.” Alangkah bahagia bila setiap hari kita dapat terlahir kembali. Atau minimal mendapatkan perasaan yang seperti itu. Tetapi sayangnya, kita terlanjur merasa lahir kembali setahun sekali. Sebagaimana Niken yang hari ini lahir kembali, yang ke-21 kali. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar merasa lahir kembali. Barangkali tidak. Tetapi, ada kemungkinan iya.
Bagaimana rasanya 21? Ah, pentingkah itu? Semakin bertambah
angka-angka yang membersamai hari-hari kita, lalu kita semakin dianggap dewasa,
angka seperti itu semakin tidak ada artinya. Buat apa melakukan selebrasi yang
semakin dekat dengan mati? Hahaha.
Masa remaja segera lewat. Barangkali, hari-hari setelah hari ini akan dilalui Niken dengan lebih banyak kontemplasi. Dulu, kita sungguh bergairah mengobrolkan mimpi-mimpi. Kini, mimpi-mimpi itu diberangus perlahan-lahan oleh kenyataan yang beringas. Mimpi-mimpi tidak pernah sesederhana kata-kata, meski seolah-olah mendekatkannya. Sama seperti bocah lelaki kecil dalam Cita-citaku Setinggi Tanah yang kutonton pada Festival Film Anak tahun lalu.
Berbagai cara ia tempuh untuk
mewujudkan mimpinya makan di rumah makan padang (ia bermimpi seperti itu karena
ibunya selalu memasakkan tahu bacem sebagai lauk karena ayahnya bekerja di
pabrik tahu): mencari keong di pematang sawah bersama salah satu temannya untuk
dijual, bersepeda begitu jauh untuk mengantar pesanan banyak ayam ke rumah
makan padang... Itu dilakukannya berhari-hari selama liburan.
Mimpi yang sederhana, tetapi tidak mudah mewujudkannya. Uang-uang
yang terkumpul itu harus berkurang karena suatu hari ban sepeda bocah itu
pecah. Bahkan semua uang yang akhirnya cukup untuk membeli satu hidangan penuh
makanan padang yang berisi bermacam-macam masakan itu pun akhirnya harus tamat
riwayatnya karena jatuh ke sumur. Duh, sakitnya. Semua sirna ketika terwujudnya
mimpi sudah begitu dekat.......
Tetapi Tuhan sepertinya memang hobi ikut campur urusan
hamba-Nya. Cerita itu berakhir bahagia. Sebagaimana film-film bertema sama, di
sela-sela perjuangan itu, si bocah menemukan teman-teman yang benar-benar
setia. Juga keluarga. Indah bukan? Selalu indah cerita-cerita tentang mimpi
yang sudah jadi.
Niken juga pasti punya cita-cita. Tetapi dia tentu harus
berusaha lebih dari sekadar mencari keong di pematang sawah atau bersepeda bola-bali dari tempat yang satu ke
tempat yang lain. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Niken setelah hari
ini. Mungkin jalan hidupnya semakin menanjak, mungkin juga tidak.
21 tidak akan mengubah Niken menjadi Niken yang lain. Niken
akan terus belajar, bertumbuh, menemukan dirinya, dan menjadi manusia yang
sesungguhnya. Semoga.
Hari ini Niken lahir kembali. Kelahiran yang ke dua puluh
satu. Semoga Niken tidak lupa pada indahnya langit biru.
Surakarta, 2 Maret 2015
Di sela-sela menggarap tugas Advertising 2 (yang anggota kelompoknya kali ini congkak-congkak)

Wah, Selamat Ulang Tahun, Niken.. Mencari keong ndak papa asalkan keong mas, Ken...
BalasHapusWah, sayang nggak ada pilihan like di blogger ya, Do :))
HapusTapi susah juga nyari keong mas di pematang sawah -_-
Hapuscobak install ini di blogmu biar ntap.. https://disqus.com/admin/blogger/
Hapuskalo keongnya dibuat dari emas (gold) bolelahh... tapi ngapain cari keong, g doyan juga
BalasHapusterkadang aku yo mikir lo im, Buat apa melakukan selebrasi yang semakin dekat dengan mati?
hehe
Karena setiap hari sesungguhnya kita menghidupi mati. Huahahaha~~ (via Norwegian Wood)
Hapus