Melancongi Persma

Saya diberi tenggat hingga 10 Februari untuk menyelesaikan tulisan ini. Tenggat yang dapat dibilang sangat longgar, sebulan lebih, apalagi dalam masa liburan menjelang semester enam. Namun, toh tulisan berjumlah 12.000 karakter ini belum rampung juga ketika tenggat sampai pada detik-detik terakhir. Pesan pendek saya kepada si redpel pun meluncur malam itu: Di, tulisanku urung rampung. Piye? Saya tidak bisa mengatakan lega ketika Diah, si redpel menuliskan oke, lalu menanyakan kira-kira kapan saya bisa menyelesaikan tulisan ini dengan emoticon mrenges sebagai balasan. Saya sama sekali tidak merasa oke.

Mengapa? Pertama, saya putus asa, merasa nggak yakin tulisan sepanjang 12.000 karakter  itu bakal dibaca sampai selesai oleh pembaca. Kedua, saya belum tahu mau menulis apa menyoal persma ini, dan ketiga... ah, sebelum bercerita lebih jauh, ada baiknya saya menceritakan kronologi sehingga saya memutuskan untuk membuka tulisan saya dengan paragraf yang cenderung curhat di atas. Jadi begini. Saya menemukan beberapa tulisan mengenai persma sebagai bahan referensi sebelum menulis dan telah membaca sebagiannya.

Media, Mahasiswa, dan Kampusnya
Salah satu artikel menarik ditulis oleh penulis buku Saling Silang Indonesia-Eropa (Marjin Kiri, 2012), Joss Wibisono yang dimuat di majalah kebudayaan ampuh, Basis edisi Juni 1986. Dalam tulisan yang berjudul Pers Kampus: “Jang terhempas dan Jang Kandas”, ia menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang tidak menguntungkan eksistensi pers kampus (persma): kalah unggulnya media pers kampus dibanding media pers lain; dinamika politik mahasiswa yang memudar disebabkan oleh adanya pelaksanaan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK); dan soal situasi kampus belakangan yang “telah bergeser dari proses pendewasaan dan pematangan mendjadi proses pengkarbitan.” [1] Kita akan membahas perkembangan ketiga faktor ini sejak dituliskan tahun 1986 lalu sampai sekarang, dengan santai, tentu saja. Tidak akan terlalu serius amat. Nanti pusing pala Barbie.

Pertama, media. Kesenjangan keunggulan media persma dan pers komersil, makin ke sini kita lihat semakin menjadi. Seluruh pers komersil telah melakukan konvergensi di berbagai lini untuk menjawab kebutuhan informasi terkini. Sementara itu, persma masih megap-megap mencari sumber dana demi mencetak buletin dan majalah serta memperoleh orang-orang yang mau menulis di dalamnya. Ketika buletin dan majalah jadi, berapa persen dari total mahasiswa satu fakultas sih, yang membaca produk cetak persma ini? Berapa banyak sih, yang membaca tulisan saya sampai paragraf ini saja, sebelum membuang buletin ini entah di mana?



Nasib media cetak persma memang bagai mahasiswa-mahasiswa jomblo, eh single yang lagi digantung sama bribikan itu: ditinggal sayang, nggak ditinggal menjurus dipermainkan. Sakitnya tuh, di sini. Jika ingin terus berusaha membahagiakan masyarakat era digital yang haus akan berita hangat dan teraktual dari berbagai belahan dunia, niscaya persma bagaikan menunggu—mengutip teman saya, Metallica mengeluarkan album religi.[2]

Begini, pembaca budiman.

Pertama, saya ucapkan terimakasih atas kesediannya membaca tulisan saya. Kedua, sebenarnya, melihat meluapnya arus informasi masa kini yang bikin gigit jari bagi yang menyadari, persma, melalui produk cetak mau pun non-cetaknya dapat menjadi media alternatif yang sangat lebih menyehatkan dan membuka pikiran. Tulisan-tulisan dalam buletin dan majalah dapat disajikan dengan gaya yang lebih menyenangkan seperti dalam bentuk feature, dan tentu dari perspektif yang berbeda. Persma baiknya lebih banyak bermain isu dan angle. Dengan demikian, kemungkinan produk cetak ini dapat bertahan lebih lama di rak buku pembaca lebih besar ketimbang jika persma hanya menyajikan berita yang inginnya aktual, tetapi akhirnya terlanjur basi karena terbit terlalu lama. Ini merupakan salah satu alternatif yang bisa dipilih jika persma masih ingin terus menerbitkan buletin dan majalah dan produknya dibaca.

Dalam kelas jurnalisme wartawan mahasiswa pada 2010, penulis buku A9ama Saya Adalah Jurnalisme (Kanisius, 2010) sekaligus bekas penerima beasiswa untuk wartawan Nieman Fellowship Universitas Harvard pada 1999, Andreas Harsono, bahkan mengusulkan agar persma “membangun web, menekankan kekuatan organisasi mereka—redaksi, produksi maupun bisnis—kepada web, serta secepatnya menghentikan pencetakan majalah atau tabloid” dengan alasan “website  sekarang bukan hanya berisi tulisan, kartun dan foto. Namun ia juga berisi audio, video maupun interactivity dimana pembaca bisa ikut memberi informasi, komentar, gambar dan seterusnya.”[3] Media ini kita tahu memang melampaui media cetak dalam banyak hal.

“Selama lembaga pers mahasiswa masih berkutat dengan dunia cetak, mengerahkan dana dan waktu mereka yang terbatas, buat bikin cetakan, selama itu pula mereka tak memberi kemungkinan buat masyarakat membaca, menonton dan mendengar kerja jurnalistik mereka.” Ini bisa dijadikan akhir pembahasan dari media yang ternyata cukup puanjang ini. Tetapi, tentu saja kata-kata Andreas Harsono di atas tak lantas menjadi kesimpulan mutlak atas apa yang harus dilakukan persma dalam menghadapi era konvergensi media. Banyaknya kemungkinan lain dari (seolah) satu-satunya jalan keluar yang terlihat di dunia ini sama banyak dengan kemungkinan para single bertemu jodohnya, jika tidak setengah-setengah berusaha.

Setelah sekian panjang, akhirnya: kedua, dinamika politik kampus. Sebentar. Halo? Apakah Anda masih di sini? Sepanjang sejarah, pelaksanaan NKK/BKK seringkali dijadikan alasan utama melorotnya pergerakan mahasiswa. Meski telah dihapuskan pada 1990, NKK/BKK rupanya tampil dalam wajah baru dengan PERMENDIKBUD No 49 tahun 2014 yang membatasi masa studi mahasiswa D3 maksimal 4 tahun dan S1 lima tahun. Dampaknya jelas: semenjak pertama kali menginjakkan kaki di universitas, kepala para mahasiswa baru sudah penuh berisi bagaimana caranya kuliah agar lulus dengan predikat cum laude dengan cepat. Ini tentu tidak berefek kecil bagi persma.

Ketiga, situasi kampus yang tidak lagi mumpuni sebagai sarana pematangan diri. Sebagaimana yang ditulis Joss Wibisono bahwa kampus, betapapun kini menjadi lembaga yang elit dan jauh dari kepekaan terhadap pembangunan masyarakat, ia tetap dipengaruhi oleh pikiran-pikiran yang berasal dari luar: orang-orang kini memang lebih butuh yang praktis-praktis dalam segala hal. Maka, sebagai bisnis menguntungkan dalam bidang pendidikan, perguruan tinggi pun harus berusaha memenuhi apa yang diminta oleh pasar. Tradisi-tradisi intelektual semakin luntur dan “pilihan untuk mendjadi mahasiswa... hanja didorong oleh djandji2 jang diberikan oleh struktur sosial, budaja dan ekonomi.” Belum lagi birokrasi kampus yang sering bikin nggrantes ati, dosen-dosen yang tetap saja berlaku setengah dewa, emoh mengakui keluput.... Ah, sudahlah. Saya cukupkan saja pembahasan saya sampai di sini.

Sebenarnya, ketiga faktor di atas sudah basi dibahas di sana-sini. Awak-awak persma sangat mungkin bukan tak tahu juga mengenai hal ini. Dan semakin saya membaca dan mencari  tanpa segera menulis, lalu melewati tenggat seharusnya tulisan ini rampung, saya pun menyadari satu hal: ternyata pengancam eksistensi persma seringkali adalah para awaknya sendiri.

Kekuatan dari Dalam
Akhirnya, setelah penjelajahan tulisan yang tidak cukup panjang dan berakhir pada keterlambatan pengiriman tulisan ini kepada Diah, saya seperti kembali melihat bagaimana saya telah dan masih melalui waktu-waktu sebagai anak persma. Pelanggaran tenggat waktu dalam menyelesaikan tulisan (apapun) tampaknya adalah penyakit yang sedang dilanggengkan, sering tanpa merasa begitu bersalah oleh awak-awak persma. Buletin dan majalah sering terbit seenak udel redaksi: yang penting satu periode kepengurusan punya buletin berjumlah sekian dan majalah berjumlah sekian.

Gairah untuk segera menyelesaikan tulisan lalu membagikannya pada pembaca tidak begitu ada. Pun kegiatan jurnalistik untuk mengembangkan kemampuan para reporter, seperti pelatihan-pelatihan menulis, diskusi, dilakukan dengan hati terbagi. Rapat-rapat redaksi sepi. Pertukaran ide-ide untuk dapat menghasilkan sebuah reportase yang cukup bagus, tulisan yang dapat mencerahkan dan menjadi oase bagi minimal mahasiswa sekampus pun sulit terjadi dengan intens. Kegiatan-kegiatan jurnalistik persma dilakoni hanya sekadar untuk nyambi kuliah, mengisi waktu luang, dan akhir tragisnya: hanya demi terlaksananya program kerja.

Memang sebuah lembaga pers mahasiswa tidak hanya terdiri dari bidang redaksi. Namun, bukankah persma selalu dilihat dari eksistensi produk-produk, tulisan-tulisannya? Redaksi, mau tidak mau adalah organ inti. Semua bidang di dalam organisasi bahu-membahu untuk mencapai tujuan utama menerbitkan tulisan dan tulisan. Dan untuk melakukannya memang bukan kerja yang begitu mudah. Perubahan harus dilakukan di sana-sini. Sekadar nyambi kuliah dan mengisi waktu luang tidaklah cukup untuk mewujudkannya. Loyalitas dan semangat memberikan pencerahan melalui tulisan-tulisan harus kembali dibangkitkan, lalu dipertahankan oleh awak persma.

Maka, saya pun mengulang apa yang Joss Wibisono 89 tahun lalu tanyakan: “Pers Kampus, adalah engkau ‘jang terhempas dan jang kandas’?”(Na’im)

Surakarta, 14 Februari 2015
Esai ini dibikin untuk buletin LPM VISI FISIP UNS




[2] Metallica adalah band heavy metal yang dibentuk di Los Angeles, AS pada 1981. Personelnya adalah James Hetfield (lead vocals, rhythm guitar), Lars Ulrich (drums), Kirk Hammett (lead guitar), backing vocals Robert Trujillo (bass, backing vocals).

Komentar

Postingan Populer