Pertanyaan Sebelum Lulus

Buku seuprit.
Kemarin, Bapak menengokku ke Solo. Dengan seizin teman-teman, ia diperbolehkan naik ke atas, lalu ke kamarku. Sebenarnya, kunjungannya kali ini sama sekali bukan karena ia kangen padaku atau aku terlalu lama tidak pulang, tetapi mengambil beberapa barang untuk ibuku. Aku tidak bisa mengantarnya pulang minggu kemarin karena tugas kuliah yang nyrepek. Dalam kunjungannya yang singkat itu, Bapak mengatakan bahwa buku-bukuku di kosku cuma seuprit. Aku tidak menduga Bapak malah mengejek jumlah bukuku dan bukan memarahiku karena menghabiskan uang saku untuk buku-buku. Hahaha.

Kemudian, Bapak dengan nada bercanda menanyakan kapan aku lulus, lalu menegaskan dengan, "Taun ngarep pora yo wis lulus?" Aku tertawa saja dan meminta doanya semoga aku diberi kemudahan dan bisa benar-benar lulus tahun depan.

Lalu, ketika memikirkan tentang kelulusan--wisuda--tahun depan, ada semacam kekhawatiran yang muncul: Bagaimana jika ketika aku lulus, aku tidak paham apa-apa tentang ilmu komunikasi, jurusan kuliahku? Bagaimana jika ketika aku lulus, aku bahkan tidak mengerti apa yang telah aku tulis untuk skripsiku? Bagaimana jika aku lulus, sebenarnya aku dalam keadaan tidak pantas lulus karena begitu bodoh dan secara keilmuan sebenarnya tidak layak menjadi sarjana? Bagaimana jika ketika aku lulus, cara berpikirku, daya tangkapku, wawasanku, perilakuku tidak mengalami perubahan dibanding ketika saat pertama kali masuk kuliah?

Meski aku andai kata adalah mahasiswa komunikasi yang tidak suka belajar komunikasi, kajian media, dan bahkan nama Jean Baudrillard begitu asing di telingaku, membayangkan ini semua tetap saja mengerikan.

Digelar sarjana tetapi tidak tahu apa-apa.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer