Surat
Surat terpanjang yang pernah aku tulis (yaitu sepanjang 10 halaman A4,
jenis huruf Georgia ukuran 10.5, spasi 1.15, after spacing 10
pt--tidak termasuk judul) untuk seseorang dan lagi isinya sungguh aneh (yaitu
tentang riwayat belajar atau membaca) baru saja kukirim melalui surel tadi
sekitar pukul 19. Sebenarnya, aneh juga menyebut dokumen Ms. Word itu
dengan sebutan surat. Apalagi aku mengirimnya tidak dengan membungkus
lembar-lembar itu ke dalam amplop berprangko dan mengantarnya ke kantor pos.
Ini mungkin karena separuh usiaku telah kuhabiskan dengan menulis surat di atas kertas folio bergaris: kutulis surat kepada Bapak dan Ibu di Brunei, pada majalah Bobo dan Mentari yang akhirnya mengenalkanku pada tiga sahabat pena, satu dari Blitar dan dua dari Kalimantan. Bukan surat dalam bentuk tayangan digital yang tidak dapat kuremas-remas kertasnya bila isinya membuatku geram. Maka, tetap saja surel adalah bentuk surat yang masih aneh bagiku, setelah kupikir beberapa kali.
Dalam surel, "teknologi ketik modern canggih tidak mengizinkan sisa getaran tanganku tertangkap, terlihat, dan tertampakkan dalam tulisan. Huruf-huruf sudah didesain, dikonstruksi, dan dijadikan program yang berlaku sama untuk semua kadar emosi manusia. Apapun yang aku rasakan, huruf-huruf dalam tulisan ini tidak bakal menunjukkan sisi emotifnya. Namun, tentu saja sisi itu sangat mungkin terlihat dari nada berbahasa, pilihan kata, atau struktur kalimat yang aku bangun." (kutipan diambil dari surat seseorang)
Meski begitu, betapapun tampak artifisial surel ini, aku cukup patut berlega hati karena di masa yang sulit mencari semacam jeda dalam hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, aku masih dapat berkirim surat panjang-panjang yang ditulis dengan segenap perasaan serta perngorbanan waktu yang tidak sedikit.
Ini mungkin karena separuh usiaku telah kuhabiskan dengan menulis surat di atas kertas folio bergaris: kutulis surat kepada Bapak dan Ibu di Brunei, pada majalah Bobo dan Mentari yang akhirnya mengenalkanku pada tiga sahabat pena, satu dari Blitar dan dua dari Kalimantan. Bukan surat dalam bentuk tayangan digital yang tidak dapat kuremas-remas kertasnya bila isinya membuatku geram. Maka, tetap saja surel adalah bentuk surat yang masih aneh bagiku, setelah kupikir beberapa kali.
Dalam surel, "teknologi ketik modern canggih tidak mengizinkan sisa getaran tanganku tertangkap, terlihat, dan tertampakkan dalam tulisan. Huruf-huruf sudah didesain, dikonstruksi, dan dijadikan program yang berlaku sama untuk semua kadar emosi manusia. Apapun yang aku rasakan, huruf-huruf dalam tulisan ini tidak bakal menunjukkan sisi emotifnya. Namun, tentu saja sisi itu sangat mungkin terlihat dari nada berbahasa, pilihan kata, atau struktur kalimat yang aku bangun." (kutipan diambil dari surat seseorang)
Meski begitu, betapapun tampak artifisial surel ini, aku cukup patut berlega hati karena di masa yang sulit mencari semacam jeda dalam hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, aku masih dapat berkirim surat panjang-panjang yang ditulis dengan segenap perasaan serta perngorbanan waktu yang tidak sedikit.

Komentar
Posting Komentar