Untuk Perempuan yang Tidak Pernah Aku Lihat Tangisnya


Dalam pandanganku pribadi, dia adalah sosok yang meski tidak cantik banget, enak dilihat. Dia pintar memadu-padankan pakaian dan asesoris yang menyertainya seperti jam tangan, gelang, sepatu, dan tas, dan lain-lain agar enak dilihat. Dari komposisi warna, dia pun pintar memilih-milih. Kadang dia terlihat feminim dengan paduan rok panjang berwarna hitam, flat shoes hitam, tas cangklong, kardigan, dan jilbab. Kadang dia terlihat begitu tomboy dengan celana jins biru agak buluk sampai warnanya sudah hampir putih, sepatu converse kw berwarna hijau lumut, kaos yang dilapisi kemeja hitam kotak-kotak warna hitam-putih, dan jilbab hitam, dan tas gendong yang bergambar tengkorak-tengkorak gitu. Ini adalah dandanan umumnya. Kadang juga, dari atas dia terlihat feminin, tetapi sebaliknya dari bawah. Dia pakai rok panjang dan sebagainya tetapi memakai sepatu keds. (Aku tidak cukup pintar mendeskripsikan penampilan dengan kata-kata).

Kamarnya hampir selalu rapi ketika aku datang ke sana. Bantal, selimut dan kasur tertata begitu rapi sebagaimana kamar tidur dalam kartun-kartun. Tidak ada barang yang terletak tidak pada tempatnya di meja belajar yang jadi satu dengan lemari dan rak buku. Ketika berada di dalam kelas, dia juga rajin mencatat apa-apa yang diajarkan oleh dosen. Kalau kebanyakan teman-teman sudah menggunakan buku yang beraneka rupa dan warna dan model, dia ini masih menggunakan buku tulis desainan sidu yang banyak kita gunakan dari SD sampai SMA. Font tulisannya, selama aku mengenalnya, juga tidak pernah berubah. Menurut pengakuannya sendiri, dia tidak bisa begadang dan pola tidurnya selalu teratur. Tugas-tugas diselesaikannya dengan metode mencicil. Betapa keindahan yang tidak dapat kulakukan.



Secara umum, dia adalah pribadi yang menyenangkan. Apalagi jika menemukan topik pembicaraan yang cocok dengannya. Kami pernah ngobrol selama hampir dua jam di McD Slamet Riyadi tentang berbagai hal (yang tidak terduga sebelumnya). Padahal, es krim McFlurry yang kami pesan telah habis lama sebelum obrolan selesai. Aku dan beberapa teman pernah menambahkan kata “Fang” di belakang namanya (merujuk pada klinik Tong Fang yang pernah ramai jadi bahan candaan) karena tanpa disangka-sangka, dia dapat begitu mengerti apa yang dibutuhkan oleh teman-teman, atau dapat memberi semacam pencerahan dalam interaksi dengan manusia-manusia terdekat, kesadaran atas keinginan diri, dan sebagainya.

Dalam sebuah rapat, dia begitu detail dan sistematis. Dan begitu gampang panik ketika menghadapi krisis yang beruntun (siapa yang tidak? Tapi dia ini barangkali agak lebih mudah panik daripada orang lain). Ini yang kadang membuat geregetan. Semoga saja hari-hari dia dapat pelan-pelan tidak panikan di hari-hari ke depan.

Ah, iya. Dia tidak dapat hidup tanpa musik. Daftar putar atau playlist-nya dapat berganti-ganti sesuai dengan suasana hati dan kebutuhan. Dia tidak keberatan menonton film, makan di tempat-tempat mahal dan sebaliknya. Dia juga mau membaca buku-buku. Pikiran-pikirannya sering di luar dugaan. Ngobrol dengannya dapat menjadi semacam obat menuju kesembuhan. Pernah suatu kali, ketika aku bertanya padanya bila diberi kesempatan untuk dapat kembali ke masa lalu apa yang mau dia perbaiki, dia menjawab (salah satunya) demikian: ingin lebih sungguh-sungguh belajar menulis.

Kadang aku melihat dia begitu bebas… Begitu tidak memiliki kerisauan tentang ini-itu, begitu tahu apa yang harus dia lakukan. Begitu tidak apa-apa pergi ke mana-mana sendirian, melakukan hal-hal sesuai dengan apa yang diinginkan, belajar apa-apa yang ingin dia pelajari.

Aku tidak tahu berapa IPK-nya. Yang jelas tidak cum laude (seperti aku). Tetapi dibanding aku sendiri, aku tahu dia telah mencoba berbagai hal lebih banyak. Dan dalam mencoba berbagai hal itu, dia tampak sama sekali tidak mempunyai prasangka apa pun selain ingin mencoba. Dia tidak mempunyai kekhawatiran-kekhawatiran tertentu apakah dia sanggup atau tidak dan sebagainya. Dia tidak kalah sebelum berperang sebagaimana sering aku alami.

Tapi, kadang aku juga melihat (dan mungkin juga merasa) bahwa dengan segala yang dia miliki, dia memiliki semacam keluguan atau kepolosan yang juga tidak terduga. Seakan-akan selama ini dia tidak pernah ke mana-mana, tidak pernah berpikir apa-apa, tidak pernah bergaul dengan (katakanlah) orang-orang yang mempunyai banyak topeng kehidupan (soal topeng kehidupan ini diceritakan dengan menarik oleh Leila S. Chudori di kumpulan cerpen Malam Terakhir edisi perdana—yang cerpennya lebih banyak daripada edisi yang berkaver manusia kuda).

Dia sendiri semacam tidak tahu telah sejauh mana dia bergerak dan tidak memiliki kesadaran penuh dalam setiap gerak yang dia lakukan. Dia begitu dapat mengerti orang lain, tetapi sebaliknya terhadap dirinya sendiri. Kadang dia juga begitu ceroboh sehingga membuat dirinya sendiri kelabakan. Hahaha. Yah, begitulah dia. Semoga saja hari-hari kemudian menjadi lebih baik baginya.

Aku tidak pernah begitu dekat banget dengan dia selama ini. Mungkin sekali obrolan yang jarang tetapi cukup panjang (dan penuh kejujuran) setiap kali itulah yang membuat kami benar-benar bertemu dan bukan sekadar berpapasan sebagaimana dengan teman-teman lain. Barangkali.

Aku menulis ini sambil mendengarkan salah satu lagu yang pernah menjadi kesukaannya berulang kali (aku tidak tahu apakah sampai sekarang), Yellow. Katanya, lagu ini membuatnya tidak merasa sendiri dan Coldplay menyanyikan lagu ini khusus untuk dia. Dengan begitu, dia merasa bahagia. Kalau saja aku bisa menyanyi dengan benar dan layak untuk diperdengarkan, sekarang ini aku ingin juga menyanyikan lagu ini buat dia.

Look at the stars,
Look how they shine for you,
And everything you do,
Yeah, they were all yellow.

I came along,
I wrote a song for you,
And all the things you do,
And it was called "Yellow".

So then I took my turn,
Oh what a thing to have done,
And it was all yellow.

Your skin,
Oh yeah your skin and bones,
Turn into
Something beautiful,
You know,
You know I love you so,
You know I love you so.

I swam across,
I jumped across for you,
Oh what a thing to do.
'Cause you were all yellow,

I drew a line,
I drew a line for you,
Oh what a thing to do,
And it was all yellow.

Your skin,
Oh yeah your skin and bones,
Turn into
Something beautiful,
And you know,
For you I'd bleed myself dry,
For you I'd bleed myself dry.

It's true,
Look how they shine for you,
Look how they shine for you,
Look how they shine for,
Look how they shine for you,
Look how they shine for you,
Look how they shine.

Look at the stars,
Look how they shine for you,
And all the things that you do.




Selamat ulang tahun, Tiara Saum. 


Surakarta, 11 April 2015

Be brave to face the world!  YNWA \m/

Komentar

Postingan Populer