Kritik untuk Romantikus Angkatan 2000
Menggairahkan sekali membaca esai
panjang Kalis Mardi Asih yang dimuat di kolom Gagasan Solopos, Senin, 25 Mei
2015. Dengan bahasanya yang cerkas, penuh gejolak, dan berapi-api, namun tidak
meninggalkan kesan “omdo” alias omong doang, Kalis mengungkapkan (kalau boleh
saya bilang) unek-uneknya tentang aktivis 98 yang asal saja menilai pergerakan
mahasiswa hari ini “tidak memiliki militansi, tidak
memiliki pandangan ideologis, dan tidak layak untuk menyandang gelar agent of change atau guidance of value”.
Saya pun merasakan kesulitan yang sama ketika
berupaya mencari makna dan posisi strategis sebagai mahasiswa hari ini. Pun
geram terhadap angkatan 98 yang sebagaimana Kalis tulis, “merasa jumawa dengan menganggap bahwa
mereka adalah generasi terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini”. Ah, tetapi begitu kecewakah Kalis dengan Angkatan 98
sampai-sampai menghukum mereka semua, nyaris tanpa kecuali sebagai pendendam
yang hanya ingin berebut kekuasaan?
Kita memang tidak dapat menerima ada sebagian
generasi 98 yang hari ini enak-enakan ongkang-ongkang di atas sana. Tetapi, ada
juga dari mereka yang benar-benar tidak menaruh pamrih kekuasaan setelah
perjuangan selesai, sebagaimana yang diharap-harap oleh Arief Budiman dalam Kebebasan, Negara, Pembangunan (2005), sesudah revolusi terlaksana, sudah semestinya
mahasiswa kembali ke kelas, belajar dengan tenang.
Hari ini, memang sudah semestinya bila
mahasiswa tidak melulu dibayang-bayangi oleh kesuksesan angkatan 98 perkara melakukan pergerakan. Zaman telah berubah. Sebagaimana
yang ditulis Kalis, mereka dapat berkontribusi sesuai bidang masing-masing
dengan “menyibukkan diri lewat berbagai pengabdian masyarakat” atau “membangun
bisnis, asalkan tidak kosong nilai atau akti[v]itas berpikir.”
Namun, sebagaimana yang dapat kita
saksikan akhir-akhir ini, ada pula yang lebih memilih jalan persis mahasiswa 17
tahun yang lalu: demonstrasi demi menundukkan rezim yang belum setahun
berkuasa. Mereka berteriak-teriak lantang menyuarakan, konon, suara rakyat
marhaen—istilah yang sesunggunya abstrak, memiliki banyak sekali padanan
seperti publik, warga, umat, masyarakat, dan tentu saja proletariat dan kaum
kromo, yang sarat kepentingan politik. Dan inilah yang saya lihat sebagai
cermin pergerakan mahasiswa hari ini.
Lebih dari “jika angkatan 1998 mampu,
mengapa angkatan 2000-an tidak mampu?”, dalam kepalan tangan mereka yang
mengacung minta Jokowi turun 20 dan 21 Mei lalu, ada semangat berkobar “jika
angkatan 1998 mampu, angkatan 2000-an juga mampu!” Ini dapat dengan jelas kita
lihat dalam deskripsi fanpage Aksi
Mahasiswa 2015 yang saat ini (26/5) telah mempunyai 23.208 penyuka: “PANGGILAN
JAMAN UTK MAHASISWA, 1966 Lewat, 98 ukir sejarah,Tahun 2015 memanggilmu
meneruskan sejarah, Kepalkan tangan Acungkan ke Udara, Maju Tak Gentar” (https://www.facebook.com/AksiMahasiswa2015).
Bedanya, mahasiswa hari ini tidak
mendapatkan simpati yang begitu besar dari elemen masyarakat—ibu-ibu pembagi
nasi bungkus, media massa, parlemen. Dan pula, aksi mereka sungguh jauh dari
urgensi pergantian kekuasaan sebagaimana pada 1998. Hari ini, mereka terlihat
seperti massa taman kanak-kanak yang mengamuk karena permintaan mereka tidak
dituruti oleh sang bapak. Eksklusivisme, arogansi, dan eksistensi di hadapan
publik menguarkan bau anyir yang memuakkan dari aksi-aksi mereka.
Bagaimana mereka menjual ideologi demi
menu-menu suguhan Jokowi yang mustahil sekelas nasi bungkus yang dibagi-bagikan
oleh ibu-ibu saat mahasiswa 98 menduduki Senayan berhari-hari sungguh
memalukan. Mereka “berdiskusi alot” dengan presiden sambil menyumpal mulut mereka
dengan menu istimewa suguhan istana, sementara sebagian rakyat marhaen yang
konon mereka perjuangkan melalui tuntutan kembalikan subsidi BBM itu barangkali
tengah meringkuk kedinginan di kolong jembatan. Belum lagi dengan isu pribumi
dan non-pribumi yang mereka usung saat demonstrasi, sungguh kemunduran pikiran
yang berpuluh tahun lamanya.
Sedang Hatta yang dalam pengasingan di
Boven Digoel pada 1934 saja menolak dengan tegas bekerja di bagian administrasi
Belanda demi pendapatan yang lebih mencukupi, demi cita-cita Indonesia merdeka
yang ia bela. Ia menolak tunduk.
Tak perlu pulalah saya deskripsikan
dengan rinci bagaimana bahkan antar-mahasiswa 2000-an sendiri terjadi adu mulut
dan saling caci di media sosial karena tragedi
ini.
Dan barangkali, debat mahasiswa di salah
satu stasiun televisi 25 Mei hari ini pun akan menuai reaksi demikian. “Blok
Mahakam dikuasai asing!” Pekik satu mahasiswa. Tepuk tangan pun bergemuruh di
studio. Saya ragu mereka mengetahui benar apa dan bagaimana yang menyangkut penghasil
gas utama atau terbesar di
Indonesia
ini sebelum teriakan dan tepukan tangan itu
bergemuruh. Lagak yang persis politikus Indonesia hari ini.
Jika sedikit saja mereka belajar
sejarah, mereka akan tahu bahwa revolusi tidak serta merta terjadi hanya karena
mereka “memberi deadline” sampai
tanggal 20 Mei bagi pemerintah untuk menyelesaikan
segala permasalahan yang ada, debat yang lagi-lagi hanya berisi teriakan
tuntutan tanpa disertai pengetahuan yang cukup dan analisis mendalam tentang
permasalahan perdebatan, apalagi demo, demo, pokoknya demo saja.
Jika mahasiswa 1998 dulu tidak mampu
menjawab pertanyaan “visi besar kebangsaan” yang luput dipersiapkan saat
reformasi, apakah aktivis mahasiswa hari ini, dengan corak pergerakan (jika
dapat disebut demikian) seperti ini, bisa menjawabnya kecuali dengan jawaban
pragmatis “demi kemajuan bangsa dan negara”, “kecintaan terhadap Indonesia”,
“kebaikan rakyat kecil”? Oh, benarkah pergerakan mahasiswa seperti ini yang
akan kita bela?
Maka, memang tidak berlebihan jika
mahasiswa hari ini adalah mereka yang sedang limbung, semakin sulit menyatakan dirinya
di antara kelindan teknologi informasi dan komunikasi modern dan budaya praktis
yang menghantui. Dalam banyak kajian, banyak sekali padanan untuk generasi 2000-an
ini: Generasi sesak media, generasi X, Y, Z, generasi hijau (Idi Subandy Ibrahim,
2011; 2014) bahkan ada pula yang menyebut generasi galau.
Di satu sisi, generasi ini mempunyai kesempatan
yang besar untuk melakukan perubahan dengan segala yang ia miliki hari ini.
Media sosial memudahkan mereka menyebarkan ide-ide yang dapat menjadi viral dalam
waktu yang relatif singkat. Menggalang massa lewat media ini juga bukan sesuatu
yang sulit banget dilakukan. Toh, sebagian besar rakyat marhaen
yang dibela mahasiswa demonstran menghuni ruang maya ini.
Namun, kesempatan ini akan sia-sia jika
media yang mereka miliki pada akhirnya hanya menjelma sebagai media
propagandis-destruktif, bukan diskursif-konstruktif. Ini dapat kita lihat
dengan jelas pada artikel-artikel yang dimuat oleh laman bem-indonesia.com, media yang dimiliki mahasiswa yang tergabung
dalam Badan Eksklusif Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI). Juga tagar
propagandis #Jokowibohong yang kekanak-kanakan di twitter.
Maka, urgensi tantangan mahasiswa hari
ini adalah mendidik pikiran dengan benar agar tidak menjadi bebal dalam
bertindak. Mundur sejenak demi menyiapkan strategi yang lebih matang untuk
kemudian menang jauh lebih baik dan terhormat dari pada menanggung malu di
kancah peperangan. Dan inilah yang menuntun keberhasilan tiap gerakan
mahasiswa, termasuk tentu saja gerakan mahasiswa 98.
Selanjutnya, adalah saatnya kita
menghidupi reformasi, yang tentu saja pemenuhannya memang harus kita perjuangkan
setiap hari. Ya, tentu dengan cara masing-masing (mahasiswa). Tetapi, yang
lebih penting dalam cara yang masing-masing itu adalah tujuan yang sama:
menjaga asa kebangsaan dan keindonesiaan. Ini, meminjam kata Oom Ben Anderson
dalam esainya Nasionalisme Indonesia Kini
dan di Masa Depan (1999), adalah “harapan dan kepercayaan bahwa mereka [dan
kita] sedang berbagi dalam sebuah proyek bersama dengan manusia Indonesia
lainnya.”
Hanya menyalahkan segala hal di luar
diri kita atas segala kekecewaan di dalam diri tidak akan membawa usaha kita
sampai ke mana-mana. Sebagaimana Oom Ben wanti-wanti, setiap orang tidak harus
atau dapat menjadi manusia-manusia hebat. Tapi, setiap orang kiranya dapat memutuskan sendiri untuk menolak menjadi
kerdil.[]

Komentar
Posting Komentar