Pertengahan Juni yang Muram.
Hari diawali dengan suapan-suapan besar nasi berlauk tempe dan sejumlah makian asu. Teh hangat melampaui hangat yang ditawarkannya. Ia membakar tubuh, membuat mata memerah, buku-buku jari mengepal, dan akhirnya... sudah. Tugas terakhir diselesaikan dengan terengah-engah. Tidak masalah. Sudah demikian menjadi kebiasaan. Siapa peduli? Hari seharusnya berawal lebih berarti. Tapi, siapa peduli, sekali lagi. Siapa peduli?!
Tubuh jatuh. Mata terpejam. Seonggok daging bertutup kain lusuh sebagai mayat tiada dipedulikan. Kemeriahan hari ini tidak terjadi di sini. Melainkan di gawai-gawai. Selamat ramadhan, katanya. Marhaban ya Ramadhan, katanya. Maafkan aku lahir dan batin ya, katanya. Barokah ya, katanya. Selamat berbuka puasa ya, katanya. Iklan-iklan juga menjadi lebih bersahaja, membangunkan saat sahur dan buka tanpa alpa: iklan sirup, es krim, mobil, pakaian, aih! Riuh-rendah, semarak, cerah, ceria nan bahagia menghiasi layar-layar kaca, kecil-besar.
Lalu, mendadak semua-mua tergila-gila pada Tuhan. Sebulan lagi? Pahala bulan ini telah cukup menghidupi dansa-dansi piknik suka-suka sebelas bulan kemudian, In shaa Allah.
Seonggok daging terseok-seok menuju entah.
Tubuh jatuh. Mata terpejam. Seonggok daging bertutup kain lusuh sebagai mayat tiada dipedulikan. Kemeriahan hari ini tidak terjadi di sini. Melainkan di gawai-gawai. Selamat ramadhan, katanya. Marhaban ya Ramadhan, katanya. Maafkan aku lahir dan batin ya, katanya. Barokah ya, katanya. Selamat berbuka puasa ya, katanya. Iklan-iklan juga menjadi lebih bersahaja, membangunkan saat sahur dan buka tanpa alpa: iklan sirup, es krim, mobil, pakaian, aih! Riuh-rendah, semarak, cerah, ceria nan bahagia menghiasi layar-layar kaca, kecil-besar.
Lalu, mendadak semua-mua tergila-gila pada Tuhan. Sebulan lagi? Pahala bulan ini telah cukup menghidupi dansa-dansi piknik suka-suka sebelas bulan kemudian, In shaa Allah.
Seonggok daging terseok-seok menuju entah.

Komentar
Posting Komentar