Setelah Menerobos Kegelapan

Benar kata orang: menemukan buku yang bagus memang terasa seperti bertemu teman ngobrol yang pas. Bahkan, seringkali melampauinya. Bertemu buku bagus yang menarik kita untuk tenggelam ke dalamnya, menyelami setiap kata, ide, dan gagasan di dalamnya, seakan mempertemukan kita dengan seorang asing yang menyenangkan, begitu saja menjadi bagian dari diri kita dalam sebuah perjalanan yang jauh dan tiada orang yang menyertai.

Seseorang pernah mengatakan padaku, buku sangat lebih sering dapat menjadi teman yang baik dari pada manusia itu sendiri, yang notabene adalah makhluk yang meniscayakan buku-buku ada. Katanya, "Setidaknya, hampir tak banyak banget buku yang melukai perasaanku dari pada manusia."

Kiranya, begitulah saat aku bertemu dengan Menerobos Kegelapan Karen Armstrong (Mizan, 2004) Jumat malam lalu. Butuh tiga malam dan dua hari untuk menamatkan 550 halamannya. Dan itu benar-benar bukan buku yang buruk untuk mengakhiri Mei, bulan yang meski ingin aku anggap biasa, tetap saja berbeda.

Menerobos Kegelapan, sebagaimana yang aku ceritakan pada Han dalam sebuah pesan pendek, adalah sebuah autobiografi yang ditulis dengan menarik dan cerdas. Tidak sok dramatis, apalagi sok inspiratif sebagaimana kebanyakan autobiografi atau buku sejenis itu dimaksudkan ketika ditulis.

Diawali dengan pengantar yang mengena dari Dr. A. Sudiarja (Pemimpin Redaksi majalah Basis)--aku memang ingin sekali mengutipnya--:
"Hidup yang tidak direfleksikan bukanlah hidup manusiawi," kata Plato. Akan tetapi, inilah kenyataan yang lebih sering dihadapi orang zaman sekarang. Ada bermacam ragam kegiatan. Kehidupan pun bergerak sekadar didorong oleh naluri-naluri tak sadar dari kebutuhan untuk tidur, makan, kerja, mengurus keluarga dan basa-basi sosial--barangkali termasuk juga praktik ibadah dan doa--tanpa waktu khusus untuk merenungi perjalanan diri pribadi, mempersoalkan makna dari semua yang dikerjakannya" (35-36).
Buku itu kemudian menyerap diriku begitu rupa, menenggelamkanku ke dalam kata-kala, hal yang akhir-akhir ini benar-benar kurindukan kualami kembali. Pertama-tama, dan inilah sebagian besar alasanku tertarik atau betah membaca sebuah buku, adalah karena bahasanya yang tidak membosankan, cerdas, dan tidak sangat menonjolkan unsur "aku" meskipun itu memang buku tentang dirinya. Alih-alih mendapatkan seorang Karen Armstrong yang istimewa, aku malah mendapatkan diriku tercerap pada ide-ide yang dia lontarkan sepanjang halaman demi halaman.

Kemudian, tentu saja adalah apa-apa yang telah dilalui oleh Karen hingga dia menjadi sosok yang sekarang ini: menemukan dirinya dalam menulis buku-buku tentang keagamaan. Buku ini pada akhirnya, sebagaimana tertulis di sampul depan, bukan hanya sebuah autobiografi, melainkan autobiografi spiritual yang tidak menampakkan dirinya sebagai orang suci atau semacamnya, namun menawarkan sebuah alternatif, pandangan baru yang bagiku sendiri menyejukkan, tentang pencarian manusia pada Tuhan, yang akhirnya berujung pada kata yang disebut arif, atau jika kata tersebut terlalu berlebihan, setidak-tidaknya, sampai pada saat di mana seseorang mampu mencapai kebahagiaan dan menemukan bahwa apa yang dia lakukan saat ini adalah jalannya.

Pada usia 17, Karen dengan berani memutuskan untuk menjadi seorang biarawati dan bertahan di sana selama 7 tahun sebelum akhirnya keluar. Dan beruntunglah mereka yang memberanikan diri keluar dari penjara yang mengungkungnya, meski jalan di depan barangkali sama tidak ratanya sebagaimana sebelumnya. Ia mengalami kegagalan demi kegagalan: "Saya seorang mantan biarawati, seorang akademisi yang gagal, tidak stabil secara mental, dan sekarang bisa menambahkan "sakit epilepsi" ke dalam daftar kemalangan ini." (342)

Dan berkali-kali pula ia mengatakan bagaimana pintu-pintu (kesuksesan) selalu dibanting di depan wajahnya. Namun, semua pintu yang dibanting itu mengantarkannya pada sebuah pintu yang lain lagi, Dan tampaknya, sampai saat ini, itulah barangkali satu-satunya pintu yang tidak dibanting di depan wajahnya.

Tentu saja kisah Karen tidak sesederhana sebagaimana yang aku tuliskan di sini. Ada begitu banyak hal yang bergolak dalam pikirannya, meski dari luar dia sungguh tampak baik-baik saja. Dari pencariannya pada Tuhan, bagaimana kemudian ia meninggalkannya dan "jika mungkin saya ingin melupakan bahwa ia ada", sampai pada ia merasa bahwa meski tidak memercayainya, ia mempunyai urusan yang belum selesai dengan Tuhan... dan lahirlah buku-buku itu, yang dalam prosesnya ia menemukan apa yang dulu ia cari-cari ketika memutuskan menjadi biarawati. "Saya menulis itu (Sejarah Tuhan) dengan semangat berlimpah. Ia menjadi perlambang sebuah pencarian dan pembebasan bagi saya" (529)

Ia dapat mencapai ekstase dalam keheningan hari-hari yang ia habiskan untuk melakukan riset, membaca, kemudian menulis bukunya. "Keheningan itu seakan bersenandung, pelan tapi berirama, dan mengorkestrasi ide-ide yang sedang saya hadapi hingga akhirnya ide-ide itu pun ikut bernyanyi, bergetar, menyingkap resonansi yang tak terduga."

Sebagaimana Siddartha, Karen menceburkan dirinya sedalam-dalamnya pada apa yang ingin dia lakukan. Mereka jatuh sejatuh-jatuhnya, sebelum kemudian bangun, dan menemukan "pencerahan". Dan pencerahan, yang selalu datang dalam suasana mistis dan menyentuh hati seseorang begitu dalam, dapat hadir pada orang-orang dengan berbagai cara. Tampaknya, mereka menjalani begitu saja hidup mereka, bukan begitu saja mengikuti arus, tetapi mengikuti apa yang dikatakan oleh hati dan pikirannya, dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya, tangan-tangan tidak terlihat akan menuntun mereka menuju cahaya.

Dalam 21 tahun hidupku ini, tampaknya belum pernah aku belajar dengan serius. Diriku terus saja kemrungsung dengan hal-hal yang tidak pasti akan terjadi di masa depan, atau menyesali apa-apa yang telah berlalu. Kepalaku kacau.

Tentu saja, "menemukan kekuatan dalam apa yang tersisa" adalah jalan tengah yang kurasa memang sangat dapat diambil. Oh, tetapi telah adakah yang tersisa dari diriku, sedang aku terasa belum menimbun apa pun untuk bekal kuhabiskan dalam perjalanan...

Samar-samar, kulihat Karen menyelesaikan Menerobos Kegelapan dengan hati yang damai dalam kesunyian yang ia pikir tidak ia inginkan.

Kadang-kadang, aku sungguh-sungguh merindukan kententraman yang seperti itu.

Surakarta, 31 Mei - 3 Juni 2015

Komentar

Postingan Populer