Elemen-Elemen Jurnalisme Adalah yang ke Sekian

Kata Kovach dan Rosenstiel, pelajaran menjadi "wartawan sebenarnya" jarang berasal dari lembaga pendidikan atau kampus. Dari wawancara yang mereka lakukan terhadap wartawan-wartawan di buku 9 Elemen Jurnalisme, pelajaran itu diperoleh setelah mereka keluar dari kampus dan menjadi wartawan, serta setelah berkali-kali bertugas ke lapangan. Faktor redaksi dan pendidikan yang diberikan oleh media tempat wartawan bekerja ternyata lebih besar.

Padaku sendiri, aku baru akan memulainya. Meliput untuk tugas kampus dan untuk hal magang memang berbeda. Pun aku memperlakukan materi liputan, narasumber, dan bagaimana aku akan menulis berita ini dengan cara yang lain. Ini tentu saja akan lain bila dosen jurnalistikku sedari awal bersungguh-sungguh menilai tugas-tugas berita itu, dan memberikan perhatian yang lebih besar pada kelas yang notabene diwajibkan untuk kami semua ambil, meski ada yang tidak suka.

Nyatanya, menulis berita magang tidak semudah seperti menulis tugas berita yang begitu saja di-acc dosen atau nilainya keluar begitu saja juga saat akhir semester tanpa ada evaluasi. Setidaknya, pertama-tama inilah terjadi di dalam pikiranku.

Hal elemen-elemen jurnalisme bla bla bla menjadi yang ke sekian dibanding "AKAN MEMBERITAKAN APA DAN DARI SUDUT PANDANG MANA" ketika siang setelah materi berita dan angle kami langsung ditugaskan untuk liputan (sebagai latihan). Tenggat yang kurang dari lima jam membuatku bergetar-getar ketika mencari-cari informasi di internet dan memikirkan angle berita sebagai bekal sebelum berangkat. Ini sungguh berbeda dengan keadaan di kelas.

Kata Pak Ali, sejam sebelum kami ditugaskan liputan, angle adalah salah satu (dan mungkin yang paling pokok, tentu saja selain cara menulis berita pada akhirnya) yang membedakan kualitas antara wartawan satu dengan yang lainnya. Itulah kenapa berlangganan lebih dari satu koran.

Hal yang menurutku lebih sulit adalah ketika menentukan sudut pandang berita berhadapan dengan pikiran si wartawan sendiri. Dari yang aku alami sendiri sebelum berangkat ke Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan mewawancarai narasumber untuk bahan berita (itu memakan waktu tak lebih dari satu jam, termasuk sudah ngobrol hangat dengan Bu Ninik dan teman-teman setelah wawancara serta ditawari cemilan), pikiran-pikiranku sebelum menulis berita itu, kepanikan mencari informasi dan menentukan sudut pandang yang belum matang benar karena tenggat benar-benar saat yang lebih menentukan hasil liputanku pada akhirnya.

Kata-kata praberita--kata-kata sebelum terjadi peristiwa berita, sebelum menjadi berita tertulis--sungguh menjadi hal penting yang bahkan dapat "membahayakan". Segala kemungkinan bias kata, dan akhirnya bias berita dapat terjadi pada fase ini. Pengetahuan si wartawanlah yang lebih sering sangat menentukan ("Diklat teknik jurnalistik tak sering berguna!" Kata Fauzi Sukri dalam pesan pendek).


Yogyakarya, 29 Juli 2015

Komentar

Postingan Populer