Hal-Hal yang Tidak Lazim Dibawa Pulang

Aku mengepak segalanya, akhirnya. Urung meninggalkan apa-apa yang hanya ingin kujumpai saat kembali saja, nanti, kuharap: entah kapan. Tetapi akhirnya aku membawanya juga, kuselipkan di antara kaos-kaos dan kemeja yang mulai lusuh, rok yang sebagiannya telah dikrikiti tikus, beberapa celana dalam dan beha. Dan lima helai jilbab (sudah hampir seluruh dari yang kupunya). Dan beberapa yang kubawa hanya untuk kutinggalkan. Juga di dalam buku-buku yang menyesaki ransel (The God of Small Things Arundhati Roy, Sembilan Elemen Jurnalisme Bill Kovach & Tom Rosenstiel, Mewartakan Agama oleh-oleh dari Workshop Pers Kampus di Jogja yang diperoleh dari seseorang yang sedang semangat-semangatnya belajar, Heidegger dan Mistik Keseharian dan Humanisme dan Sesudahnya F. Budi Hardiman, Tantangan Pers Indonesia Bagir Manan, Wars Within Janet Steele, Ekonomi Kerbau Bingung Sindhunata, Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi Will Barton & Andrew Beck, buku catatan seharga empat puluh dua ribu yang digambari diri sendiri yang tak mirip sebagai kaver), di antara halam-halaman yang sebagian besar belum kubaca.
Mereka: pikiran-pikiran yang hanya relevan bila kupikirkan di sana, bukan di sini, perasaan-perasaan yang hanya akan dimengerti oleh dua rak buku yang kutinggalkan, buku-buku yang berjejalan di dalamnya, lembar-lembar kosong yang telah tercoret catatan-catatan. Juga hanya oleh kasur di mana tubuh seringkali meringkuk, memeluk bantal (karena tidak ada guling) yang menjadi penyeka setia air mata di malam-malam buta. Perasaan-perasaan yang hanya dipahami oleh udara malam di kota itu, dan anginnya, dan hujannya, segala yang memenuhinya, bukan keheningan yang menyeruak dan semua-mua ritme lambat yang memenuhi tempat ini. Merekalah yang menyesaki ransel, mengisi udara-udara kosong di dalamnya, membuatnya mampat, berat.
Perjalanan pulang sebagaimana yang sudah-sudah. Tidak pernah benar-benar berarti. Tidak pernah memantik pikiran atas hal-hal tertentu di masa lalu.
Nama bus yang sama (kalau tidak Gunung Mulia ya, Purwo Widodo).
Jalan yang sama.
Sebentuk bangunan-bangunan kuno yang menawan, tidak tersembunyi namun hampir selalu diabaikan. Yang sering sekali menarik minatku ketika melaluinya, yang juga sama.
Beberapa kios masakan babi.
Toko-toko plastik.
Tiramisu tiga puluh ribu.
Susu segar.
Pasar-pasar.
Kelokan-kelokan yang sama.
Posisi tempat duduk yang selalu salah perhitungan dan membuat perjalanan gerah oleh tawa matahari, tetapi tidak cukup beringas untuk membuat pindah. Sebab lain adalah takut mabuk lalu muntah. Dan Solo tinggal bayang-bayang di pikiran. Maya.
Tiga jam yang tidak benar-benar berarti, kecuali kesadaran bahwa ada banyak hal yang telah terjadi, yang hampir luput dari ingatan karena tidak lagi ditulis di mana-mana. Turun dari bus dengan ransel dan satu tas jinjing yang penuh dengan kaos-kaos dan kemeja yang mulai lusuh, rok yang sebagiannya telah dikrikiti tikus.
Beberapa celana dalam dan beha.
Dan lima helai jilbab yang sudah hampir seluruhnya.
Buku-buku.
Juga hal-hal yang kusangka sanggup tidak kubawa serta: pikiran-pikiran yang hanya relevan jika  keluar di sana, bukan di sini. Dan perasaan-perasaan tertentu. Juga pertanyaan-pertanyaan. Kegelisahan-kegelisahan. Harapan. Mungkin cinta. Sedikit kerinduan. Hal-hal yang tidak lazim, atau tidak seharusnya kubawa pulang. Akan lebih meringankan meninggalkan semuanya di sana begitu saja, dan memulai perjalanan seperti tengah terlahir kembali. Tetapi harus kembali menghadapi “kota kenyataan” seperti narapidana kembali ke bui sehabis jalan-jalan.
Lalu, rumah.
Menghadap ke selatan. Gerbangnya adalah batang-batang bougenville (sepertinya ejaannya tidak begitu) yang sedang berbunga dan dilengkungkan seperti gapura penanda RT/RW di Solo. Halamannya tinggal separuh, tercaplok bangunan seukuran kamar 15 meter persegi yang kini lebih sering terisi ribuan batu bata mentah, kadang juga matang. Dan pasir.
Bangunan bekas warung pecel saat pagi dan mie ayam saat malam beberapa tahun yang lalu. Warung yang hanya berjalan sebentar, tutup saat seorang kakek telah memutuskan untuk menikmati mie ayam seminggu sekali di warung kami. Warung yang belum sempat memiliki nama. Sepersekian ribu tahun cahaya dari kata brand. Separuh halaman lain dapat bernapas lega, mungkin untuk selamanya. Dengan pohon sawo yang hampir menyelesaikan masa remaja di salah satu sudutnya. Daun-daunnya lebar, hijau, hampir bulat, dan mengerucut di puncak seperti cemara. Tali jemuran kendor berwarna biru melewatinya. Tempat di mana dua malam yang lalu aku menaruh beberapa helai pakaian basah yang menetes-neteskan air ke tanah yang berdebu saat siang hari. (Esoknya diguyur hujan tiba-tiba.)
Halaman dan bangunan rumah dan bekas warung dikelilingi pagar tanaman. Terdiri dari semak-semak yang tidak kutahu namanya, yang dapat dipotong dan dibentuk menjadi berbagai hal: bunga-bunga, buah, dinosaurus, jerapah. Yang ini dibentuk seperti pagar pada umumnya saja. Pohon bunga sepatu. Diselipi pohon-pohon lamtoro yang di salah satunya tergantung ayunan dari ban bekas. Menghadiahi kenangan manis pada anak-anak sekitar rumah dan adikku. Pohon nangka remaja di samping kanan rumah.
Rumah (masih) bercat hijau muda. Berjendela-jendela. Sedikit dari rumah yang berjendela-jendela di sebuah desa di ujung barat di sebuah kota kabupaten paling barat Jawa Timur (posisi geografis yang dapat dipertanyakan karena navigasiku yang buruk). Terdiri dari tiga kamar tidur (salah satunya tidak untuk tidur). Ruang tamu bersambung dengan jogan. Satu gudang sempit. Dan ruang cukup lapang untuk menyimpan dua motor (tidak ada satu dari keduanya yang dibeli dalam keadaan baru) dan satu sepeda merah beroda tiga dan kotak penuh mainan-mainan dan rak sepatu. Bersambung ke satu dapur. Meja makan dengan satu bangku panjang. Satu kamar mandi. Kemudian keluar ke kandang kambing. Satu telah mati karena masuk angin.
Tidak ada bagian rumah yang sejak awal diperuntukkan bagiku. Milikku. Yang akan dibiarkan tertutup selama aku tidak ada. Yang tidak akan diganggu gugat kecuali diizinkan olehku, sang pemilik otoritas. Aku bukan atau belum menjadi penghuni tetap. Setidaknya, sejak sekitar hampir sembilan tahun yang lalu. Bahkan ketika ada rak buku baru di kamar paling ujung. Terasa seperti benar-benar disiapkan untukku. Tetapi tidak. Meski Bapak telah berencana membuatkanku lemari. Lemariku sendiri. Berisi barang-barangku, yang akan dibiarkan tetap tertutup jika kutinggalkan. Saat aku telah menjadi penghuni tetap, entah kapan. Tetapi sudah tidak ada ruangan lagi yang tersisia.
Tetapi aku tetap menuju salah satu kamar itu, yang ada rak buku barunya, dan kuletakkan ransel dan tas jinjing yang penuh dengan kaos-kaos dan kemeja yang mulai lusuh, rok yang sebagiannya telah dikrikiti tikus. Beberapa celana dalam dan beha. Dan lima helai jilbab yang sudah hampir seluruhnya. Buku-buku. Dan pikiran-pikiran tertentu. Dan perasaan-perasaan tertentu. Kubongkar semuanya, kecuali pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan tertentu. Kuletakkan di salah satu sudut almari, menumpang Bapak Ibu. Kecuali kecuali pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan tertentu.
Dan hari hari, satu, dua, tiga, lima, enam, … berlalu.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang menggugah.
Tidak ada yang menumbuhkan gairah.
Sepasang orang tua dan anak kecil yang hanya memicu amarah.
Pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan tertentu bergelung, bersiap bangun, menyeringai. Menampakkan gigi-gigi tajam. Siap menerkam apa atau siapa saja yang mengganggunya. Bayangkanlah Kyuubi. Terlalu berlebihan, tetapi satu-satunya gambaran yang paling mendekati.
Tetapi lama-lama juga keharuan yang membuncah.
Oleh sentakan yang tidak diinginkan keluar untuk sepasang orang tua, amukan untuk anak kecil yang senantiasa bilang “Kaka (tidak ada ‘k’ di akhir katanya), sesuk ojo mulih, Ka.” Yang tidak mau mengerti dan mau menang sendiri. Yang selalu tertawa, dan surut amarahnya sebelum ia sadar emosi apa yang baru saja dia rasakan. Oleh kalimat-kalimat yang tidak pernah panjang lebar tetapi hangat di sela-sela waktu. Oleh keheningan, semacam kehampaan dari sebuah desa di ujung barat di sebuah kota kabupaten paling barat Jawa Timur (posisi geografis yang dapat dipertanyakan karena navigasiku yang buruk). Yang orang-orang di dalamnya tidak pernah melihat sampul-sampul buku yang kubawa. Atau pun membacanya. Atau pun akan mengerti dan sama merasa sedihnya jika kuceritakan bahwa aku sedang tidak sanggup menulis satu esai yang cukup bagus, etos (etos?) belajar yang buruk, bacaan yang tidak bertambah-tambah, magang di koran yang rasa-rasanya cukup menakutkan, dan setiap kali menulis untuk koran, setiap kali itu pula ditolak. Dan akhirnya, oleh kesadaran bahwa mungkin saja bukan semua itu yang menyebabkan semua kekacauan di dalam ini terjadi. Mungkin saja sama sekali bukan itu.
Kemudian,
melepas cinta.
Melepas rindu.
Dan pikiran-pikiran tertentu.
Rindu yang leleh untuk sepasang orang tua dan anak kecil, lalu membuncah untuk Pagi yang ditinggalkan tiga jam perjalanan jauhnya dengan bus.
Lalu, sore. Kamis, 2 Juli.
Setelah sekian lama, kalimat-kalimat akhirnya terbentuk kembali. Sebentuk kesadaran baru perlahan muncul dari celah-celah engsel jendela, halaman buku-buku, meja tulis berdebu, kasur bantal guling, jilbab-jilbab yang tergantung…
Bahwa mungkin saja semua yang tertulis di sini terlalu berlebihan. Hal-hal seperti ini berjalan sebagaimana ia harus berjalan, sebagaimana lazimnya keadaan, warna-warna, pagi-siang-sore-malam-tengah malam-dini hari, hidup-mati. Semua pada tempatnya. Wajar saja. Tidak ada yang istimewa. Mungkin saja semua hanya karena satu hal saja: penerimaan-melepaskan.
Melepaskan hal-hal yang kusangka sanggup tidak kubawa serta: pikiran-pikiran yang hanya relevan jika  keluar di sana, bukan di sini. Dan perasaan-perasaan tertentu. Juga pertanyaan-pertanyaan. Kegelisahan-kegelisahan. Harapan. Mungkin cinta. Sedikit kerinduan. Mungkin sedikit lebih banyak. Mungkin agak sedikit sangat banyak. Mungkin sedikit lebih berarti daripada tidak pernah benar-benar berarti. Mungkin bukannya hal-hal yang tidak lazim untuk dibawa pulang.
Sore hampir tamat. Cahaya keemasan dari jendela semakin meredup. Debu-debu beterbangan, rebah di mana-mana. Di atas kasur selimut bantal guling. Di atas bolpoin. Meja tulis. Di atas Sembilan Elemen Jurnalisme. Pensil, flashdisk. Di atas tuts keyboard dan di sela-selanya. Di atas bulu-bulu boneka Winnie The Pooh.
Sebentuk ketenangan yang tidak kukenal diam-diam menyelinap, mengambil tempat di sisi-sisi udara. Terhirup, masuk ke dalam dada.

Komentar

Postingan Populer