Secuil Dapur (Koran) Tempo

Sumber: penelusuran gambar Google dengan kata kunci koran tempo
Aku mengemudikan motor pelan-pelan menyusuri Jalan Kol. Sugiono di daerah Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta. (Aku ragu apakah aku sedang melaju ke utara atau ke timur.) Di perempatan, aku berbelok ke kiri, Jalan Taman Siswa. Sambil menunggu pukul 11.00, aku memutuskan untuk membeli koran hari ini, membacanya sambil duduk nyaman di suatu tempat. Mungkin sambil sarapan.

Setelah kudapatkan koran itu dari salah satu kios, kulanjutkan perjalanan. Pikirku, aku akan ke Taman Pintar. Tetapi, ketidaktahuanku akan jalan menahanku. Maka, jadilah aku menyeberang jalan dan berhenti di depan dua warung makan yang berhimpitan, masih di Jalan Taman Siswa. Satu warung masih tampak baru saja didirikan, terlihat dari bangku-bangku dan meja yang semacam baru saja selesai dibikin, menjual soto daging sapi. Di sebelahnya, warung lotek, gado-gado, dan kupat tahu yang lebih kusam dengan MMT dibalik bertuliskan Warung Ibu Nunuk, Sedia… dengan tulisan tangan berdiri.

Aku sudah membayangkan betapa cukup nikmatnya menikmati sarapan soto daging sapi di warung pinggir jalan yang masih sepi sambil membaca koran. Tetapi, Bapak pemilik warung lotek, gado-gado, dan kupat tahu yang telah tua lebih dulu menyapaku. Karena aku pun tak melihat ada si penjual soto, maka kupesan saja lotek pada si Bapak. Aku sempat memperhatikan daftar menu yang ditulis di atas selembar sobekan buku tulis, dengan huruf kapital miring-miring, dan ditempelkan di salah satu dinding, menghadap ke jalan.

Tidak lama, satu porsi lotek racikan (tampaknya) istri si Bapak (karena ia datang ketika aku memesan dan segera pergi naik motor begitu selesai) telah tersedia di hadapanku. Aku bilang terima kasih kepada si Ibu, lalu segera saja tenggelam dalam bacaanku. Setidak-tidaknya, aku harus tahu bagaimana corak tulisan di koran ini. Begitulah. Paragraf-paragrafnya aku selipi sesuap lontong, bayam, atau kerupuk. Hmm. Jujur saja, lotek ini enak. Bapak pemilik warung duduk di kursi sebelah bangku tempat aku makan sambil tampak serius menulis sesuatu.

“Mbak, nulis sedia rak leres ngeten, to?” Bapak setengah baya yang masih tampak bugar itu menyodorkan lembar bertuliskan menu warung dengan huruf-huruf kapital miring yang sama dengan yang tertempel di dinding. Kujawab ya.

Setengah jam kemudian, kami telah terlibat dalam obrolan hangat. Meski aku lebih banyak mendengar. Mula-mula, ia bercerita bahwa tulisan menu-menu warung itu akan ia serahkan pada anaknya untuk dicetak besar-besar. Biar nama warung Ibu Nunuk tidak lagi bertulisan tangan. Kemudian, obrolan berlanjut ke perihal anak-anaknya yang telah besar, sekolah, dan menikah, mempunyai suami-suami/istri-istri yang baik dan kaya.

Si Bapak yang tidak kutahu namanya sampai pamitku itu berkisah tentang jalan jalan di Jogja tahun 80-an. Katanya, jalan jalan belum diaspal. Orang-orang masih pergi-pergi naik becak, dokar, atau mini bus. “Kalau hujan, wuah, kasihan sekali. Ada becak yang sampai terbalik.” Begitu ceritanya dalam bahasa Jawa.

Si Bapak telah mencari nafkah di jalanan selama 30 tahun dan telah berganti-ganti usaha. Dulu, berjualan bensin saja sudah laris. Begitu pula mendirikan usaha potong rambut. Ia pun pernah ditawari jadi PNS kalau punya ijazah. Tetapi, karena ia hanya sekolah sampai kelas dua saja, ia tidak pernah jadi PNS. Dulu, tamat SD saja memang sudah jadi PNS.

Tetapi, tentu saja zaman berganti. Jualan bensin di pinggir jalan tak lagi bisa menghidupi. Sekarang, yang tidak lulus sarjana harus bikin ijazah palsu biar bisa daftar tes CPNS dan menyogok sekian ratus juta biar jadi PNS. Loper koran yang biasa berjualan di kampusku pernah bilang padaku, “Saya cuma sekolah sampai STM, Mbak. Makanya sekarang jadi loper koran. Dulu, cari kerjaan gampang, sih. Sekarang kan enggak.”

Kedatangan dua orang pembeli perempuan berjilbab menghentikan obrolan kami. Karena bangku di warung itu pun cukup sempit, aku segera membayar lotek dan segelas the hangat yang telah habis, bilang terima kasih, lalu kembali melaju di jalanan, belok kanan di pertigaan, kembali ke Jalan Kol. Sugiono. Aku melanjutkan membaca koran di SPBU.

Kemudian, pukul 11.

Kantor Tempo Biro Yogyakarta dan Jawa Tengah akan disangka tidak berpenghuni kalau saja tidak ada beberapa motor yang parkir di halamannya yang sempit.  Begitu masuk, memang sepertinya rumah yang beralih fungsi menjadi kantor itu tampak tidak berpenghuni. Tidak ada suara berisik macam apa pun dari dalamnya. Kemudian, seorang perempuan berjilbab berjalan menuju padaku. “Mbak Naim ya? Dari UNS?” Aku bilang ya.

Kemudian, aku menunggu kepala biro di ruang tamu yang tirai bambunya diturunkan hampir sepenuhnya. Sofa-sofa di ruang tamu kecil itu berwarna coklat. Ada sevas bunga di atas taplak meja berwarna krem. Ada juga seorang lelaki yang tampak berwajah menunggu. Wajahnya tirus. Rasanya dia pendiam. Dan memang demikian. Namanya Paulus. Tetapi sering dipanggil Wiwid. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atmajaya, (mau) semester tujuh. Magang di Tempo juga. Katanya, dia besar di Papua meski lahir di Jogja. Tempat tinggalnya berpindah-pindah mengikuti ayahnya yang TNI.

Sebentar kemudian, Radit datang. Dia temanku satu kampus. Tinggi kurus. Bibirnya selalu kering. Dan wajahnya tampak hampir selalu lelah. Wajahnya berbintik-bintik bekas jerawat. Rambutnya keriting cenderung kribo kalau gondrong. Dia duduk di sebelahku. Kami ngobrol sebentar. Aku bertanya apakah dia jadi muter-muter sepagi tadi. Katanya jadi, buat nyari kartu Tri.

Kami bertiga tidak terlibat percakapan lebih jauh. Wiwid yang pendiam membaca koran Tempo yang diberikan Mbak Evi (yang tadi menyambutku). Radit bersua telepon pintar. Lalu, datanglah lelaki berkacamata berwajah agak bulat berkemeja coklat kekuningan itu. Dia bertanya apakah kami magang juga. Semua mengangguk. Kemudian, dia mengambil tempat di seberang meja, di sisi Wiwid. Segera saja ia asik dengan telepon pintarnya.

Tidak berapa lama, ia memperkenalkan diri. Sambil menyalami kami, dia menyebut namanya. Aji. Sebentuk tato terlihat di pergelangan tangan kanannya yang tertutup lengan kemeja panjang ketika ia mengulurkan tangan. Dia semester sepuluh di kampus yang sama dengan Wiwid. Tetapi, mereka baru kenal di sini. Obrolan berlanjut sebentar, kemudian hening.

Aji berhadapan kembali dengan gawainya. Begitu pula Wiwid. Tidak lain Radit. Aku pun. Untung di hadapanku ada Seekor Burung Kecil Biru di Naha Linda Christanty milik Radit. Sebelum kuungah fotonya di instagram, aku bertekad setidaknya telah membaca sebagian buku itu. Maka, ketika aku selesai membikin caption panjang-panjang untuk foto itu (yang kemudian terpotong begitu kuunggah), aku telah berkenalan dengan nenek Khatijah (duh, lupa mengejanya bagaimana), salah satu korban konflik Aceh saat daerah itu dijadikan Daerah Operasi Militer (DOM) pada 1998. Juga korban-korban yang lain.

Setengah jam dari 11.17,  Kepala Biro Tempo Biro Yogyakarta dan Jawa Tengah, Ali Nur Yasin akhirnya tiba. Ia menemui kami di ruang meeting besar yang terletak di dalam. Kami melewati para pegawai Tempo sedang menghapi monitor-monitor. Di lantai, sejumlah cukup besar majalah Tempo berbagai edisi berjajar. Kantor itu tidak cukup rapi.

Ruang meeting bermeja oval dan dikelilingi kursi putar berwarna biru. Di ujung ruangan, sebuah whiteboard ditempel di dinding. Di sisi whiteboard itulah, beberapa menit setelah ia duduk, memeriksa berkas magang kami, dan menanyai kami satu-satu, ia menjelaskan mekanisme magang kami di Tempo selama dua bulan ke depan.

Sebagai pendahuluan, kepala biro berbadan cukup besar, bulat, berkemeja batik dan berkacamata itu memperkenalkan Tempo. Di bawah perusahaan apa dia berdiri, serta jenis terbitannya. Aku teringat Di Balik Dapur Tempo yang belum selesai aku baca. Betapa jauh mereka hari ini dengan awal mulanya. Hari ini, Tempo adalah salah satu media massa paling dominan di Indonesia dan disebut sebagai yang paling independen. Ia pernah dibredel dua kali pada masa Soeharto karena beritanya membuat murka Sang Raja.

Kemudian, Pak Ali, begitu kami mulai memanggilnya, memperkenalkan kami pada tiga nilai-nilai Tempo: independensi, profesionalisme, dan kepentingan publik. Aku tidak tahu apakah sebenarnya ada nilai-nilai di luar itu. Selama magang, kami harus berpegang pada nilai-nilai itu. (Kurasa, tentu saja nilai-nilai jurnalistik yang lain juga, seperti misalnya yang dipaparkan di 9 Elemen Jurnalisme.)
Pendeknya, magang di Tempo, atau bagi mereka disebut job training adalah sama dengan magang menjadi calon reporter Tempo sesungguhnya. Ada nilai-nilai dan evaluasi yang akan diberikan. Ada target yang harus kami penuhi. Ada peraturan di Tempo yang harus kami patuhi. Kami harus ikut memberi usulan, mempunyai rencana berita, dan sanggup ditugaskan kemana saja dan kapan saja selama magang. Jika dalam masa awal magang ini kami dianggap tidak layak untuk magang di sini, maka kami akan dikembalikan ke kampus alias diberhentikan jadi peserta magang. Kami harus bekerja sesuai standar Tempo.

“Wartawan bukanlah profesi biasa.” Kata Pak Ali. Dia dulu redaktur di Jakarta sebelum menjadi kepala biro. “Wartawan harus mau membaca buku jenis apa saja. Apalagi kalian mahasiswa, kan? Wartawan harus aware terhadap informasi apa pun, dari mana pun. Istilahnya, ketika presiden sedang pidato di samping kalian pun, kalian itu sudah tahu apa yang mau dia omongin. Jangan jadi wartawan salon, ditanya apa-apa nggak ngerti.”

Pak Ali juga bilang, setelah magang ini, kami akan tahu apakah nanti kami mau/tidak, cocok/tidak jadi wartawan. “Kebanyakan yang sudah magang di sini bilang nggak.” Kata dia. “Jadi wartawan harus dari panggilan hati.” Begitulah yang dikatakan kepala biro yang tidak pernah bekerja selain di Tempo itu.


Lalu, dia menanyai kami satu-satu, sebelum sesi perkenalan hari ini berakhir: apakah kami (benar-benar) mau menjadi wartawan?


Yogyakarta, 27 Juli 2015

Komentar

Postingan Populer