Apologi
Aku tidak tahu mengapa
terasa begitu berat melalui hari-hari di kota ini. Pagi kuawali dengan hentakan
di dada: akan menulis apa? Kata-kata seakan kembali di luar kuasaku. Aku sama
sekali tak menguasai isu. Sore hari kuusahakan tak sendirian. Aku harus keluar
kosan. Cari pelampiasan. Ke warung makan, ke jalanan, yang biar itu-itu saja
(payahnya), yang penting tak sendirian. Yang penting bersama teman.
Akhirnya, bukan upaya
pencarian (atau pembuatan) berita yang mumpuni yang kulakukan dari hari ke hari.
Bukan upaya dengan penuh semangat dan optimisme pembangunan komunitas yang
cerdas sebagaimana surga yang diangankan Kovach dan temannya. Bahkan bukan pula
kunjungan-kunjungan tak sengaja di jalanan kota, terlibat obrolan hangat dengan
penduduknya, mencuri informasi dari warung-warung kopi, yang tak akan membuatku
bangun pagi dengan hentakan di dada: akan menulis apa?
Aku berupaya begitu
keras bertahan dari hari ke hari. Satu minggu terasa sebulan yang hampir tak
tertahankan. Kedua kaki seperti dibebani berton-ton besi. Aku tak dapat
melangkah. Tak ada gairah.
Aku tak bisa menulis.
Tak bisa baca. Sehari-hari hanya menghasilkan berita kualitas sampah yang bikin geleng-geleng kepala. “Tulisanmu ini
sampah.” Betul-betul dikatakan di hadapanku. “Kamu masih gagal soal angle.” Padahal sudah minggu kedua. “Tulisanmu
kering.” Seperti tak pernah menulis berita. Seperti tak pernah belajar 5W 1 H.
Seperti selama ini tak kuliah jurnalistik. Seperti bukan anak persma.
Tempat itu tidak
pernah terasa rumah. Tidak ada senyum hangat, sapa nama, apalagi obrolan
menyenangkan dengan penghuni-penghuni tetapnya. Cuma satu perempuan yang
barangkali sadar betul aku ada. Dengan dia aku dapat berbahasa Jawa.
Apakah penyebab semua
ini hanyalah diriku yang tak berpengetahuan dan tak menguasai isu? Tetapi
rasanya, penyebabnya melampaui semua itu… Atau jangan-jangan, aku sajalah yang
berlebihan.
Bapak bilang aku
istimewa. Ibu tak pernah bilang apa-apa. Benarkah aku tak bisa?

Waow...
BalasHapus