Asmara dan Kebangsaan
Ada
sejarah asmara yang tidak lepas dari sejarah Sumpah Pemuda. Kesetiaan berbasis
etnisitas yang senantiasa dipertahankan melalui adat istiadat beralih pada
kesetiaan berbasis kebangsaan yang modern. Kekuatan rasa persatuan berbasis kebangsaan
modern yang diciptakan pada masa itu ternyata mampu mengalahkan tidak hanya
kuasa etnis atau ras, namun juga agama. Inilah pertaruhan besar para pemuda
yang bersumpah untuk Indonesia.
Ini seperti yang terjadi pada kakek bintang
film Dian Sastrowardoyo, Sunario Sastrowardoyo (penasehat Kongres Pemuda II),
sebagaimana dikisahkan oleh Asvi Warman Adam di Tempo edisi khusus 80 tahun Sumpah Pemuda (2008: 41). Sunario yang
beragama Islam dan berasal dari Jawa Timur akhirnya menikah dengan Dina Maranta
Pantauw, perempuan Minahasa beragama Protestan yang ia temui pada saat kongres.
Ada juga kisah asmara penggerak sejarah
Sumpah Pemuda Muhammad Yamin dan Sitti Soendari. Hubungan
sejoli ini mendapat perlawanan dari keluarga Soendari. Satu alasannya: “Yamin
berasal dari seberang [atau berasal
dari suku dan adat yang berbeda]” (Tempo edisi
27 Oktober – 2 November 2008: 55). Namun, keduanya tidak ambil pusing dengan
tuntutan adat itu. Apalagi, kesetian mereka sudah beralih untuk Indonesia.
Pernikahan Yamin dan Soendari tetap terjadi dan bertahan sampai mati.
Diskursus
asmara dan kebangsaan yang dilakoni para pemuda angkatan ‘28 adalah kisah
asmara revolusioner yang hanya mungkin terjadi berkat pendidikan ala Barat.
Gagasan universalisme emansipatif humanis merembet tidak hanya dalam politik
radikal, tapi juga dalam berasmara. Sekolah modern, bacaan buku berbahasa
asing, budaya pop yang dinikmati di kota-kota, bayangan imajinasi keluarga
modern telah mengarahkan mereka meninggalkan belenggu adat.
Foto-foto
dalam buku Sumpah Pemuda: Makna dan
Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia karya Keith Foulcher (2008) misalnya,
memperlihatkan betapa Eropa busana para peserta Kongres Pemuda II. Para pemuda
tampak rapi memakai setelan kemeja, berjas, bercelana panjang, dan berdasi.
Pemudinya dengan gaun pendek serta bertopi. Sedikit sekali yang memakai pakaian
adat. Mereka menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa persatuan sebelum bahasa
Indonesia diikrarkan dan melangsungkan pertemuan di tempat-tempat bercap
modern, gedung-gedung bertitel dalam bahasa Belanda. Bukan di pinggir sawah,
pasar atau di tempat bernuansa etnis tradiosional. Modernitas tentu memukau
mereka. Semua pilihan ini berdampak pada gaya asmara, termasuk saat berkehendak
mengutarakan asmaranya. Keadaan ini semua tidak membukakan celah bagi mereka
untuk berpikir akan berasmara dalam cara adat yang banyak syarat.
Model asmara ini kita temui juga dalam
karya-karya sastra yang dapat merepresentasikan polemik asmara pada masa itu.
Misalnya dalam novel Azab dan Sengsara
karya Merari Siregar (1920) yang merekam dengan apik kekalahan kuasa etnis
sebagai penentu jalan cinta seseorang. Juga dalam novel semi-autobiografi Memang Jodoh Marah Rusli (2013) yang
menceritakan penolakan Marah atas perjodohan dirinya dengan perempuan Minangkabau
demi Rd. Ratna Kencana yang Sunda. Jangan lupakan Salah Asuhan karya Abdoel Moeis yang terbit tepat pada 1928. Dan
beberapa karya sastra sezaman yang penuh dengan pergolakan asmara. Kisah asmara
merepresentasikan semangat pluralisme emansipatif yang lebih menekankan
dimulainya pembentukan keluarga nasionalis awal.
Di
sinilah pentingnya memaknai pidato-pidato Kongres Pemuda. Dalam pidato Bahder
Djonan yang berbahasa Belanda, kita melihat gagasan reevaluasi dan reposisi
status perempuan dalam keluarga.
“…Wanita Indonesia adalah juga untuk Tanah Air dan Bangsa, … dan
sekaligus saya telah menyinggung pula pokok persoalan, ke arah mana kita harus
bergerak untuk mencapai suatu penyelesaian, yang dapat memberikan kebahagiaan
kepada negeri ini.” Dilanjutkan dengan pidato Stien Adam, “Tujuan kongres ini
adalah untuk meletakkan ikatan antara pemuda-pemuda dari berbagai suku-bangsa
Indonesia. Untuk menumbuhkan ide-persatuan para Pemuda, untuk sampai kepada
nationalisme Indonesia.” Perempuan menghendaki posisi yang setara dengan kaum
lelaki, yang juga emansipasi dalam asmara. Inilah satu prasyarat terbentuknya
kebangsaan Indonesia yang modern.

Komentar
Posting Komentar