Ironi “Mas Mbak UNS”

Ada kompetisi pemilihan duta wisata UNS berjudul “Mas Mbak UNS” yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS sejak 2014 dan diulangi lagi tahun ini.  Istilah duta wisata datang dari tujuan penyelenggaraan acara yang ditampilkan laman uns.ac.id: “memperoleh sosok generasi muda yang memiliki kepribadian, berdisiplin, mandiri, berwawasan luas dan mampu mengenal serta mempromosikan potensi UNS.” Kompetisi berbayar Rp50.000,00 ini berhadiah uang tunai, selempang, sertifikat, bunga, dan mahkota.

Kesungguhan pencarian duta wisata UNS dikukuhkan dengan syarat dan ketentuan yang mesti dipenuhi oleh mahasiswa aktif angkatan 2012 s.d. 2015 jika ingin mengikuti kompetisi bergengsi ini. Mereka harus “berpenampilan menarik dan berbakat, tinggi pria minimal 167 cm dan wanita minimal 160 cm, memiliki pengetahuan mengenai UNS,  dan memiliki pengetahuan di bidang kebudayaan terutama (budaya) Jawa, pariwisata, dan kebangsaan. (sic!)” Kita tentu memaklumi kebutuhan akan endorser wajah cantik dan tampan dalam promosi sebuah produk.

Pemilihan Duta Wisata dalam Mas Mbak UNS ini berbeda dengan kompetisi pemilihan mahasiswa serupa: Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres). Tentu saja Mawapres lebih wajar terjadi di ranah pendidikan tinggi yang penuh dengan diskusi-diskusi keilmuan dan atmosfir intelektualitas seperti yang digagas oleh Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti).
Dalam Pedoman Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Program Sarjana yang diterbitkan oleh Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti (2015), untuk hanya mengikuti kompetisi Mawapres, mahasiswa harus lolos 10 persyaratan umum dan khusus. Persyaratan itu di antaranya “memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00, karya tulis ilmiah yang ditulis dalam bahasa Indonesia baku, dan prestasi/kemampuan yang diunggulkan dilengkapi dengan dokumen pendukung sebagai bukti, dan memiliki kemampuan Bahasa Inggris dan Bahasa PBB lain.” Pelaksanaan pemilihan Mawapres ini pun berjenjang dari tingkat jurusan/departemen sampai nasional.

Mawapres terpilih di tingkat nasional tidak akan mendapatkan bunga, apalagi mahkota.  Faedah mengikuti dan menjadi mahasiswa berprestasi adalah diberi “prioritas untuk difasilitasi di berbagai program kemahasiswaan seperti beasiswa, seminar di luar negeri dan sejenis.” Meski kenyataan dalam pelaksanaannya pun perlu dikritik, tujuan pemilihan Mawapres tidak melenceng amat dari kewajiban perguruan tinggi “untuk mengembangkan budaya akademik yang dapat memfasilitasi mahasiswa mencapai prestasi yang membanggakan secara berkesinambungan”.

Kita tentu berhak mempertanyakan sertifikat “Mas Mbak UNS” dapat mengantar pemenang ke dalam acara-acara bergairah keilmuan semacam ini. Kita melihat kebutuhan UNS akan duta wisata dipandang penting oleh penyelenggara “Mas Mbak UNS” karena duta intelektual sudah terwakili lewat acara Mawapres. Maka, adalah hal yang mustahil jika di panggung final “Mas Mbak UNS” (13 November) kita menyaksikan mahasiswa yang bertinggi 150 cm, tidak berdandan, dan secara umum tidak menarik tetapi memiliki pengetahuan mumpuni sesuai jurusannya, mempunyai sederet penelitian bermutu akademik tinggi yang telah dilakukan, dan sedang terlibat penelitian penting, yang mengukuhkannya sebagai mahasiswa.

Persyaratan berpengetahuan keilmuan dan terlibat berbagai penelitian serta memiliki budaya akademik mumpuni dianggap terpisah dari sosok mahasiswa “Mas Mbak UNS”, meski memiliki tugas kedua sebagai duta wisata kampus. Penyelenggaraan “Mas Mbak UNS” juga memperlihatkan pada kita keresahan kampus UNS dalam menemukan sosok mahasiswa ideal yang mampu memperkenalkan atau mengiklankan UNS secara efektif kepada khalayak atau konsumen. Dibandingkan dengan berupaya memperbanyak hasil penelitian yang diakui atau meningkatkan kualitas dosen, representasi penampilan fisik mahasiswa lebih dianggap mumpuni. Kampus sebagai institusi pendidikan tidak dapat melepaskan diri dari tuntutan berbisnis pendidikan.

Perenungan atas kompetisi Mas Mbak UNS tentu harus sampai pada representasi mahasiswa ideal yang diinginkan oleh mahasiswa UNS secara umum dan diamini oleh kampus. Meski sangat diragukan, generalisasi ini memperoleh penguatan dari BEM UNS yang senantiasa mendaku sebagai wakil seluruh mahasiswa UNS dalam setiap kesempatan berdemonstrasi. BEM pasti menganggap bahwa mahasiswa UNS merasa lebih pas jika direpresentasikan sebagai sosok yang memiliki perhatian sungguh-sungguh pada penampilan ideal seperti yang ditunjukkan oleh syarat kompetisi dan tentu saja tidak perlu memiliki pengetahuan di luar yang disyaratkan, apalagi dibuktikan dengan IPK minimal 3,00.

Ini sangat jauh berbeda dari mahasiswa-mahasiswa di Inggris atau Amerika. Karen Armstrong dalam autobiografi Menerobos Kegelapan (2004) semasa kuliah di Universitas Oxford menghadapi “krisis esai” setiap minggu. Buku-buku dan perpustakaan yang buka 24 jam menjadi temannya yang setia. Kampus di waktu malam penuh dengan mahasiswa-mahasiswa berkejaran dengan tenggat tulisan. Tugas esai menjadi pertaruhan integritas kemahasiswaan. Dan yang tertinggi tentu saja penelitian yang bakal mengantarkan mereka mendapatkan posisi strategis dalam lembaga penelitian yang bergengsi, bukan jabatan birokratis.

Maka, jika menilik salah satu tujuan pendidikan UNS dalam Pedoman Pendidikan Universitas Sebelas Maret (2012: 17) yang menyebutkan “pendidikan akademik bertujuan menyiapkan mahasiswa untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan dan kompetensi akademik dalam menerapkan, mengembangkan, dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni, serta menyebarluaskan dan mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat…”, dapat dipastikan bahwa acara “Mas Mbak UNS” tidak pantas diselenggarakan di kampus UNS. Secara akademik, ini memalukan dan menurunkan martabat perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan yang bukan institusi penjualan pariwisata.

Dengan demikian, panitia penyelenggara dan jajaran rektorat serta dosen yang akan hadir dalam final acara “Mas Mbak UNS” secara terang-terangan menafikan visi universitas untuk “menjadi pusat pengembangan ilmu, teknologi, dan seni yang unggul di tingkat internasional dengan berlandaskan pada nilai-nilai luhur budaya nasional.” Untuk gugurnya martabat intelektualitas segenap sivitas Universitas Sebelas Maret, mengheningkan cipta, mulai…[]

Tulisan ini dimuat di Mimbar Mahasiswa Solopos edisi 10 November 2015

Komentar

Postingan Populer