Mata yang Teknologis
![]() |
| Gambar diambil dari Google pencarian gambar |
Musim
gugur 1837. Louis Jacques Mandé Daguerre ‘tidak sengaja’ berhasil menciptakan
teknologi foto komersil pertama: daguerreotype. Ilham datang dari air raksa yang
tumpah dari botol pecah di dalam lemari tua yang menyimpan piringan-piringan
iodide perak, yang semula dikiranya sudah tidak berguna. Reaksi kimia dari uap
air raksa mencuci piringan-piringan itu. Percobaan-percobaan dilakukan untuk
membuktikan teori, dan gambar pun muncul seperti sihir di piringan. Daguerre
dan putera Niepce—Nicéohire Niepce, rekan Daguerre dalam penelitian yang telah
meninggal lebih dulu setelah menyempurnakan kamera obscura fotografinya,
dianugerahi pensiun negara.
Penemuan
ini membangkitkan gairah seluruh Paris. Egon Larsen (1979c: 77) menyebut gegap
gempita yang menjalar sampai ke Amerika ini sebagai sebuah “kegilaan”: “Penduduk
Paris hampir-hampir hilang ingatannya karena antusias, seperti apa yang telah
mereka lakukan terhadap penerbangan balon pertama.” Penemuan teknologi baru seolah-olah
keajaiban yang datang dari negeri dongeng ke dunia nyata dan mengantar manusia
pada cara hidup yang berbeda dari sebelumnya. Orang-orang berbondong-bondong
ingin menjadi bagian dari kejaiban ini. “Mereka tidak keberatan duduk tidak
bergerak untuk setengah jam di bawah sinar matahari, asal saja mereka dapat
membawa pulang sebuah piringan metal kecil dengan kemiripan mereka di atasnya.”
Teknologi foto menyiratkan hasrat manusia untuk mengabadikan dirinya dalam suatu
waktu dan peristiwa.
Di
daratan Hindia Belanda yang jauh, teknologi foto pun disambut dengan suka cita
meski tanpa kemeriahan pesta. Kita menyaksikan Kartini yang terpesona oleh
teknologi ini pada awal abad ke-19. Saat itu, foto sudah dicetak di atas
lembaran kertas. Beberapa kali dalam surat yang ditulis kepada sahabat penanya,
Kartini mengemukakan kegairahannya akan foto.
“Di sini
banyak sekali tempat yang bagus. Pantai itu penuh dengan tempat-tempat yang ingin benar hendak kami “abadikan.” Tetapi ah,
potret-memotret itu adalah kegemaran yang mahal sekali.” Demikian
katanya dalam surat pada Nyonya H.G. de
Booij-Boissevain tertanggal 19 Agustus 1901. (R.A. Kartini, 2014:
160-161).
Teknologi foto telah memengaruhi Kartini dalam melihat alamnya. Kartini
melakukan pembedaan tempat-tempat yang bagus dan tidak bagus untuk dipotret dan
diabadikan.
Dalam surat lain pada Tuan E.C. Abendanon satu tahun kemudian, Kartini kembali mengangankan potret-potret yang bakal
dibuatnya: “Sayang sekali,
bahwa potret-memotret itu merupakan kegemaran yang mahal sekali. Kalau tidak,
kami ingin sekali memotret untuk membuat potret-potret yang khas dan
benar-benar Jawa.” (2014: 343). Foto-foto telah menjadi dalam benak Kartini bahkan
sebelum foto-foto itu benar-benar ada wujudnya. Mata persepsi mendahului mata
kamera.
Kita melihat bagaimana pikiran beradaptasi pada
teknologi foto, lalu mengubah fungsi mata biologis menjadi teknologis. Mata
mulai melihat dalam kerangka fotografi: objek dibedakan menjadi apa yang bagus
dan tidak bagus. Kesadaran terhadap tubuh di depan kamera mulai muncul. Mahalnya
teknologi foto waktu itu dan masih terbatasnya kegiatan berfoto untuk kalangan
priyayi tetap saja belum membikin mata dan tubuh terbiasa dengan kamera. Itulah
mengapa foto-foto Kartini yang kita lihat misalnya dalam buku Emansipasi: Surat-surat kepada
Bangsanya 1899-1904 (2014) tampak seperti manekin: berwajah datar, mata melihat
kamera seperti ia adalah makhluk asing yang disangsikan kebaikannya, juga dalam
tubuh tegap. Foto juga hanya menandai peristiwa-peristiwa besar tertentu,
seperti foto bersama keluarga, foto Kartini bersama suaminya, dan foto Kartini
bersama adik-adiknya ketika mengajar. Sebuah potret dibuat demi meninggalkan
bukti dalam sejarah. Foto selalu berkedok kepentingan lain selain berfoto. Foto
dicetak sebagai pelengkap surat yang panjang. Ini berlaku sampai beberapa
dekade kemudian.
Ketika teknologi foto semakin mutakhir dan harganya
sedikit lebih murah, foto pun mulai dirayakan di Indonesia. Perayaan terlihat
dari banyaknya studio foto yang mulai bermunculan, sampai menjadi tema
lagu-lagu. Kisah asmara lebih banyak lagi melibatkan foto. Tak hanya foto saat
pernikahan, pasangan kekasih mulai saling bertukar foto dan menyimpannya dalam
dompet atau dibingkai dalam album atau dipaku di dinding. Sayup-sayup kita mendengar
Ratih Purwasih menyanyikan Hitam Putih
Fotomu.
Hitam putih fotomu
Dalam album kenangan
Kusimpan selalu
Kukenang kembali
Kala rindu
(Hitam Putih Fotomu, Obbie Messakh)
Terdapat seribu satu macam
kecamuk ketika memandang foto kekasih: Pandangan mata, senyum yang tersungging,
gurat-gurat pada wajah, pakaian yang dikenakan membawa pikiran kembali pada
peristiwa-peristiwa tertentu. Lebih lama sang kekasih-beku dipandang, pikiran
mengarahkan ingatan pada kata-kata manis dirinya. Sebuah potret menguarkan
segenap kenangan, melahirkan rindu menderu. Ia mengandung banyak makna dan
peristiwa yang bahkan tidak ikut terpotret dan tercetak. Maka, jika cinta telah
padam dan beralih benci-dendam, sang kekasih-beku itu pun remuk menjadi
potongan-potongan kertas kecil, tak berdaya dihajar sang tangan. Penghancuran
foto diharapkan dapat menghilangkan pula kenangan manis yang ternoda
perselingkuhan sang kekasih yang baru saja disaksikan di depan mata.
Kita melihat drama yang melibatkan foto pada masa remaja bapak ibu kita pada tahun 80
atau 90-an awal. Foto-foto sudah
demikian berwarna-warni. Ekspresi wajah pada kamera sudah seperti kepada
seorang teman pada sebagian besar orang: mata bersinar antusias, tulang pipi
terangkat ke atas, sebentuk senyum mengulas. Ada pula yang terlihat giginya,
meski malu-malu. Kita tak lagi melihat sebentuk patung manekin kaku. Yang ada
adalah sebuah tubuh berteman kamera: tangan sesekali di pinggang, jari telunjuk
dan jari tengah diacungkan sementara yang lain ditekuk. Terkadang mata ditutupi
oleh kacamata hitam. Mata yang teknologis menambahkan satu lagi mode
fotografis: ekspresi wajah, gaya tubuh. Meski demikian, berfoto masih merupakan
hal yang mewah dan istimewa. Tetap hanya peristiwa tertentu yang layak dipotret
dan diabadikan. Tubuh-tubuh masih canggung dan malu-malu berhadapan dengan
foto, meski gairah nyata adanya sebagaimana dulu ia pertama kali diperlihatkan
pada dunia.
Pengalaman dengan
foto seperti itu kini telah usang. Generasi hari ini telah memasuki era
demokratisasi foto sejak kamera telah terpasang sebagai pelengkap gawai dan
internet menjadi konsumsi sehari-hari. Teknologi foto berada dalam genggaman
tangan setiap orang yang memiliki telepon pintar. Foto tidak harus menunggu
beberapa jam untuk disaksikan dan dinikmati. Kapan, di mana, dan bersama siapa
pun adalah peristiwa berfoto. Sendiri atau bersama orang lain adalah peristiwa
fotografis. Berfoto adalah kegiatan pengisi waktu luang, penghilang kesepian,
pembunuh waktu saat menunggu. Peristiwa
ini semakin mendapat pengesahan dengan adanya
media sosial berbasis fotografi, instagram. Foto-foto yang dahulu menempati dinding-dinding rumah dan album kenangan
berpindah ke dinding-dinding maya. Saksi
foto tak hanya tamu yang datang ke rumah melainkan mata mata di seluruh jagad
maya. Foto-foto di mana dan kapan saja memenuhi garis-waktu. Berswafoto atau
difotokan, dalam peristiwa macam-macam: makan, bangun tidur, belanja, bermain
bersama teman-teman, peristiwa keseharian yang dulu tidak akan memasuki benak
untuk diabadikan.
Tubuh-tubuh dalam instagram kini menatap kamera
sebagaimana menatap sahabat terbaik. Mata-mata bersinar bahagia, ada juga yang
memalingkan muka, bahkan terpejam mesra. Bibir-bibir tersenyum hangat, tak malu
lagi menampilkan baris-baris gigi. Ada juga yang sengaja cemberut, monyong, dan
seolah-olah sedang mencium. Tubuh jauh dari seonggok patung manekin
kaku-membosankan. Tangan-tangan telah diajari berkawan dengan kamera: melambai,
jari telunjuk dan jari tengah yang mengacung berada pada posisi menyamping di
atas kepala, berkacak pinggang, anggun menenteng tas… Kaki pun saling silang
dan tumpang tindih sedemikian rupa.
Mata yang teknologis
lagi-lagi mengadakan penyesuaian: tidak hanya ekspresi wajah dan pose tubuh
yang sempurna, ia juga akan melihat tempat mana yang patut untuk dijadikan
latar belakang, dari mana tubuh akan tampil indah maksimal ketika dipotret (angle). Kini kesadaran terhadap tubuh
dalam bingkai foto berada pada tingkat yang sepenuhnya. Pikiran akan
mengarahkan tubuh untuk menuju tempat-tempat tertentu, memakai pakaian yang sesuai,
menambahkan aksesoris pelengkap, dan dipungkasi dengan pose meyakinkan.
Instagram tidak hanya menjelmakan mata sebagai mata pembuat
foto, tetapi juga pengedit, dan akhirnya penikmat foto. Mata pengedit
memanfaatkan layanan pengedit foto sebelum diunggah agar tubuh tampil lebih
pantas dan mengundang banyak jari menekan lambang “cinta”. Mata penikmat foto
memberi pengalaman waktu-waktu yang tepat untuk mengunggah sehingga foto
mendapatkan banyak “cinta”.
Teknologi foto masa kini
membentuk cara kita berpikir, konsepsi serta persepsi kita mengenai foto. Foto tidak lagi menyimpan rentetan peristiwa dan kata-kata. Berfoto itulah peristiwanya.[]


Esaimu makin matang. Aku (mulai) suka. Teruskan... :)
BalasHapusWaaa Mas Naufil! Makasih Mas! :D
Hapus