Pohon dan Wisuda
Pohon didaulat menjadi salah satu tokoh utama dalam sejarah kampus
Indonesia. Ini dibuktikan dengan peristiwa berjudul “Satu Mahasiswa Lima Pohon”
yang terjadi di UNS (Solopos, 25
Februari 2016). Calon wisudawan-wisudawati diminta merawat lima pohon dan
menulis laporan berkala agar terang jalan menuju wisuda (Kompas, 25 Februari 2016). Demikianlah calon wisudawan-wisudawati
boleh mengadakan perkara serius dengan pohon sekali lagi.
Kenangan tentang pohon melesatkan diri ke lanskap hutan-hutan hijau
lebat menyejukkan, seketika mengajak pikiran untuk menggunakan mata ekologis.
Pohon berprofesi paling mulia menjaga kelangsungan hidup sekalian makhluk bumi.
Penyedia udara, pengurai polusi. Kenangan segera diburamkan oleh pembunuhan
besar-besaran terhadap pohon yang terjadi di berbagai belahan bumi. Pembunuhan
berdalih pertumbuhan ekonomi. Maka, selain bernostalgia dengan wajah ganteng
Leonardo DiCaprio, bolehlah kita mendengarkan dengan takzim pidato
kemenangannya di penghargaan film bergengsi Academy
Awards 2016. “Perubahan iklim nyata dan sedang terjadi. Jangan sia-siakan
bumi [dengan menebangi pohon-pohon]” (Solopos,
1 Maret 2016).
Keluar dari hutan, pohon-pohon mengajak kita menyaksikan desa-desa dan
tata kota. Pohon-pohon mendefinisikan desa. Buku Bertamasya
ke Hutan Gede Begug Mahardika mengisahkan, anak-anak telah menanti-nanti
saat pergi berlibur ke desa Kembang Sari. Desa ini masih menyatu dengan alam
yang masih utuh (2007:11). Desa dan pohon adalah persenyawaan tak terpisahkan.
Di kota-kota mutakhir, rumah-rumah yang berhimpitan tidak menyisakan
ruang untuk tumbuh pohon-pohon. Pohon hanya punya hak hidup di tempat yang
telah ditentukan. Pohon-pohon mesti berbaris rapi di pinggir-pinggir atau
tengah jalan. Pun tak sembarang pohon boleh tumbuh di sana. Dahan dan ranting
yang bandel mesti dipatuhkan. Pohon-pohon hidup sejahtera di sudut-sudut
berlabel ruang terbuka hijau, hutan kota, atau taman kota. Pohon-pohon di sini
mestilah tahu aturan juga. Tumbuhnya wajib memenuhi kaidah arsitektur berbasis
kota hijau. Belum lagi di musim hujan, pohon di kota sering dianggap berdosa
jika dirinya ambruk menimpa rumah-rumah, menghalangi jalan, memutus aliran
listrik, apalagi jika sampai membunuh manusia. Pohon-pohon di kota: dipuja dan
dicela.
Sayup-sayup, kenangan berpohon menajamkan telinga pada bising mesin penyulap
pohon menjadi lembar-lembar pipih kertas. Pohon-pohon berganti nama Sinar Dunia, Kiky, PaperOne, Humble, ARTeMEDIA,
…. dan seterusnya. Lalu pohon-pohon bergerak ke pecetakan-percetakan.
Pohon-pohon menjelma buku-buku. Pohon-pohon tidak menangis karena tugas
mulia mengarsipkan, menggandakan, mengabarkan gagasan, bermisi mencerdaskan
pikiran. Pohon-pohon tumbuh berjejalan dari toko-toko buku, rak-rak buku
keluarga, dari kasur, toilet, kios koran dan majalah, toko buku bekas, dari
halte bis, stasiun, kantor, perpustakaan-perpustakaan sekolah-sekolah dan kampus-kampus,
lorong-lorong kelas, dari ransel-ransel mahasiswa UNS.
Akhirnya, kenangan akan pohon tidak bisa dicegah harus sampai kepada
kenangan berbuku. Calon wisudawan-wisudawati UNS boleh terangsang untuk melihat
pohon-pohon di kampus UNS sebagai pohon berdaun buku-buku. Merawat lima pohon
sebelum wisuda dan melihat pohon di kiri-kanan jalan kampus UNS, calon
wisudawan-wisudawati teringat kepada pengalaman berbuku sejak mulai berlabel
mahasiswa.
Membaca buku-buku yang ditumpuk setinggi satu meter demi mahakarya
skripsi adalah pengalaman berpohon. Mahasiswa akhir merasakan sejuk bagai di
bawah naungan pokok rindang ketika berhasil mengenali aroma lembar-lembar buku,
lawas atau baru, membayangkan apa yang bakal dia temui di dalam rimba
buku-buku. Keduanya sama, rimba buku dan hutan: mendebarkan, membisikkan aroma
petualangan menggelegak, menjanjikan keseruan tiada terperi, mengajak diri
untuk lekas melangkahkan kaki ke dalam haribaannya.
Ketika sampai pada kedalaman rimba buku, mata pikiran dibuat terpesona
oleh tunas-tunas, pohon, dahan, daun, dan ranting, serta bunga-bunga gagasan
penulis-penulis. Polemik, ironi, tragedi, sejarah, dan seterusnya disaksikan di
depan mata, saling bertaut dan berkelindan menggetarkan dada. Tubuh terlena
oleh keindahan kata-kata dan pengetahuan yang belum pernah dijumpa sebelumnya. Pergumulan
dengan pohon-pohon semasa perkuliahan dan apalagi saat berkasih-kasihan dengan
skripsi mengukuhkan martabat diri sebagai penyandang mahasiswa.
Peristiwa “Satu Mahasiswa Lima Pohon” kita sadari memiliki rentetan
peristiwa penting bagi mahasiswa yang memiliki kepekaan terhadap manusia yang
lain dan alam tempat hidupnya. Ketika tangan mahasiswa menanam pohon wisuda
pertama, telinga seakan mendengar bisikan lembut lewat desauan angin: “Siapa
yang pernah menanam pohon akan tahu bahwa yang tumbuh bukan hanya sebatang
dalam ruang, tapi juga sebentuk tanda dalam waktu.” (Mohamad, 2007: 103)

Komentar
Posting Komentar