Asmara dalam Sengketa Keberagama(a)n
Perempuan itu menggugat perbedaan mereka: “Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda, kalo Allah cuma pengin disembah dengan satu cara?” Dan jawaban yang diterimanya adalah cinta. “Makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu.” Agama mengajarkan manusia akan cinta. Tapi cinta yang tumbuh di antara dua insan dengan latar keyakinan yang berbeda pada akhirnya hanya menyisakan dua pilihan: yang terkasih atau Tuhan?
Kisah asmara Annisa (Saira Jihan), seorang perempuan Jawa yang beragama Islam dengan Cina (Sunny Soon), lelaki Minang-Kristen terangkum dalam film cin(T)a (2009) besutan Sammaria Simanjuntak. Ini adalah film kedua yang muncul dengan latar perbedaan keyakinan setelah rilisnya Ayat-Ayat Cinta (2008) yang disutradarai Hanung Bramantyo. Setelah cin(T)a, muncul film-film bertema serupa di kancah sinema Indonesia.
Sengketa Asmara
Dunia perfilman Indonesia menemui babak baru pasca ambruknya rezim Orde Baru. Dibukanya kran kebebasan oleh B.J. Habibie melalui pembubaran Departemen Penerangan berdampak pada berubahnya kelembagaan dan substansi film-film Indonesia. Film-film indie yang mengangkat tema-tema pembelaan kelompok sublatern dan subkultur yang selama ini terpinggirkan dari wacana dominan film-film mayor berkembang pesat. Munculnya film Ada Apa dengan Cinta? (2002, Rudi Soedjarwo) menjadi penanda lugas akan kebaruan gagasan yang diusung oleh semangat film-film indie ini.
Bermula dari Ada Apa dengan Cinta?, sengketa asmara dalam pertalian kasih dua manusia pun disajikan dalam berbagai bentuk dan cara: kisah sejoli yang sama-sama cuek, Tita (Shandy Aulia) dan Adit (Samuel Rizal) yang baru merasakan rindu setelah terpisah oleh jarak dan waktu dalam Eiffel, I’m In Love (2003, Nasri Cheppy); hubungan sejenis antara Nino (Surya Saputra) dan Sakti (Tora Sudiro) dalam Arisan! (2003, Nia Dinata); persahabatan jadi cinta dalam Heart (2006, Hanny R. Saputra); kisah dua perempuan yang bersengketa dengan usia dan cinta dalam Claudia | Jasmine (2008, Awi Suryadi); dan jodoh yang akan datang pada waktunya asal diri mampu terus meluruskan hati hanya pada Ilahi dalam Ketika Cinta Bertasbih (2009, Chaerul Umam).
Keberagaman jalinan asmara dalam keberagaman sengketa pun ditampilkan melalui film-film berlatar sensitif: percintaan dalam perbedaan etnis dalam film May (2008, Viva Westi); kisah kasih dua insan dalam perbedaan keyakinan seperti dalam Cin(T)a, menyusul kemudian 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta (2010, Benni Setiawan), “?” Tanda Tanya (2011, Hanung Bramantyo), dan Cinta Tapi Beda (2012, Hanung Bramantyo & Hestu Saputra) yang menuai berbagai kontroversi karena dianggap telah memarginalkan suku Minang (Republika Online, 7 Januari 2013).
Tidak bisa tidak, film pada akhirnya mempunyai andil dalam membuka khasanah pemikiran para pecinta dalam menentukan pilihan asmara mereka, terlebih bila mereka kadung jatuh pada kisah asmara berbeda agama. Meski tak selamanya dianggap benar dalam pandangan semua golongan pecinta, film-film ini setidak-tidaknya jelas membawa pesan perdamaian demi keharmonian dalam bermacam perbedaan.
Keberagama(a)n dalam Realita
Dari tahun ke tahun, film-film berbagai genre dengan berbagai tema selalu muncul mewakili keadaan zamannya. Meski tidak seperti media massa yang lain, film tidak dipungkiri juga menjadi salah satu media propaganda yang ampuh. Isu-isu sosial, budaya, dan stereotip yang berkembang di masyarakat menjadi tema-tema yang diadaptasi ke layar lebar. Berbagai hal tabu mulai diangkat ke permukaan agar menjadi wacana dan dapat didiskusikan secara terbuka: orientasi seksual, sengketa asmara dalam keberagaman keyakinan, sejarah-sejarah berdarah yang barangkali menjadi momok tak berkesudahan.
Dengan demikian, pembuatan film-film bernuansa keberagaman ini jelas merepresentasikan masalah serius yang sesungguhnya tengah dihadapi oleh segenap masyarakat negeri ini: isu kerukunan dalam kehidupan keberagaman dan keberagamaan yang semakin hari semakin memprihatinkan.
SETARA Institute melaporkan, sepanjang tahun 2015 terjadi 196 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan dengan 236 bentuk tindakan yang tersebar di seluruh Indonesia. Angka ini mengalami kenaikan cukup serius dibanding tahun lalu. Peristiwa pelanggaran tahun 2014 hanya terjadi sebanyak 134 dengan 177 tindakan. Tiga daerah paling banyak terjadi pelanggaran ada di Jawa Barat (44 kasus), Aceh (34 kasus), dan Jawa Timur (22 kasus).
Yang cukup menyedihkan, dari 236 tindakan sepanjang 2015, pelanggaran paling banyak dilakukan oleh pemerintah kabupaten dan kota dengan 31 kasus. Kepolisian menempati posisi kedua dengan 16 kasus dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sebanyak 15 kasus. Laporan ini menunjukkan sikap intoleransi di Indonesia semakin meningkat.
Kita juga masih ingat penutupan kembali masjid ahmadiyah oleh Pemkot Bekasi (merdeka.com, 16/5/2014), penyerangan terhadap sejumlah warga Katolik yang sedang beribadah Rosario di Sleman (tempo.co 30/5/2014), meruapnya paham radikalisme, pelarangan pemutaran film Senyap (2014) diikuti Pulau Buru Tanah Air Beta (2016), juga konflik seputar isu LGBT baru-baru ini. Absennya negara dalam mencegah potensi konflik pun semakin memperlihatkan toleransi terhadap intoleransi di negara yang berasas bhinneka tunggal ika ini.
Cinta dari Cin(T)a
Hari ini, di antara sedikit film-film yang berani menelanjangi masalah sosio-kultural di Indonesia dan bertarung melawan kuasa kapitalisme, Cin(T)a hadir sebagai salah satu bentuk wacana kritis bagi seluruh elemen masyarakat dengan isu pluralitas yang ia bawa. Film-film bertema serupa yang terus diproduksi sejak 2008 ingin mengatakan satu hal: selalu terdapat korelasi yang kuat antara cinta dan perbedaan.
Cinta selalu berdiri di atas segalanya. Ia menyatukan. Ia menyembuhkan. Ia meleburkan segala perbedaan. Ia pembawa damai, asal sang pecinta mempunyai cukup cinta untuk dibagikan kepada sesamanya. “Cinta itu kudus dan syahdu. Penderitaan dan kesulitan yang dia alami kurasakan sebagai penderitaan dan kesulitanku sendiri,” kata Wahib (2013: 324).
Annisa dan Cina akhirnya berpisah dan memilih untuk tetap berbeda, tetap dengan cinta. Tetapi, cinta dari Cin(T)a sama sekali jauh dari cukup bagi bangsa ini untuk menyembuhkan alergi beda.
“Hai, Tuhan!” lelaki itu riang menyapa-Nya. Perempuan yang duduk di sampingnya memperlihatkan senyum yang sama. “Allah, aku yakin Kau udah nyediain jodoh yang terbaik buat Cina. Tapi kita masih saling sayang. Nggak dosa, kan?”[]
(Tulisan dimuat di Tribun Jateng edisi 23 April 2016)

Komentar
Posting Komentar