Anak-Anak dan Perang


Zlata, manusia kecil berusia 11 tahun, pada musim panas 1991 sedang berada di masa kanak-kanak yang manusiawi di Sarajevo. Buku hariannya bertabur coklat, buku-buku, desau angin yang memainkan anak-anak rambut di Crnotina, kicauan burung-burung, terik matahari, merdu suara piano yang dia mainkan, butiran-butiran salju dari Jahorina (salah satu gunung di Sarajevo) saat akhir pekan, kehangatan keluarga dan kawan-kawan, nilai-nilai sekolah yang memuaskan, pesta ulang tahun, dan tentu saja MTV.

Kehidupan berjalan seperti biasa sampai serentetan tembakan menyerbu orang-orang yang melewati jembatan Vrbanja dan perang pecah di bekas Yugoslavia itu. Tragisme perang pun dengan ganas menyerbu buku harian Zlata Filipovic. Buku harian segera dipenuhi darah, hujan mortir, rentetan tembakan, bom, orang-orang tewas, kaca-kaca jendela yang pecah, gedung-gedung ambruk, dan sebuah kota yang sekarat. Sarajevo yang sekarat!

Kehidupan pun berubah seperti film hitam putih yang bagaimana pun berusaha ditampilkan indah, tetap saja tampil buram dan menyedihkan. Zlata dan beribu anak-anak korban perang lain mesti berdamai dengan hari-hari sangat minim makanan, air, gas, dan listrik. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk pergi ke ruang bawah tanah dibanding ke sekolah.

O, dan masa kanak-kanak yang meriah itu, di manakah ia gerangan? Zlata menangisi hilangnya masa kanak-kanaknya. “Tak ada lagi suara ribut anak-anak, tak ada lagi permainan. Bahkan tak ada lagi anak-anak yang seperti anak-anak. Masa kanak-kanaknya telah direnggut.” Dalam ketakutan, kesedihan, amarah, dan ketidakmengertian, ia terus menulis dan menjadi saksi dari sesuatu yang sulit dijelaskan segala halnya: PERANG.

Buku harian Zlata Filipovic yang terhimpun dalam judul Di Antara Reruntuhan Sarajevo (BIGRAF Publishing, 1994) menjadi gema lirih segala bentuk kepiluan akibat peperangan. Kita tidak saja dipaksa melihat masa kanak-kanak yang dengan bengis direnggut dari pemiliknya, tapi juga koyaknya sebuah peradaban manusia. Betapa manusia sanggup kehilangan kemanusiaan begitu rupa dengan membunuhi sesamanya.

Zlata mengingatkan bagaimana anak-anak menghadapi kekejaman Nazi dalam Catatan Harian Anne Frank. Kita menyksikan bagaimana anak-anak bertumbuh di ruangan sempit terbatasi, menghadapi ketakutan dan ancaman pembunuhan, kesalahpahaman, juga kebosanan yang sangat. Anne tidak seberuntung Zlata yang masih dapat menarikan jarinya di atas tuts piano sekali waktu. Anne harus hidup dalam kesunyian, bahkan barangkali ia juga memastikan suara napasnya tak terdengar oleh siapa pun. Kita tahu, anak itu, Anne tewas di kamp konsentrasi Bergen-Belsen tiga bulan menjelang ulang tahunnya ke-16. Anak-anak adalah korban perang yang paling menyedihkan. Selama ini anak-anak selalu menjadi entitas yang dianggap berharga. Kalau mungkin, ia mesti menjalani masa kanak-kanak yang normal, jauh dari hal-hal yang belum waktunya ia dengar, ia alami, semisal perang.

Berbagai tragisme berdarah seringkali melupakan anak-anak. Anak-anak tak dianggap memiliki kesadaran akan apa yang terjadi di sekitar mereka. Padahal, tentu saja anak-anak tidak bisu dan tuli. Mereka tidak tidak sanggup merasakan kejahatan perang yang ditimpakan padanya meski seringkali mereka belum memiliki bahasa dan kata-kata selain air mata dan rupa kesedihan. Mereka memiliki suara. Meski, gugatan anak-anak sering dianggap tak cukup berharga untuk didengarkan dalam gempita peperangan yang sadis.


Sampai hari ini, kita masih menyaksikan kisah anak-anak dalam sadisme peperangan. Bagaimana pun, betapa pun hancur masa kanak-kanak yang telah direnggut dari mereka, perang turut serta menumbuhkan anak-anak. Kegigihan Zlata untuk hidup dan keberhasilannya keluar dari Sarajevo bersama keluarganya mengingatkan kita pada Malala Yousafzhai. Dan kita tahu, betapa pun lemah dan tak sanggup menghentikan perang, suara perlawanan anak-anak akan kekejian perang bakal terus menggema.[]

Komentar

Postingan Populer