Bunga-Bunga Mekar di Kebun
Orang-orang
sering memulangkan sekian kejutan dan keajaiban yang dialami di hidup pada
keluarga. Kita mendapati para penulis, penyair, aktor-aktris, penyanyi,
pemusik, ilustrator, akuntan, pembuat film, dan penggarap skripsi mempersembahkan
karya mereka pertama-tama untuk nama-nama samar yang selalu ada—keluarga.
Betapa pun jalan yang ditempuhi terkadang tidak mudah mendapat restu, keluarga
selalu bisa menjadi mercusuar, penunjuk arah dan pemberi kesembuhan saat raga
dan jiwa mulai kelelahan di tengah jalan.
Keluarga
menjadi dalih utama manusia untuk bergegas sepenuh daya mencapai rupa-rupa
cita-cita—untuk membahagiakan keluarga, keduaorangtua. Ia adalah kisah tak
habis diuraikan dalam intrik politik, ekonomi, sosial, dan budaya di penulisan
novel-novel, esai, gubahan lagu, atau pembuatan film.
Keluarga-keluarga Jepang tahun 1928 sampai tahun 50-an
dikisahkan Sakae Tsuboi dalam 12 Pasang
Mata (Gramedia, 2016) lewat keseharian penduduk desa Tanjung dan desa Pohon Pinus. Pembaca
berkenalan dengan 12 murid Ibu Guru Oishi dengan kerumitan keluarga
masing-masing: Kotsuru Kabe anak perempuan seorang pengantar barang, Masuno
Kagawa anak pemilik restoran yang pandai menyanyi, Kotoe Katagiri anak
perempuan seorang nelayan, Matsue Kawamoto anak tukang kayu, Fujiko Kinoshita
anak seorang bangsawan, Misako Nishiguchi anak perempuan keluarga kaya, Sanae
Yamaishi, Nita Aizawa, Kichiji Tokuda, Isokichi Okada anak lelaki seorang
penjual tahu, Tadashi Morioka anak lelaki Ketua Nelayan, dan Takeichi Takeshita
anak seorang pedagang beras.
Di antara kelindan suka cita bersekolah, menyanyikan Tukang Cukur yang Ceroboh, anak-anak tetap
saja kalah dan menyerah pada tanggung jawab keluarga yang mesti mereka emban.
Di keluarga yang serba apa adanya, Kotoe yang enam bersaudara mesti ikut
mengasuh adiknya sepulang sekolah sementara ayah ibunya melaut. Ia mesti
merelakan sekolahnya usai di kelas enam. Katanya dalam nada penerimaan pada Ibu
Guru Oishi, “Tahun depan, adik saya Toshie akan masuk ke sekolah utama. Kalau
saya masuk sekolah lanjutan di sini, siapa yang akan memasak makan malam di
rumah? Lain kali saya yang mesti memasak” (hal. 153). Nasib dan hidup anak
mulanya bergantung dan ditetapkan oleh keluarga, dan kelak saat dewasa, mereka
hidup dengan cita-cita membangun sebuah keluarga bahagia. Anak-anak desa itu
telah lama berterima dengan nasib keluarga mereka tetapi tetap mampu menemukan
setitik dua titik kebahagiaan di sana.
Keluarga menjadi saksi paling menyedihkan atas kejahatan
perang. Di buku, pembaca membaca narasi menyedihkan terburainya keluarga-keluarga
Jepang sebab anak lelaki dan suami yang pergi berperang. Masa itu, “punya anak
lelaki membuat orangtua jadi cemas” (hal. 180). Para ibu dibuat menderita
menyaksikan anak-anak lelaki berbangga diri akan menjadi tentara dan mati
perkasa di medan perang. Udara jahat peperangan masuk ke dalam rumah, memenuhi
imajinasi anak-anak akan keluhuran menjadi tentara dan ikut membela negara di
medan laga. Keluarga-keluarga senantiasa dihinggapi perasaan was-was jika anak
lelaki, suami, atau ayah pulang dalam bentuk medali-medali kecil—bukti
kepahlawanan mereka yang telah gugur—dan terpajang di gerbang-gerbang rumah.
Saat itu, “perasaan jutaan ibu ibarat dilemparkan begitu saja ke tong sampah
untuk dibakar, seolah-olah semua itu tidak berguna.” (187)
Tsuboi mengisahkan luka-luka keluarga itu sampai ke kebun
rumah-rumah. Ibu Guru Oishi yang telah kehilangan suami dan Ibu lantaran perang
mesti pula kehilangan anak ketiga, perempuan cilik Yatsue. Ia terkena radang
usus karena makan buah-buah kesemek yang belum matang. Saat ingin
mempersembahkan bunga-bunga untuk adiknya, kedua kakak Yatsue, Daikichi dan
Namiki tak bisa lagi memetik bunga di kebun. “Kedua anak lelaki itu mendengar
bahwa dulu sekali, kebun mereka sarat ditumbuhi bunga. Tetapi seingat mereka,
selama ini hanya ada lobak dan labu di kebun. Bahkan labu-labu itu ditanam juga
di sepetak kecil tanah di bawah kasau-kasau, dan sulur-sulurnya menjalar sampai
ke atap” (hal. 208). Kekurangan makanan melanda di mana-mana. Bunga-bunga pun
tak lagi diperkenankan bertumbuh di kebun. Daikichi dan Namiki memetik
bunga-bunga liar di pemakaman untuk adiknya.
Di sepanjang buku, pembaca menjumpai nestapa
keluarga-keluarga dalam gaya bahasa perlahan dan memukau khas Jepang. Melalui
perjalanan hidup tokoh-tokohnya, Tsuboi mampu memukau dan merasai derita
keluarga akibat kekejaman perang meski pembaca belum sempat mengenal kedua
belas murid dengan intim pada bagian-bagian awal. Tahun-tahun berlalu cepat
dalam buku. Kita mengingat masa pendudukan Jepang yang menorehkan luka yang
sama perih di keluarga-keluarga Indonesia. Namun, di mana pun, pada keluargalah
jejak paling jelas, bahagia tiada tara atau luka paling dalam ditorehkan atas
ambisi-ambisi manusia di muka dunia.[]


Komentar
Posting Komentar